BERBAGI
Jalur Malang dan Blitar yang melewati Selorejo | Foto: keluyuranbertiga.com
Jalur Malang dan Blitar yang melewati Selorejo | Foto: keluyuranbertiga.com

Tidak banyak yang mengetahui jika Malang dan Blitar punya jalur alternatif yang melewati Ngantang. Jalur itu sangat efektif bagi pelancong dari Blitar yang ingin ke Surabaya tetapi tidak lewat Kota Malang.

Jalur sepanjang 45 kilometer ini jika diurut dari Malang akan dimulai dari pertigaan Selorejo atau biasa disebut pertigaan Kambal. Di sana ada jalan yang tidak terlalu besar berkelok-kelok hingga menuju ke gerbang masuk wisata bendungan buatan tersebut. Nantinya akan ada pertigaan untuk kemudian belok ke kiri.

Kemudian tinggal ikut jalan tersebut karena memang satu saja hingga pertigaan Sekar tetap terus hingga daerah yang bernama Pagersari. Pemandangan luar biasa nampak setelah daerah tersebut, karena pemandangan bukit-bukit dengan hutan yang menghijau, ada juga sungai yang mengalir di sela-sela persawahan, sangat alami dan enak dipandang mata.

Jika ada sebuah jembatan besi yang melewati sungai, maka Anda sudah pasti sampai ke wilayah Blitar. Jalan di sana juga hanya satu dan terus saja hingga wilayah yang bernama Krisik, Semen, hingga jalan Provinsi Malang dan Blitar.

Jembatan! Menjadi batas Malang dan Blitar | Foto: Kompasiana)
Jembatan! Menjadi batas Malang dan Blitar | Foto: Kompasiana

Jalur alternatif ini memang menyuguhkan pemandangan yang bagus, tanaman di sisi kiri dan kanan yang terletak di lereng Gunung Kawi dan Gunung Kelud sangat enak dipandang, kemudian juga ada sungai jernih dan perkebunan teh milik PTPN XII. Keadaan ini membuat beberapa orang yang lewat sana seringkali berhenti untuk sekedar berfoto dengan latar pemandangan.

Dari jalanan alternatif itu juga ada beberapa daerah wisata seperti Waduk Nyunyur, kebun kopi, kebun teh, Telaga Rambut Monte, dan tentu saja Bendungan Selorejo.

Jalur alternatif ini berkelok-kelok dengan kontur naik turun. Terkadang Anda harus menggunakan gigi satu untuk melaju. Sayang meskipun mampu menghemat waktu, jalan alternatif itu cukup sempit. Untuk kendaraan roda empat jika berseberangan salah satu harus minggir hingga bahu jalan, pun begitu jika ingin nyalip kendaraan sesama roda empat.

Selain itu, Anda juga harus hati-hati karena kondisi jalan di beberapa tempat masih berlubang dan tidak merata, di sisi lain penerangan di jalan ini juga masih sedikit atau hanya ada di daerah perkampungan saja. Semoga, fungsi jalan alternatif ini bisa lebih dioptimalkan lagi dengan adanya perlebaran jalan serta penambahan penerangan.