BERBAGI
makam dan monumen pahlawan trip malang
Makam dan Monumen Pahlawan TRIP Malang (C) MERDEKA.COM

Jalan Pahlawan TRIP Kota Malang bisa dibilang istimewa. Meski berada di antara kepungan ruas jalan yang memakai nama gunung di Indonesia, jalan yang merupakan percabangan dari Jalan Besar Ijen ini memiliki nama yang berbeda. Sebab, Jalan Pahlawan TRIP ini menyimpan cerita bersejarah pertempuran di zaman mempertahankan kemerdekaan NKRI dari usikan penjajah Belanda.

Selain terkenal dengan nama Jalan Pahlawan TRIP, jalan bersejarah ini memiliki sebutan lain, yakni Jalan “Mas” TRIP. Disebut demikian, lantaran istilah “Mas” pada penyebutan itu dinilai cocok untuk sapaan bagi para pemuda laki-laki asal Jawa Timur. Mereka terlalu muda untuk dipanggil “Pak”, namun terlalu dewasa untuk dipanggil “Dik”.

Kawasan ini pada zaman pendudukan kolonial Belanda bernama Jalan Salak, sesuai dengan nama gunung yang ada di Jawa Barat. Penamaan tersebut tak mengherankan, lantaran di sekitarnya juga terdapat nama-nama jalan dengan nama gunung lainnya seperti Jalan Semeru, Jalan Kawi, Jalan Bromo, Jalan Panderman, Jalan Gede, Jalan Retawu dan sebagainya. Kawasan ini dulunya memang menjadi daerah pemukiman elit bagi para pengusaha Belanda.

Di Jalan ini dibangun Taman Makam Pahlawan TRIP yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959. Monumennya pun dibangun di ujung jalan sebelah timur, tepatnya di depan Gereja Ijen, utara Museum Brawijaya. Monumen ini untuk mengenang dan menghargai jasa 35 nyawa pahlawan TRIP yang gugur dalam perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada Agresi Militer Belanda I di tahun 1947.

Awal mula TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) berasal dari lahirnya Barisan Keamanan Rakyat (BKR) ketika tentara Jepang menyerah pada sekutu. Selain pembentukan tentara formal itu, dibentuklah pula Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Pelajar pada 22 September 1945 di Surabaya untuk mewadahi para pemuda usia 13-18 tahun yang ingin ikut berjuang dengan menjadi tentara.

Pada 5 Oktober 1945 BKR berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), yang saat ini diperingati sebagai hari lahirnya TNI (Tentara Nasional Indonesia). Maka, nama BKR Pelajar otomatis berubah menjadi TKR Pelajar, yang diresmikan oleh komandan TKR Kota Surabaya, Soengkono, pada 19 Oktober 1945. Tahun 1946, TKR berubah menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) maka TKR Pelajar pun berubah nama menjadi TRI Pelajar pada 26 Januari 1946.

Kota Malang menjadi tuan rumah Kongres Pelajar yang dihadiri oleh semua unsur pimpinan IPI Jawa Timur, termasuk bagian laskarnya, pada 14-16 Juli 1946. Sebagai realisasi hasil kongres tersebut, pada 21 Juli 1946 diputuskan Markas Pusat TRIP Jawa Timur berkedudukan di Kota Malang dengan pimpinan Komandan Isman dan Wakil Komandan Moeljosoedjono, yang berkedudukan di Mojokerto.

Kemudian dibentuklah pasukan-pasukan kecil setingkat batalyon. Malang sendiri menjadi basis Batalyon 5000, yang dipimpin Susanto. Sementara itu, Batalyon 1000 yang meliputi Karesidenan Surabaya berpusat di Mojokerto, Batalyon 2000 meliputi Karesidenan Madiun dan Bojonegoro berpusat di Madiun, Batalyon 3000 meliputi Karesidenan Kediri berpusat di Kediri, dan Batalyon 4000 meliputi Karesidenan Besuki berpusat di Jember.

