BERBAGI
Muhammad Taufiq, Penemu Cara Cepat Terjemahkan Al Quran (C) RADAR MALANG
Muhammad Taufiq, Penemu Cara Cepat Terjemahkan Al Quran (C) RADAR MALANG

Menerjemahkan Al Quran dengan cepat bukanlah perkara susah, jika Anda mengetahui bagaimana metode atau cara yang tepat. Hal itu yang mendorong Muhammad Taufiq, pria asal Dusun Patuk, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang untuk menemukan cara tersebut.

Memang, menerjemahkan Al Quran bisa dipelajari oleh semua orang. Mulai dari usia anak-anak hingga dewasa, sejatinya berpeluang untuk bisa mengerti dan memahami apa isi kitab suci umat Islam tersebut. Namun, cepat atau tidaknya dalam proses menerjemahkan, tergantung bagaimana metode yang digunakan.

Adalah M Taufiq, sosok yang berhasil menemukan metode cepat tersebut pada tahun 1999 silam. Metode cepat menerjemahkan Al Quran itu dinamainya An-Nashr. Idenya itu baru bisa direalisasikannya pada tahun 2004. Saat itu, ada beberapa anak tetangga, termasuk anaknya sendiri yang coba diajarinya menerjemahkan Al Quran dengan menggunakan metode An-Nashr.

“Selama ini saya mengamati mayoritas orang hanya belajar ngaji di musala, TPQ. Dari situ saya suka mikir, peluang orang kampung sedikit sekali untuk belajar terjemah Al Quran. Sebab jika mau belajar, musti mondok, padahal, yang nyantri pun tidak semua bisa menerjemahkan Alquran dengan baik. Setidaknya butuh waktu minimal lima hingga tujuh tahun untuk bisa disebut mampu,” ungkap bapak empat orang anak ini, dikutip dari Radar Malang.

Empat tahun kemudian, metode temuan M Taufiq mulai menampakkan hasilnya. Terbukti, pada tahun 2008, anak-anak yang diajarinya tersebut telah selesai dan mampu dengan tangkas menerjemahkan Al Quran 30 juz.

Metode An-Nashr yang digunakan oleh Taufiq cukup sederhana. Pria 42 tahun ini memakai pola 4-3-2-1, layaknya formasi yang digunakan sorang pelatih tim sepak bola. Kemampuan menggunakan metode ini meliputi terjemah perkata, terjemah per-ayat dan terjemah ayat Al Quran yang dibacakan oleh orang lain secara acak. Awalnya, anak akan dikenalkan dengan kata per kata beserta artinya, lalu diulang empat kali.

Taufik menyontohkan, misalnya ayat pertama surat An Nas yang diterjemahkan per kata. Anak-anak diminta mengucapkannya beserta artinya. Dimulai dari Qul (katakanlah), Auudu (aku berlindung), Birobbinnas (kepada Tuhan yang menguasai manusia). Anak-anak diminta mengulang empat kali, tiga kali, lalu dua kali, terakhir satu kali. Pola tersebut membuat mereka yang belajar dapat mengingat tiap kata, sekaligus diajari merangkai arti dalam satu kalimat.

Menurut Taufiq, mempelajari metode An-Nashr cukup mudah. Minimal, jika dia seorang guru yang tentu sudah pandai membaca Al Quran, maka cukup butuh waktu satu atau dua hari. Sementara itu, untuk santri, biasanya dalam jangka waktu empat hingga lima tahun sudah mampu menerjemahkan total 30 juz. Hitung-hitungannya sesuai dengan jumlah kosakata dalam Al Quran yang mencapai 77.439 kata, yang sebagian besar adalah pengulangan-pengulangan.

“Jika konsisten sehari satu jam, Insya Allah bisa selesai empat tahun. Sebab, misalnya sehari menghafalkan 10 kata, butuh 900 hari untuk menghafal sekitar 9.000 kata dasar dalam Alquran,” terang alumni Pondok Pesantren Al Huda, Wajak ini.

Metode An-Nashr ini pernah diuji langsung oleh Prof. Dr. KH. Tolhah Hasan pada 1 Agustus 2012 silam. Lalu, sebulan berikutnya, tepatnya pada 29 September 2012, giliran Prof. Dr. Ir. H. M. Nuh DEA, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia kala itu yang menguji. Kali ini, yang diuji adalah putra M Taufiq, Muhammad Rifki Husaini, yang kala itu berusia 14 tahun. Dengan tangkas, Rifki yang telah menyelesaikan pembelajaran terjemah Al Quran 30 Juz dengan metode An-Nashr mampu menerjemahkan ayat-ayat yang ditunjukkan oleh sang menteri secara acak.

Sama dengan santri-santri lainnya, dengan waktu belajar kurang lebih satu jam perharinya, Rifki membutuhkan waktu sekitar empat tahun untuk menyelesaikan pembelajaran terjemah Al Quran dengan metode An-Nashr.

Menteri M. Nuh pun tak segan memberikan apresiasi yang tinggi dengan adanya metode belajar terjemah Al Quran tersebut. Harapannya, metode ini terus dikembangkan sehingga dapat bermanfaat dengan skala yang lebih luas. Dengan metode tersebut, diharapkan akan lahir generasi-generasi baru yang memiliki kemampuan dan kualitas akhlak yang qur’aniy. Terlebih, metode ini dapat diajarkan sejak dini kepada anak-anak, sehingga mereka terlebih dahulu memahami Al Qur’an ketimbang yang lain.