BERBAGI
Candi Sapto | Foto: http://saptomanggala.blogspot.co.id/
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Candi Sapto adalah peninggalan purbakala yang terletak di Kasembon Kabupaten Malkang bagian barat, tepatnya di Desa Bayem atau kurang lebih berjarak 54 kilometer dari Kota Batu.

Areal Candi ini mempunyai luas sepanjang 500 meter persegi yang di sekelilingnya terdapat tanaman perdu rendah sebagai pembatas. Tidak jelas asal usul candi ini karena tidak ada papan keterangan yang dibuat oleh pemerintah Kabupaten Malang. Namun, berdasarkan nama, Sapto sendiri berarti adalah tujuh meskipun masih menjadi misteri apa maksud dari Sapto ini karena disana hanya ada lima arca saja. Ya, Anda tidak akan melihat bangunan Candi di sana melainkan lima buah arca.

Lima buah arca tersebut membentuk formasi setengah lingkaran menghadap ke Gunung Kelud, kondisinya tidak utuh dengan semuanya tanpa kepala yang terpotong hingga setengah badan. Bahkan ada satu arca yang tersisa batunya saja dan ditumpuk sembarangan.

Arah menuju Candi ini lumayan mudah, dari jalur Malang, Pujon, Kediri, Anda bisa berbelok kanan dari Kasembon setelah kurang lebih 300 meter dari SMP PGRI. Dari sana perjalanan tinggal 5 kilometer ke arah Desa Bayem. Dari perempatan tugu putih tetap lurus dan kemudian ada pertigaa SDN Bayem 2 belok kiri dan disitu lokasi Candi Sapto.

Papan larangan di Candi Sapto | Foto: http://kim-markas.blogspot.co.id/
Papan larangan di Candi Sapto | Foto: http://kim-markas.blogspot.co.id/

Dikutip dari Arkeolog Ekspedisi Samala Malang Post, Dwi Cahyono menerangkan, penamaan Candi Sapto berasal dari penemuan tujuh arca yang berada di kawasan tersebut.

Menurutnya, jika dilihat dari lokasinya, kawasan Candi Sapto ini cukup luas, sebab selain arca juga ditemukan peninggalan lain. Ada pilar atau stambak batu bata berukuran besar dan umpak batu. Adapun arca yang terdapat di lokasi tersebut adalah arca dari dewa dari mahayana budhisme. Dwi menjelaskan, dalam pantheon budhisme Mahayana terdapat banyak budha, salah satunya adalah dyanibudha dan dyanibodhisatwa. Dua jenis budha tersebut dibedakan berdasarkan pakaian kebesaran.

Dyanibudha tidak memakai pakaian kebesaran, sedangkan dyanibodhisatwa memakai pakaian kebesaran dan segala aksesorisnya seperti upawita, mahkota, kankana, dan lainnya.

Arca tanpa kepala di Candi Sapto | Foto: http://kim-markas.blogspot.co.id/
Arca tanpa kepala di Candi Sapto | Foto: http://kim-markas.blogspot.co.id/

Tujuh arca ini merupakan sistem tatagatha, yaitu susunan dewa budhayana, konfigurasinya selalu ganjil. Empat plus satu atau enam plus satu dengan posisi wara mudra dan satu budha di tengah dengan posisi cakra mudra. Candi Sapto mengarah kepada Gunung Kelut sehingga bisa jadi fungsinya adalah penjaga Gunung kelut dan hampir sama dengan Candi Bocok

Yang menarik, jika dilihat dari detil arca yang ada, diperkirakan candi tersebut belum selesai pengerjaannya. Hal ini bisa dilihat dari bagian kepala yang sebagian masih berbentuk bongkahan batu. Selain itu, ada juga arca yang masih belum memiliki ragam hias. Mungkin belum selesai dibangun kemudian terjadi letusan Gunung Kelud yang memang masih aktif.

Sehingga, bagian yang terlihat saat ini adalah puncak candi yang terbuat dari campuran bahan batu bata berukuran besar dengan batuan andesit hasil dari lontaran gunung Kelud. Keberadaan Candi Bocok dan Candi Sapto yang berdekatan ini menunjukkan bahwa Budha dan Hindu merupakan agama penting pada masa pemerintahan Majapahit.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.