BERBAGI
Koran de Malang | Arsip Belanda
Koran de Malang | Arsip Belanda
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sebuah surat kabar De Malang pada tahun 30 April 1942 memberikan pengumuman kepada Masyarakat Belanda dan Eropa. Dari keterangan yang diberikan registrasi ini untuk menata lagi penduduk eropa yang ada di Malang. Siapa sangka, itu adalah bencana bagi mereka.

Koran yang terbit pada hari Kamis itu berbunyi kurang lebih bahwa warga Belanda ataupun Eropa baik totok (asli) maupun peranakan campuran Indonesia dan Belanda untuk melakukan pendataan ulang yang dilakukan di Balai Kota ataupun Kantor Kabupaten Malang. Registrasi ini dimulai pada 1 Mei 1942 dengan ketentuan sesuai dengan abjad awal.

Dengan ketentuan huruf A dan B Jum’at tanggal 1 Mei, C hingga F Sabtu tanggal 2 , G hingga J Minggu tanggal 3, K hingga L Senin tanggal 4, M hingga P Selasa tanggal 5, Q hingga T Rabu tanggal 6,U hingga Z Kamis tanggal 7. Pendataan sendiri dilakukan mulai jam 9.00 pagi.

Disebut awal petaka karena regitrasi memberikan efek yang luar biasa bagi warga totok laki-lagi berusia 17 hingga 60 tahun. Mereka yang terdata awalnya hanya diajak berunding tentang masa depan Indonesia, tetapi kemudian dimasukkan ke kamp interniran, di penjara, hingga dikirim ke tempat lain untuk dijadikan pekerja Jepang

Dalam laman gastdocenten.com, Hans Stoltenberg salah satu warga Belanda menceritakan kisah itu dengan jelas. Berikut sedikit dari kutipannya.

Bulan Mei 1942 Jepang mengharuskan bagi totok Belanda untuk didaftar, semua pria dan wanita yang berusia 17 tahun harus masuk. Dalam keluarga saya, Ayah dan kakak saya ditandai sebagai Belanda Totok karena lahir di Nijmegen, sementara Ibu saya dan Adik saya ditandai dengan Belanda Indo karena lahir di Indonesia.

Pendaftaran tersebut dibayar antara uang 50 gulden (perempuan Cina) hingga 150 gulden (laki-laki Eropa)

Kliping Koran Registrasi
Salah satu bentuk kertas registrasi yang dikeluarkan oleh Jepang.

Kemudian, pada bulan Juni 1942, Pria Belanda Totok yang berusia 17 hingga 60 tahun dipanggil, awalnya diajak membahas tentang masa depan Hindia Belanda, tetapi kemudian ada yang di interniran dan ada yang dikirim ke koloni Jepang untuk mengolah tanah dan melakukan pekerjaan berat lainnya. Ayah saya adalah orang yang taat hukum pemerintah, dengan membawa tas dia mengantri untuk mendaftar.

Tetapi sepertinya kami beruntung karena Ayah tidak sampai ke sana, dia hanya menjalani wajib lapor di interniran sebagai warga negara Belanda. Laporan itu dilakukan pada sekali saja pada 7 Januari 1943.

Saudara laki-laki saya pada Maret 1943 juga diinterniran, dia ditempatkan di Marine Camp Malang bersama laki-laki lain. Awalnya, kami dan teman-temannya boleh menemuinya dan memberikan makanan. Namun, lama-lama hal itu tidak boleh.

Selama Jepang ada, kami kerap mendapatkan pelecehan. Sementara Partai Republik Indonesia mendukung kebijakan ini karena kami di cap sebagai Belanda. Tidak boleh lagi orang Indonesia bekerja di Belanda entah itu untuk membantu rumah. Kami menyediakan lapangan pekerjaan, saya tahu kemudian banyak orang Indonesia yang kesejahteraannya menurun karena tidak ada uang.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.