BERBAGI

Dulu menjelang magrib, di gang-gang Kota Malang ataupun di sebuah tanah petak kampung, selalu ramai anak-anak bermain bersama. Salah satu permainan yang sering dimainkan adalah Gobak Sodor.

Banyak sejarah yang menceritakan bagaimana asal mula permainan ini. Dalam sebuah literatur dari bahasa Belanda, Gobak Sodor berasal dari bahasa Inggris yang berasal dari kata ‘Go back trough the door’, meskipun belum tentu benar. Namun sistem permainan ini adalah gerakan maju mundur penyerang yang dihadang oleh pemain bertahan sebagai pintu yang harus dilewati.

Di Indonesia sendiri, permainan ini dikenal dengan berbagai nama, ada yang menyebut sodoran atau gelasin. Namun, aturan dari permainan ini hampir sama di seluruh Indonesia.

Permainan ini menggunakan kekuatan fisik yang dibantu dengan kecekatan. Inti dari permainan ini adalah sang pemain penyerang harus bisa meloloskan diri dari penjagaan dari pemain bertahan yang terdiri dari 4-5 lapis sesuai dengan jumlah pemainnya. Kemudian kembali ke tempat semula. Sementara bagi pemain bertahan, mereka akan berganti menjadi penyerang apabila berhasil menghadang pemain yang akan lewat.

Dulu, saat masih anak-anak. Penulis kerap memanfaatkan lapangan bulu tangkis sebagai arena. Di lapangan Bulutangkis ada empat garis melintang yang digunakan sebagai penjaga. Artinya, permainan ini di kampung kerap dimainkan oleh delapan orang. Namun, tidak jarang penulis merasakan bermain dengan banyak orang.

Aturan Gobak Sodor

  1. Sebelum bermain perlu membuat garis-garis penjagaan dengan kapur tulis yang membentuk lapangan segi empat yang kemudian dibagi menjadi 6 bagian. Buatlah garis di tengah lapangan yang memotong keempat persegi panjang tersebut sebagai tempat atau jalan kapten (sodor).
  2. Selanjutnya membagi para peserta menjadi dua tim, satu tim terdiri dari 3 – 5 atau dapat disesuaikan dengan jumlah peserta. Satu tim akan menjadi tim “jaga” dan tim yang lain akan menjadi tim “lawan”. Penentuan tim jaga dan tim lawan biasanya dilakukan dengan ping sut (di daerah saya disebutnya suit) oleh kapten dari masing-masing tim.
  3. Anggota tim yang mendapat giliran “jaga” akan menjaga lapangan, caranya yang dijaga adalah garis horisontal dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal (kapten). Untuk penjaga garis horisontal tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.
  4. Pemain yang menjaga garis horisontal bisa bergerak ke kanan dan ke kiri. Bagi yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal maka tugasnya adalah menjaga keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Pergerakan pemain yang menjaga garis vertikal bergerak dari depan ke belakang atau sebalikya.
  5. Sedangkan tim yang menjadi lawan, harus berusaha melewati baris ke baris hingga baris paling belakang, kemudian kembali lagi melewati penjagaan lawan hingga sampai ke baris awal tanpa tersentuh oleh tim jaga.

Sumber Foto: https://dadikajenbergerak.files.wordpress.com