BERBAGI

Kuncoro, nama yang tidak asing bagi publik sepakbola Indonesia terutama di Malang Raya. Sosok asli Malang ini mewarnai lika liku sepakbola Indonesia dengan kisahnya yang lumayan inspiratif.

Saat ini, Kuncoro dikenal pemain Arema sebagai asisten pelatih yang terkenal lucu. Dirinya kerap guyon dengan anak buahnya. Tidak jarang dirinya juga sering dikerjai oleh pemain Arema. Siapa sangka, dulu Kuncoro dikenal sebagai pemain sumbu pendek, alias gampang tersulut emosinya. Selain itu, sebagai pemain dirinya juga dikenal sebagai tukang jagal yang mampu merusak mental dan fisik pemain lawan. Akibat gaya main yang dia usung, dia seringkali mendapatkan kartu kuning ataupun kartu merah dari wasit.

Kuncoro bercerita jika karakter sepakbola dia mainkan tidak lepas dari gaya khas Malang Selatan. Alumnus Kaki Mas Dampit ini bercerita jika dirinya memang kerap ditugaskan pelatih untuk menghentikan pemain lawan di lapangan. Karena itu, dirinya menerjemahkan intruksi tersebut dengan militan.

“Bola boleh lolos, tetapi saya pemain tidak. Saya dulu akan berusaha keras merebut bola dari kaki lawan dengan cara apapun. Malang memang punya karakter keras, ya ini Arema dan saya rasa permainan tersebut nampaknya sedikit memberikan efek ‘trauma’ kepada pemain lawan di lapangan,” kenang pemain kelahiran 7 Maret 1973 ini.

Sikap Kuncoro yang senang guyon kadang membuat dia juga dikerjai oleh pemain lain. Salah satunya adalah Gonzales.
Sikap Kuncoro yang senang guyon kadang membuat dia juga dikerjai oleh pemain lain. Salah satunya adalah Gonzales.

Efek trauma yang dimaksud salah satunya adalah duel dia dengan rekannya saat ini di jajaran pelatih Arema, I Made Pasek Wijaya. Berkebalikan dengan Kuncoro. Pasek adalah pemain full skill yang punya kecepatan menyusur dari sisi sayap terutama dari kiri.

Di sebuah pertandingan, Made ketika itu bermain di sayap kerap memberikan umpan silang bagus dan berlawanan dengan Kuncoro yang berada di kanan dalam. Dalam sebuah duel, Kuncoro berhasil melakukan terjangan dan sikutan. Meski tidak sampai cedera dan Kuncoro mendapatkan kartu kuning. Made nampaknya kapok berada di sisi kiri sehingga dia kemudian berpindah di sisi kanan.

Setelah di Arema selama lima tahun. Kuncoro mencoba berpetualang di klub lain. Salah satu klub yang dikenangnya adalah PSM Makassar. Bukan kenangan manis yang didapat, melainkan kenangan jika dia hampir kolaps saat menjalani pertandingan melawan Petrokimia Gresik, April 2000, memasuki pergantian babak.

Kuncoro saat itu pingsan dan di mulutnya mengeluarkan busa. Kejadian yang menggegerkan publik sepakbola Indonesia itu ternyata terjadi karena dia bersama Kurniawan Dwi Yulianto dan Mursyid Effendi terlibat dalam kasus pesta shabu-shabu di Hotel Weta Surabaya, ketika sehari sebelum pertandingan. Atas aksi ini, dirinya disanksi tidak boleh meneruskan kompetisi.

Akibat kejadian itu, Kuncoro seolah dijauhi oleh klub di Indonesia. Namun, Arema Malang di tahun 2001 kembali menerima dia dengan tangan terbuka sebagai seorang anak yang hilang. Di Singo Edan, dirinya hanya bertahan setahun sebelum akhirnya pindah ke Gelora Putra Delta. Selama kurun waktu itu hingga tahun 2010 saat dia pensiun, Kuncoro banyak membela klub termasuk membawa Persik menjadi juara di tahun 2003.

Kuncoro kini menjalani hidup yang lebih religius, dirnya banyak bercerita jika sikap religius ini juga didasari oleh masa kelam saat kolaps di lapangan. Dirinya mengakui punya guru spiritual di Kabupaten Malang yang mengubah hidupnya hingga seperti ini.

“Saya akui jika saya dulu memang orang yang tidak benar, dan kini saya sudah tobat dan ingin menjalani hidup yang ayem dan tenang,” tegas Kuncoro.

Sikap Kuncoro yang sedikit berbeda ini membuat dia di Arema awet, di kalangan pemain dia kerap dipanggil abah dan sering didaulat menjadi imam manakala pemain melakukan Salat.