BERBAGI
mengamati matahari melalui teleskop

Pengamatan matahari yang diadakan oleh KAPELA (Komunitas Pengamat Langit) Universitas Negeri Malang di CFD (Car Free Day) Jl. Ijen kota Malang cukup menarik perhatian masyarakat yang sedang berolahraga.

Pengamatan ini dilakukan pada Minggu, 29 Januari 2017 pagi. Pagi itu, cuaca kota Malang memang mendung. Sehingga, matahari lebih sering tertutup oleh awan. Namun, hal tersebut tak menyurutkan antusias masyarakat untuk melihat matahari.

Antusias masyarakat tertuju pada sebuah benda bertabung yang disanggah oleh tripod. Benda itu adalah teleskop Celestron Astromaster 130Eq. Tepatnya, teleskop ini berdiri di depan museum Brawijaya.

Selain teleskop, pengamatan matahari juga dilengkapi dengan tiga buah kacamata matahari. Kesemua peralatan tersebut dinyatakan aman untuk dapat melihat matahari. Sebab, pada teleskop sudah dilengkapi filter ND5 yang cukup kuat untuk meredam intensitas matahari. Sedangkan pada kacamata matahari yang digunakan memang dikhususkan untuk melihat matahari.

mengamati matahari menggunakan kacamata matahri dengan filter yang berbeda, badder dan ND5
mengamati matahari menggunakan kacamata matahri dengan filter yang berbeda, badder dan ND5

Dari tiga kacamata matahari yang disediakan, memiliki jenis filter matahari yang berbeda. Dimana akan menyebabkan warna tampilan matahari yang berbeda pula. Jenis filter tersebut yakni badder dan ND5 (Natural Density 5).

Jika dilihat menggunakan filter badder akan terlihat warna putih. Sedangkan jika melalui filter ND5 akan terlihat warna oranye.

Disinilah maksud edukasi dalam pengamatan matahari kali ini. Yaitu mengurangi terjadinya kesalahpahaman mengenai astronomi yang beredar dalam masyarakat.

Jika di buku sekolah seringkali dijumpai warna matahari yang tak selalu sama, maka diharapkan dengan adanya kegiatan ini mereka bisa memahami arti perbedaan warna tersebut. Salah satunya yaitu warna matahari yang putih akan terlihat berbeda jika filter yang digunakan berbeda.

Selain itu, alasan mengambil tempat di CFD Jl. Ijen yaitu untuk mengenalkan instrumen astronomi kepada masyarakat umum. Instrumen tersebut yaitu teleskop.

Hal ini dikarenakan masih jarang sekolah yang memiliki dan menggunakan alat tersebut secara optimal. Sehingga, para siswa hanya mengenal alat tersebut melalui buku maupun internet.

Dari kegiatan ini, para siswa sekolah bisa merealisasikan apa yang telah mereka pelajari dalam buku. Ketika ditanya, beberapa siswa sekolah menyatakan bahwa mereka belum pernah melihat bentuk, warna matahari melalui perantara instrumen astronomi.

Adanya teleskop yang berdiri di depan museum Brawijaya ini membuat beberapa orang dewasa tertarik dan bertanya-tanya mengenai alat untuk menangkap objek yang jauh ini. Selain bertanya mengenai kisaran harga teleskop, seberapa jauh jangkauan untuk melihat objek, juga objek apa saja yang bisa diamati menggunakan teleskop jenis reflektor ini.

Cuaca mendung memang menghalangi kelancaran masyarakat untuk dapat melihat matahari. Namun, hal tersebut tak menyurutkan semangat mereka. Ada beberapa orang yang menunggu awan tersibak supaya berhasil melihat matahari melalui teleskop. Banyak dari mereka yang berdecak kagum saat melihat wajah sang surya.