BERBAGI

Putu, cenil, lupis, ketan bubuk, klepon, dan ijo-ijo merupakan jajanan tradisional yang mewarnai masa kecil kita. Tapi jangan khawatir bagi Anda yang tiba-tiba ingin menikmatinya lagi, karena di Malang pun masih ada yang berjualan dan bisa Anda nikmati kapan pun, Putu Pojok Tongan.

Dahulu tak ada niatan dari alm. Purah untuk membuka usaha jajanan pasar ini, namun sejak dirinya pada tahun 1960-an harus ikut suaminya di Surabaya yang merupakan prajurit TNI AD, alm. Purah diajari saudaranya membuat jajanan pasar hingga akhirnya berjualan di Surabaya. Tak lama setelah itu, dua tahun selanjutnya alm. Purah dan suaminya harus pindah ke Batu, namun sejak perpindahannya usaha putu yang baru dibuka itu ikut terhenti.

Tak berhenti dari situ, alm. Purah tetap berusaha untuk membuka lagi usaha jajanan tradisionalnya yang enak tersebut pada tahun 1979. Ia membuka usahanya lagi di Pasar Senggol (area Pasar Burung), lalu pindah lagi di Jalan Merdeka, kemudian pindah lagi ke kawasan Gandekan, Kauman hingga akhirnya ada di tempat yang sampai saat ini anak dari alm. Purah yang meneruskan usaha putunya, yaitu di Tongan sejak 1993.

Tin, anak dari alm. Purah yang meneruskan resep jajanan tradisional ini yang telah ada sejak tahun 1960-an mengaku bahwa tak hanya dirinya yang melanjutkan usaha dari ibunya ini. Namun kakaknya pun juga membuka usaha yang sama, di kawasan Dinoyo. Sejak 1982 Tin meneruskan usaha ini, Putu Pojok Tongan ini tetap eksis dengan keenam jenis jajanan pasarnya, yakni putu, cenil, lupis, ketan bubuk, klepon, dan ijo-ijo.

Mungkin Anda sedikit lupa dengan apa jajanan tradisional yang bernama Ijo-ijo ini. Ijo-ijo adalah makanan yang terbuat dari tepung beras yang dikukus dan diproses hingga padat, menyerupai jenang. Warnanya memang hijau dan dalam penyajiannya digulingkan di parutan kelapa. Di Putu Pojok Tongan ini Anda bisa menikmati si Ijo-ijo ini.

kue cenil via kompasiana.com
kue cenil via kompasiana.com

Dalam membuat klepon dan jajanan ijo-ijo, prosesnya pun tak banyak yang berubah. Yakni daun suji untuk warna hijaunya, daun pandan wangi agar jajanan menjadi lebih harum. Uniknya, alu dan lumpang yang merupakan alat penumpuk tradisional masih digunakan dalam membuat ekstrak daun pandan ini. Pandan yang telah ditumbuk lalu dicampur, kemudian diberi air lalu disaring sampai mendapatkan warna hijau alumi. Bubuk kacang dari ketan bubuknya pun juga diproses dengan cara yang masih tradisonal, untuk mendapatkan bubuk kacangnya di sini masih menggunakan alat tumbuk tradisional.

Sebagai penerus usaha ini, Tin tak pernah ingin mengubah rasa dari keenam jajanan tradisionalnya. Ia terus menjaga rasa, kualitas dan bagaimana proses mengolahnya sama seperti Ibunya, alm. Purah. Hal tersebut lah yang membuat Putu Pojok Tongan ini tak pernah kehilangan pelanggannya dari berbagai generasi yang terus ingin menikmati jajanan asli Indonesia buatan dari Tin yang merupakan resep warisan dari Ibunya. Bila Anda merindukan jajanan-jajanan tradisional ini, Anda bisa mencobanya di Putu Pojok Tongan di  Jalan Ade Irma Suryani.

sumber foto: tumblr