Pada Mei 1946 para pelajar asal Malang yang tergabung dalam TRIP Staf I meninggalkan markas Jetis (Mojokerto) kembali ke Malang untuk kembali ke sekolah masing-masing. Mereka hendak mengejar pelajaran yang tertinggal demi menghadapi musim kenaikan kelas yang jatuh pada Juli 1946. Namun pada 17 Juli 1947 usai kenaikan kelas diumumkan, Komandan Batalyon 5000, Susanto melarang mereka meninggalkan kota Malang. Susanto memprediksi bakal terjadi agresi oleh Belanda, berdasarkan pengamatan gejolak politik di ibukota.

Benar saja, pada 21 Juli 1947 Agresi Belanda I pun terjadi. Bermula dari menggempur daerah Besuki mengarah ke selatan Porong-Trawas-Lawang-Malang. Pada 22 Juli 1947 ada rencana untuk mempertahankan Kota Malang, sesuai dengan arahan staff Divisi Untung Suropati kepada para pemimpin TRIP. Sebelum Belanda menyerang, Kota Malang akan dikosongkan dan bangunan-bangunan vital akan dibumihanguskan.

Saat itu, pasukan TRIP Batalyon 5000 Malang disebar di beberapa tempat. Ada yang dikirim ke perbatasan Lawang dan Singosari untuk menghadang serangan Belanda yang datang dari Porong, Pandaan dan Tretes-Trawas. Sebagian pasukan juga dikirim ke Malang Selatan untuk mengajak rakyat untuk ikut berjuang. Sementara itu, pasukan lainnya berada di berbagai wilayah di Kota Malang dengan komando sang Komandan Batalyon, Susanto.

Pada 23 Juli 1947 Pasukan Brigade KNIL sudah memasuki daerah Lawang. Di saat yang bersamaan, kondisi Kota Malang sudah kosong, objek-objek vital pun telah dibumihanguskan. Taktik ini bertujuan, kalau pun tentara Belanda mampu menguasai Malang, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Pada 31 Juli 1947, pasukan Belanda pun mulai merangsek ke wilayah kota. Pasukan TRIP di perbatasan tak kuasa menahan serangan Belanda. Tembak-menembak pun terjadi di Lapangan Pacuan Kuda Betek hingga Jalan Salak.

Dalam pertempuran sekitar 5 jam ini, TRIP dengan senjata sederhana melakukan perlawanan gigih kepada tentara Belanda yang terlatih dan dilengkapi persenjataan lebih canggih, termasuk beberapa tank. Total 35 pelajar gugur dan beberapa lainnya luka-luka tertawan, termasuk komandan kompi. Komandan Batalyon Trip 5000, Susanto pun gugur di depan Gereja Ijen, di ujung Jalan Salak. Pada 31 Juli 1947, Kota Malang pun berhasil diduduki Belanda.

35 anggota TRIP yang menjadi korban peperangan tersebut dikubur dalam satu lubang yang letaknya tidak jauh dari markas TRIP di Jalan Salak. Monumen berbentuk patung dua orang pelajar yang memanggul senjata pun didirikan di ujung jalan tersebut untuk mengenang jasa mereka. Nama-nama ke-35 anggota TRIP itu pun terpahat di sebuah plakat di sebelah patung untuk mengingatkan kita pada gigihnya perjuangan mereka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Kota Malang.

Tak banyak warga Malang yang mengetahui keberadaan kuburan massal anggota TRIP ini, karena kompleks pemakaman tersebut dipagari dan jarang dibuka untuk umum. Taman Makam Pahlawan TRIP ini hanya dibuka ketika menjelang Hari Pahlawan, 10 November atau Hari Kemerdekaan, 17 Agustus. Di hari itu, para peziarah diperkenankan masuk ke kompleks pemakaman tersebut. Anda berminat?