BERBAGI
Wahyu Aditya (C) KOMPAS
Wahyu Aditya (C) KOMPAS

Tak banyak yang tahu, bahwa Malang memiliki seorang putra daerah bernama Wahyu Aditya yang sukses menjadi animator kelas dunia. Ya, pria yang akrab disapa Wadit itu telah memiliki segudang penghargaan internasional sebagai penggiat animasi.

Kiprah pria kelahiran Malang, 4 Maret 1980 ini dalam dunia animasi diawali dengan meraih juara pada perlombaan-perlombaan menggambar di kota kelahirannya. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA-nya, Wahyu melanjutkan sekolah ke KvB Institute of Technology, Sydney Australia, dengan mengambil jurusan Interactive Multimedia, hingga berhasil menjadi lulusan terbaik di angkatananya. Selepas bangku kuliah, ia kembali ke Indonesia untuk menekuni dunia animasi yang digandrunginya.

Wadit mendadak terkenal setelah berhasil menyelesaikan sebuah karya bernama Dapupu Project. Film animasi berdurasi dua menit itu membuatnya memeroleh juara pertama dalam Pekan Komik dan Animasi yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia saat ia berada di Sydney.

Sesaat setelah memutuskan terjun ke dunia animasi sepulang dari Australia, Wadit mendirikan sebuah sekolah animasi bernama Hello;Motion Academy pada 2004. Tujuannya mendirikan sekolah ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas animator di Indonesia.

Menurutnya, Hello;Motion merupakan sebuah wadah penggerak kemajuan animasi dan kreativitas Indonesia. Wadah ini berada di bawah naungan Yayasan Animasi dan Sinema Muda Indonesia serta PT HelloMotion Korpora Indonesia. Wahyu Aditya mendirikan sekolah animasi ini pada tanggal 8 April 2004. Selain memiliki sekolah animasi, Wadit juga turut mengelola sebuah rumah produksi yang bernama Dapupu Production.

Wadit mendapat penghargaan dari Pemerintah Belanda berupa uang senilai 100 juta rupiah pada tahun 2007. Uang hadiah tersebut dimanfaarkannya untuk membuat film animasi berformat feature. Melalui Hello;Motion-nya, Wadit juga merupakan inisiator Hello;Motion Art Festival yang diadakan tiap tahun pada bulan Agustus. Ajang ini dihadiri 3000-an pemuda dan diklaim telah membuka 300-an pekerja baru, kesempatan bekerja dan berbisnis untuk industri animasi (film dan content) Indonesia yang masih dalam proses berkembang. Melalui acara itu pula, arek Malang ini ingin menyampaikan bahwa animasi Indonesia masih terus bisa berkembang, sekaligus menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia merupakan negara yang modern dan kreatif.

Selain menjadi pendiri Hello;Motion Inc., Wahyu Aditya telah kenyang pengalaman di dunia animasi. Sebelum menjadi langganan pembicara dalam seminar-seminar animasi sejak 2002, ia menjadi Comic Artist Freelancer, Sydney (1998 – 1999), Creative Director di Adikarna Visual Propaganda, Malang (1999 – 2000), Creative Designer & Animator, Trans TV, Jakarta (2000 – 2002), Founder, Director, Creative Director – DemiKamu Creativeworks, Jakarta (2002 – 2004), Foreign Affair, AINAKI / Indonesia Animation Industry Association (sejak 2004), hingga sebagai Wakil Presiden – ASIFA / Animation Association – Indonesia Branch (sejak 2004).

Pengalaman itu juga ditunjang dengan segudang penghargaan kelas internasional yang diraihnya. Sebut saja sebagai Lulusan Terbaik – KvB Institute of Tech, Major Interactive Multimedia (2000), Animasi Terbaik – Indonesia’s Comic & Animation Festival (2000), Animasi Terbaik – Indonesia’s Independent Video & Film Festival (2000), Best Video Clip of The Month – Video Music Indonesia (2002), People Choice Award – Video Music Indonesia (2002), Best Short Movie – Jakarta International Film Festival (2004), Finalist Short Shorts Film Festival – Tokyo, Jepang (2004), Finalist Asiana Film Festival – Korea Selatan (2005), Pemenang 8 Awards in Indonesia Animation Festival (2005), Best Concept for Future Film – Jakarta International Film Festival & Hubert Bals Foundation (2005), Best 3 – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Indonesia (2006), Scholarship – Animation & Cinema Industry by AOTS – Jepang (2006), Special Achievement Award – FAN / National Animation Festival (2007), Finalis British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Design Category – Indonesia (2007), Pemenang British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Film Category – Indonesia (2007), World Winner of British Council – International Young Creative Entrepreneur of The Year – Film Category (2007), hingga Australian Alumni Award – Finalist Creativity & Design Award (2008). Bahkan, kiprahnya dalam dunia animasi telah menghantarkan Wahyu Aditya menjadi salah seorang dalam daftar 30 Most Inspiring People under 30 pada 2008 versi Hard Rock FM.

Hingga saat ini, Wadit juga mengelola sebuah blog pribadi yang bertajuk Kementerian Desain Republik Indonesia (www.kdri.web.id). Laman blog ini digunakannya sebagai tempat untuk menuangkan ide-ide brilian mengenai desain baru miliknya. Laman pribadi ini juga menjadi tempatnya untuk memberi motivasi kepada para pemuda Indonesia, terutama yang juga suka bergelut di dunia animasi untuk selalu menanamkan jiwa nasionalismenya.

Menurutnya, animasi adalah karya seni yang cukup lengkap. Bagi Wadit, animasi itu sendiri telah mencakup beberapa hal, seperti gambar, suara, dan gerak tanpa batas.

Dalam konteks dunia animasi Indonesia, menurut Wadit perkembangannya masih bisa dibilang sedang merangkak naik. Beberapa kendala diakuinya masih menjadi salah satu penghalang perkembangan dunia animasi di Indonesia. Menurutnya, pola pikir kreator Indonesia masih belum cukup tangguh untuk menjawab tantangan zaman. Hal ini disebabkan oleh karena infrastruktur dan dana penunjangnya yang juga belum memadai. Menurutnya, dukungan pemerintah juga diperlukan untuk mengatasi masalah klasik ini.

Bagi Wahyu Aditya, dalam dunia animasi diperlukan pula jiwa wirausaha, sehingga animator-animator berani masuk dunia bisnis sebagai faktor pendukung lolosnya animasi ke ruang publik, tak terkecuali mampu lolos masuk bioskop. Besar harapan kepada pemerintah melalui badan terkait, agar memberikan ruang penayangan terhadap film-film animasi dalam negeri, seperti yang telah dilaukan oleh pemerintah Cina dan Korea Selatan. Bagi animator seperti dirinya, sekian persen ruang terbuka yang diberikan pemerintah sudah cukup berharga untuk berkarya.

Mimpi mulianya yang masih belum tercapai adalah menjadikan animasi Indonesia mampu bersaing dengan karya asing, terutama di negeri sendiri. Baginya, peran inovasi dalam dunia animasi sangat diperlukan, terutama soal kreativitas dalam memasarkan produk animasi itu sendiri. Menurutnya, sebagian besar animator dalam negeri masih berpikiran bagaimana cara menjual karyanya pada pihak TV atau layar lebar. Padahal, dengan perkembangan dunia teknologi yang terus berkembang, menurut Wadit, pola pikir seperti itu seharusnya sudah harus ditinggalkan, karena pada dasarnya animasi bisa didistribusikan dengan banyak saluran. Sebagai contoh, animasi bisa didistribusikan melalui internet atau bekerja sama dengan penyedia layanan telepon genggam.