BERBAGI
zusterschool malang tempo dulu
zusterschool malang tempo dulu

Kawasan Celaket, Kota Malang bisa dibilang sebuah perwujudan Kerajaan Belanda di Malang ketika mereka menduduki Indonesia. Tak heran jika di kawasan ini terdapat banyak jalan yang pada awal pembangunannya diberi nama para anggota kerajaan.

Malang menjadi Gemeente (Pemerintah Kota) pada tahun 1914. Pemerintah setempat merencanakan pembangunan daerah atau yang lebih tenar dengan sebutan Bouwplan. Rencana ini sebagai upaya untuk mencegah pemekaran wilayah kota yang terancam memanjang membentang dari selatan ke utara.

Dalam kurun waktu dua tahun sejak Malang lahir, pemerintah lebih banyak meningkatkan sarana dan prasarana kota, seperti penyediaan air bersih dan listrik untuk warga sejak 1 Agustus 1915. Pada 1 Desember 1915 juga dibuka Javasche Bank, bank pertama dan satu-satunya di Malang, yang terletak di sebelah utara alun-alun. Dibukanya sebuah hotel besar di sebelah tenggara alun-alun sebagai pengganti Hotel Jansen & Jensen di tahun yang sama bernama Palace Hotel (sekarang Hotel Pelangi) juga menambah semarak suasana di sekitar alun-alun sebagai pusat Kota Malang.

Bouplan sendiri diputuskan oleh rapat Dewan Kota (Gemeenterad) pada 13 April 1916. Kawasan yang pertama dibangun dalam Bouwplan I adalah kawasan Celaket. Upaya pemerintah ini didukung dengan didirikannya perusahaan pertanahan yang bertugas membebaskan tanah milik pribumi untuk kemudian dibangun sesuai dengan rencana pemerintah.

Pengembangan wilayah kota di kawasan Celaket ini dimulai sejak 18 Mei 1917, dengan luas areal 12.939 meter persegi. Proyek pertama yang dibangun adalah membuat daerah perumahan baru yang dinamakan daerah Oranjebuurt (daerah Oranje). Kawasan ini diperuntukkan bagi warga pendatang golongan Eropa.

Uniknya, nama jalan-jalan di kawasan ini menggunakan nama-nama anggota keluarga Kerajaan Belanda. Konon, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan pemerintah setempat kepada anggota kerajaan sebagai pemimpin mereka. Sebut saja Wilhelmina straat (sekarang Jalan Dokter Cipto), Juliana straat (sekarang Jalan RA Kartini), Emma straat (sekarang Jalan Dokter Sutomo), Willem straat (sekarang Jalan Diponegoro), Maurits straat (sekarang Jalan MH Thamrin), dan Sophia straat (sekarang Jalan Cokroaminoto).

Pada zaman itu, Celaket merupakan kawasan yang sangat strategis lantaran berada di jalan utama yang menghubungkan antara Kota Malang dan Kota Surabaya. Tak heran jika pertumbuhan penduduk di kawasan ini sangat cepat. Para pendatang golongan Eropa pun mendominasi kawasan ini.

Di kawasan Celaket ini terdapat banyak peninggalan berupa bangunan bersejarah dengan arsitektur yang memiliki ciri khas Eropa kuno. Bangunan kolonial itu di antaranya adalah gedung Rumah Sakit Celaket (sekarang RSUD Saiful Anwar), gedung PLN, Toko Semarang (Avian), Benteng Logi, dan jam penunjuk arah yang terdapat di daerah ini. Ada juga gedung sekolah Zusterschool dan Frateran School di Jalan Raya Celaket (sekarang Jalan Jaksa Agung Suprapto), karema dalam perencanaan tata kota Malang di era kolonial, Kawasan Celaket ini merupakan kawasan yang menjadi pusat pendidikan.

Seiring berjalannya waktu kawasan ini berkembang menjadi pusat pendidikan. Bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda tersebut sebagian terawat dengan baik. Namun, tak jarang sebagian bangunan lainnya sudah tidak terlihat bentuk kolonialnya lantaran tergerus oleh zaman, bahkan beralih fungsi.