BERBAGI
Pasar Talun Mempertahankan Kualitas (Foto: Kompas / Dahlia Irawati)
Pasar Talun Mempertahankan Kualitas (Foto: Kompas / Dahlia Irawati)

Di Malang masih banyak Pasar kuno, salah satunya adalah Pasar Talun, pasar ini letaknya tidak jauh dari Pasar Oro-oro Dowo yang sama-sama dibangun pada masa Kolonial.

Bisa dibilang, Pasar Talun adalah pasar yang lama tapi masih asli. Letaknya persis ada di balik pertokoan Kayutangan. Untuk masuk, Anda bisa melalui gang 6 Jalan Basuki Rahmat. Dari sana tinggal berjalan lurus 100 meter. Pasar ini memang tidak besar, namun sangat unik karena modelnya terbuka dan kuno. Ukurannya pun hanya sekitar 15×12 meter dengan pembagian empat lajur los dengan masing-masing los ada empat bedak dengan ukuran 3×3 meter.

Tidak banyak pedagang yang ada di Pasar Talun, meskipun satu los bisa diisi oleh 64 pedagang, namun kini hanya sekitar 13 pedagang saja yang umumnya berdagang karena turun-temurun. Mereka tetap bertahan karena selain ekonomi juga karena mewarisi dari keluarganya.

Pasar ini didirikan pada era Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1900-an. Pasar ini terletak di tengah kota (Kayutangan) karena memang pada masa itu banyak orang Belanda yang tinggal di poros kota seperti Talun, Tongan, dan Sawahan. Karena itu pasar adalah sebuah alat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sementara itu pada kisah lain diceritakan jika Pasar Talun ini didirikan karena semakin tersingkirnya warga pribumi di gang-gang sempit Kota Malang. Pasar ini dibuka oleh Mbah Honggo Koesoemo, tokoh keturunan Kerajaan Majapahit yang turut berjuang bersama Pangeran Diponegoro melawan Belanda (tahun 1900-an). Mbah Honggo dimakamkan di Jalan Basuki Rakhmat Gang IV (tidak jauh dari pasar Talun).

Berbeda dengan pasar yang lain, di Pasar Talun antara pedagang dengan pembeli terlihat akrab satu sama lain, hal ini terjadi karena mereka semua adalah warga satu kampung sehingga saling mengenal.

Pasar tersebut juga multifungsi, karena jika ada pertandingan sepakbola Arema atau tim nasional, pasar ini menjadi arena nonton bareng. Terkadang jika ada warga yang punya hajatan seperti nikah, maka di pasar tinggal dipasang sebuah tenda.

Dikutip dari Kompas, Kota Malang memiliki 28 pasar tradisional dengan jumlah los dan kios 13.000-14.000 unit. Pemerintah Kota Malang sedang mencari model untuk menata semua pasar tradisional agar tidak ditinggalkan pembeli di tengah gempuran swalayan modern berjaringan.

Revitalisasi, kata Kepala Bidang Ketertiban dan Pengawasan Dinas Pasar Kota Malang Eko Syah, akan berlanjut dengan tetap mempertahankan keunikan masing-masing pasar.