BERBAGI
Tanaman Pulutan (C) Kebunbibit.id
Tanaman Pulutan (C) Kebunbibit.id

Pulutan biasa disebut hama tanaman oleh warga Malang. Namun, 13 orang dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (Unisma) sukses mengubah tanaman semak ini menjadi obat diabetes.

Tanaman perdu yang sering ditemui di lahan-lahan kosong maupun di desa-desa di Malang Raya itu memiliki nama latin Urena Lobata. Pulutan memiliki ciri-ciri khusus, yakni di daun dan batangnya terdapat bulu-bulu halus berwarna merah tua, struktur daunnya tunggal dengan tulang daun menjari, berbunga ungu kecil lima kelopak, juga berbuah merah kecil yang bergerombol di sela-sela tangkai daun dan batang.

Penampilannya bisa dibilang tak menarik, namun tak disangka tanaman yang sering dianggap sebagai gulma (tanaman hama) tersebut justru mengandung zat yang menakjubkan. Senyawa antidiabetik yang berperan terhadap penurunan jumlah sel busa dalam darah bisa ditemukan di dalamnya. Senyawa antidiabetik ini berfungsi sebagai insulin sensitizer oleh senyawa aktif saponin dan flavonoid (quercetin), serta sebagai insulin secretagogue oleh senyawa aktif mangiferin dan betasitosterol. Zat tersebut dipercaya dapat mencegah terjadinya hiperglikemik pada penderita diabetes.

Tim dari FK Unisma mencoba meneliti khasiat pulutan ini melalui percobaan pramedik. Saat diujicobakan pada hewan-hewan percobaan, mereka cukup puas karena tingkat keberhasilannya mencapai lebih dari 60 persen. Bahkan, tak hanya diabetes, penyakit-penyakit komplikasi yang ditimbulkan diabetes seperti jantung, liver, maupun ginjal pun berhasil diatasi.

Tim penelitian ini beranggotakan 13 orang yang terdiri dari mahasiswa dan sarjana muda FK Unisma, dengan dibina langsung oleh Kaprodi Pendidikan Dokter FK Unisma dr Dini Sri Damayanti MKes dan dosen pembimbing tim, Yudi Purnomo SSi Apt MKes. Diketuai Dimas Bintoro, tim ini beranggotakan Chandra Analis, Elok Zakiyya, Miranti Sastraningrum, Rista Eka Suciwulansari, Pinta Surya Kinanti, Karina Winda Bessufi, Amila Mufida, Eka Sukma BR, Ahmat Baihaki, Triari Nizuar, Eko Bagus, dan Alfien Aripasha.

Tim FK Unisma ini mempresentasikan hasil penelitian mereka di dunia interbasional. Bersama 39 negara peserta lainnya, tim ini membawa pulutan yang mereka teliti ke seminar IUPHAR (The International Union of Basic and Clinical Pharmacology) 2015 di National University of Singapura pada 22-24 Juli 2015 lalu.

Tak sembarangan negara bisa terlibat dalam seminar farmakologi tahunan tersebut. Sebelumnya, tim dari universitas terlebih dahulu harus mengirimkan paparan hasil riset disertai dengan diagram pemetaan hasil penelitian. Calon peserta diseleksi oleh panitia berdasarkan asas manfaat penelitian, kemungkinan perkembangan penelitian untuk industri terapan, juga hasil dari uji pramedik atau uji coba penelitian terhadap hewan percobaan laboratorium. FK Unisma akhirnya dinyatakan lolos mewakili Indonesia bersama FK Universitas Brawijaya (UB) dalam seminar yang mengangkat tema World Conference on the Pharmacology of Natural and Traditional Medicine tersebut.

Dalam seminar itu, tim dari Indonesia menjadi pusat perhatian, karena ternyata sangat terkenal di dunia farmakologi sebagai negara dengan aset tanaman berpotensi obat. Bahkan, tim peneliti asal Jepang pun meneliti salah satu tanaman endemik di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, yang disinyalir dapat berpengaruh pada kesuburan perempuan.

Hasil penelitian pulutan karya FK Unisma ini menarik tim peneliti dari India. Sang profesor bahkan mendatangi langsung tim FK Unisma untuk mencari tahu tentang tanaman pulutan dan kemungkinannya dibudidayakan di India. Menurutnya, India memiliki karakteristik masyarakat yang tak jauh beda dengan Indonesia. Penyakit diabetes juga masih menjadi ancaman di negara yang sama-sama berkembang dengan Indonesia itu. Terlebih, pulutan juga dapat hidup di iklim subtropis dan tropis, maka besar kemungkinan bisa dikembangkan di negara Bollywood itu.

Untuk perkembangan penelitian, FK Unisma tengah menjalin bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) di Tawangmangu, Jawa Tengah, yang ditunjuk untuk melakukan saintifikasi tanaman obat. Saat ini, pulutan juga sedang diteliti lebih lanjut untuk diujicobakan kepada manusia.