BERBAGI
Pasar Besar Atau Pecinan
Pasar Besar Atau Pecinan

Malang juga mempunyai kampung pecinan, sebuah kampung yang di kota-kota lain diidentifikasi sebagai kampung dengan mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa. Perkampungan Tionghoa sendiri juga ada di negara lain di dunia, mereka biasa disebut China Town.

Perkembangan warga keturunan Tionghoa di Jawa memang begitu pesat, karena pada 1800-an saja sudah ada sekitar 100 ribu yang meningkat lima kali lipat pada abad ke 19.

Kampung pecinan yang ada di Malang ini sendiri merupakan keinginan pemerintahan kolonial yang ingin memusatkan jenis-jenis masyarakat yang ada di kota di satu lokasi pada tahun 1816 dengan aturan yang bernama Passenstelsel.

Kemudian padaa 1836 ada aturan yang terbilang cukup rasis yang bernama wijkenstelsel, yaitu sebuah aturan yang memaksa etnis tertentu untuk tinggal sewilayah yang sudah ditentukan. Kondisi saat itu membuat ada kampung pribumi, kampung Arab, kampung Belanda dan tentu saja kampung Tionghoa yang ada di seluruh kota-kota di Indonesia.

Perkembangan Pecinan Malang

Perkembangan masyarakat Tionghoa di Malang dimulai pada tahun 1760 di saat itu belum ada pengelompokan, namun merupakan beberapa penduduk Tiongkok yang pergi berkelana, jumlahnya pun tidak banyak.

Seperti yang dikutip dari Radar Malang, perkampungan pecinan yang ada di Malang terdapat enam suku berbeda yaitu Suku Hok Ciu, Suku Hokkian, Suku Khek atau Hakka, Suku Hing Hua, Suku Kwantung, dan Suku Hupri. Dari enam suku ini, setiap suku mempunyai spesialis usaha masing-masing.

Kampung Pecinan
Kampung Pecinan

Spesialis usaha tersebut, Suku Hok Ciu, spesialisnya menjual emas. Suku Hokkian, spesialisnya menjual onderdil kendaraan dan tekstil. Suku Khek biasanya jual sembako atau toko kelontong, Suku Hing Hua menjual sepeda pancal, Suku Kwantung jual mebel, dan Suku Hupri biasanya bekerja sebagai tukang gigi.

Di Pecinan sendiri, kalau keturunan enam suku ini masih ada semua dan mewariskan usaha nenek moyang mereka. Keturunan Tionghoa dari berbagai suku ini hidup rukun berdampingan di Pecinan. Spesialisasi itu sendiri merupakan bawaan dari negeri Tiongkok.

Pada 1916, pemerintah kolonial Belanda mengambil alih kuasa di wilayah Pecinan. Awalnya, mereka berencana memindahkan pasar ke daerah pasar bunga sekarang. Namun, warga Tionghoa di Pecinan menolak. Sehingga mereka membantu dana pembangunan pasar dengan syarat tempat tidak berpindah. Bisa dikatakan, pasar besar ada karena jasa orang Tionghoa.

Sekitar tahun 1920, Pasar Besar mulai dibangun di daerah Pecinan yang memakan waktu empat tahun. Pada 1924, resmi dibuka dan menjadi pasar induk pertama milik pemerintah Belanda. Saat itu hanya ada 20 stan. Terdiri dari toko bahan kelontong, sayur dan buah, daging dan ikan, serta toko pakaian.

Seiring dengan perkembangan Kota Malang, masyarakat Cina bergeser ke wilayah yang dekat dengan Pasar Besar. Apalagi masyarakat tersebut kebanyakan bekerja sebagai pedagang sehingga bisa berkembang untuk meningkatkan kondisi perekonomian Kota Malang.

Saat ini batas Pecinan dengan perkampungan pribumi sudah semakin kabur karena pertumbuhan perekonomian di kawasan sekitarnya. Lingkungannya kini berubah dari hunian menjadi kawasan perdagangan dengan bangunan-bangunan berupa ruko.