BERBAGI

Bulutangkis memang tidak sepopuler sepakbola, namun berkat olahraga tepok bulu ini Indonesia dikenal prestasinya di ajang kelas dunia. Bicara soal bulutangkis, tidak lengkap rasanya kalau tidak membahas raket. Karena siapa sangka, Malang adalah salah satu daerah penghasil raket yang cukup mumpuni di tanah air.

Industri raket di Malang dikerjakan di rumahan, sentra produksinya berada di kawasan Klayatan Sukun. Di sana ada lebih dari 10 pengusaha raket dengan merk yang bermacam-macam seperti Pro Power, Wilnex, Betamax, Binter dan lain sebagainya. Meski namanya terlihat sangat keren, hasil raket Klayatan diperuntukkan untuk kalangan menengah ke bawah.

Tiap hari ribuan raket Klayatan bisa keluar dari kampung tersebut untuk dipasarkan di daera lain. Harganya pun terbilang terjangkau dan sangat layak untuk dijadikan permainan bulutangkis.

Salah satu pemilik bisnis raket bernama Dadang. Sosok yang tinggal di Klayatan III RT 02 RW 02 ini menyatakan jika dia bisa memproduksi 500-1000 raket tiap hari. Raket kelas bawah ini memang gampang diserap dan laku keras di pasaran, utamanya luar Jawa.

“Kalau ada even bulutangkis yang disiarkan langsung di televisi biasanya permintaan langsung naik tinggi. Jadi saya ingin bulutangkis ini seperti sepakbola yang ada siaran langsungnya tiap hari,” kata pemilik usaha dengan merek Aero XL, Aeronex, Atlanta, Alfano, dan Betamax ini.

“Saya mewarisi bisnis ini dari ayah yang sudah merintisnya 35 tahun silam. Dulu beliau memproduksi dengan merk Butterfly, namun kini mereknya berbeda,”

Menurut Dadang, pembuatan raket Klayatan memang tidak dikerjakan sendiri. Artinya pembuatan bagiannya dilakukan oleh orang lain tetapi masih di kawasan Klayatan. Mulai dari head, T penghubung, batang, handle, hingga pemasangan senar. Semuanya dilakukan berbeda tempat.

“Kalau dulu, pembuatan raket dimonopoli perusahaan besar karena mereka punya alat yang lengkap untuk membuat bagian raket dari awal hingga selesai. Kalau di sini per-bagian dikerjakan oleh orang yang berbeda. Termasuk pemasangan senar yang dilakukan oleh ibu-ibu. Hal ini bisa menekan biaya produksi dan semua warga Klayatan bisa mendapatkan keuntungan,” tegasnya.

Selain Dadang, ada Agus Gunawan (37) yang juga mempunyai industri usaha raket. Sebagai penguasaha dirinya ingin pemerintah daerah lebih banyak memperhatikan usaha bisnis yang sudah menjadi ciri khas di wilayahnya.

“Saya menekuni bisnis ini dari orang tua, saya sih ingin dari pemerintah daerah yang sering ke sini tidak hanya berkunjung. Namun, turut memberikan solusi untuk meningkat usaha bisnis di sini. Misalnya bantuan dana untuk membeli mesin baru karena kebanyakan di sini masih dikerjakan manual,” tegas Agus.

Agus menjelaskan dia mempekerjakan delapan tetangganya. Adanya penguasah raket ini menurutnya turut memberikan pendapatan bagi warga sekitar karena adanya ruang kerja.

“Saya hanya khawatir pemerintah memberikan ruang bagi pengimpor raket dari luar negeri dengan harga yang murah, padahal ada kami yang bisa memproduksinya karena kami yakin produksi kami lebih baik dan awet,” terangnya.