BERBAGI
Jalan Muharto diberi label merah.
Jalan Muharto diberi label merah.
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Jalan Muharto, nama sebuah kawasan penuh kenangan bagi penduduk yang pernah mendiami lokasi ini. Ya, saat ini sulit sekali menemukan kawan penulis dari SMP hingga SMA yang masih tinggal di daerah tersebut, kebanyakan mereka sudah merantau mencari pekerjaan di tempat lain ketika Kota Malang sulit menyediakan tempat bagi mereka.

Muharto (sebutan kebanyakan orang tanpa menyebut Jalan Muharto) adalah nama jalan yang berlokasi di Kecamatan Kedungkandang. Jalan tersebut dimulai dari perempatan Jalan Ir. Djuanda, Jalan Zaenal Zakse dan Jalan Kebalen Wetan. Jalan tersebut membentang hingga pertigaan Jalan Mayjen Sungkono dan belok kiri Jalan Ki Ageng Gribig.

Dulu penulis masih ingat setiap ada perundungan di sekolah (selain juga Polehan dan Kebalen). Maka anak-anak dari Muharto akan tampil terdepan. Jika itu adalah kawan penulis maka akan dengan senang hati anak-anak Muharto membela penulis, namun jika sebagai lawan lebih baik tidak berurusan dengan mereka. Ya, dulu kawasan Muharto dikenal sebagai salah satu kawasan kampung preman. Dan sekarang kampung tersebut berkembang semakin baik dan meninggalkan citra buruk yang sempat melekat.

Lupakan masalah perundungan, lagipula yang bakal dibahas kali ini bukan tentang Muharto di zaman dahulu, melainkan sebuah jalan panjang  (yang diambil laman blogger) penuh kenangan bagi warga yang pernah tinggal. Semua foto adalah properti dari jalanjalandikotamalang.blogspot.co.id.

2016_02_26_muharto1

Jalan Muharto dimulai dari perempatan Kebalen menuju ke arah timur Kota Malang. Setiap pagi dan sore jalan ini selalu dipadati oleh para pekerja yang hilir mudik bergantian sehingga juga sering macet yang dimulai dari Pasar Kebalen saat aktivitas itu berlangsung.

2016_02_26_muharto2

Jalan ke arah Muharto seperti menurun sedikit, disana nanti akan ada sebuah jembatan yang menghubungkan kawasan Muharto dari belahan Sungai Brantas.

2016_02_26_muharto3

Jembatan Muharto, sayang sekali disini seringkali ditemui para pembuang sampah yang membuangnya di jembatan. Terkadang mereka menaiki sepeda motor dan secara cepat membuang sampah itu di sisi kiri ataupun kanan jembatan. Beberapa kali melalui pemerintah Kota Malang berusaha melarang aksi tegah ini dengan memasang papan denda maksimal bagi pelakunya.

Namun, sepertinya belum ada satupun yang pernah ditangkap hanya gara-gara membuang sampah. Ya, karena Malang memang bukan Singapura!

2016_02_26_muharto4

Semakin asri memasuki wilayah tengah dari Jalan Muharto. Beberapa kawan penulis menyebut daerah yang ada disini dengan sebutan Kuto Bedah.

2016_02_26_muharto5

Penulis kesulitan menemukan literatur paling pas tentang asal usul dari penamaan Kuto Bedah ini. Namun, kawan penulis menceritakan jika sebutan itu berasal dari lahan kuburan yang dibedah untuk dijadikan Jalan menuju ke Polehan. Kapan itu? penulis masih perlu banyak mencari literatur!

2016_02_26_muharto6

Pertigaan jalan menuju ke Puntodewo. Sebuah jalan di kawasan Polehan, angkutan yang ada di sana salah satunya adalah angkot TST.

2016_02_26_muharto7

Bagian akhir dari Jalan Muharto yang menurun ke bawah, kawasan ini sama dengan awal jalan tadi, yaitu sering macet di pagi dan sore hari.

2016_02_26_muharto8

Sebuah papan penunjuk jalan, jika ke kanan akan menuju ke Bululawang dan Dampit melalui jalur alternatif. Sama seperti jika ke kiri akan menuju ke Surabaya atau Tumpang melalui jalur Alternatif.

2016_02_26_muharto9

Bagian akhir Jalan Muharto. Kabarnya di sini juga akan dibangun pintu tol masuk dan keluar untuk jalan tol Malang-Pasuruan, hingga kini pembebasan lahan masih berlanjut.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.