BERBAGI
Bubur sengkolo yang disajikan di daun pisang (Foto: Satuislam.org)
Bubur sengkolo yang disajikan di daun pisang (Foto: Satuislam.org)

Masyarakat Jawa tidak asing lagi dengan bubur sengkolo, sebuah panganan yang berwarna merah (bisa dikatakan coklat) dan putih yang biasa disertakan dalam sebuah upacara selamatan.

Dalam penyajiannya bubur ini biasanya dibungkus dengan daun pisang, terkadang pula juga langsung disajikan di piring dan langsung dimakan di tempat.

Beberapa masyarakat di wilayah Malang Raya masih menggunakan bubur yang terbuat dari beras, gula merah dan kelapa ini untuk selamatan bayi yang baru lahir, pernikahan, musim tanam, musim panen, mendirikan rumah, baru tiba dari rumah sakit, pergi bekerja ke daerah lain dalam waktu lama dan lain sebagainya.

Siapa sangka, keberadaan bubur ini karena mengandung filosofi yang sangat dalam meski peruntukannya cukup sederhana yakni sebagai tolak balak atau membuang kesialan.

Masyarakat Jawa yang dulu menganut agama kapitayan sudah punya kepercayaan dengan adanya kekuasaan di atas segala sesuatu. Dikutip dari Jawakuna, dikatakan jika Penyebutan ‘Sang Kuasa’ ini banyak ragam. Ada yang menyebut Sing Gawe Urip (yang menguasai kehidupan – yang menciptakan kehidupan), Kang Moho Kuwoso (Yang Maha Berkuasa), Sang Hyang Moho Dewo (Sang Maha Dewa) dan masih banyak jenis penyebutan lainnya. Hal demikian telah ada pada masyarakat Nusantara secara khususnya masyarakat Jawa kuno jauh sebelum agama masuk tanah Jawa.

Bubur sengkolo ini adalah sikap kembali ke fitrah dan kembali kepada Tuhan yang Maha Esa, warna merah putih adalah perwujudan dari tulang dan darah (versi lain bubur merah putih ini adalah gabungan dari sel ayah yang berwarna putih dan sel ibu yang berwarna merah).

Manusia berserah diri kepada Tuhan YME agar diberi keberkahan dan keselamatan. Manusia hanya bisa berusaha bagaimana baiknya, tetapi tetap ada kekuatan dan kekuasaan yang lebih besar. Karena itu makna penyerahan diri adalah pasrah dengan hasil usaha yang sudah atau akan dilakukan.

Dalam perkembangannya, saat agama masuk. Selamatan dengan bubur ini kemudian disesuaikan. Utamanya bacaan doa yang dilantunkan. Namun, tetap tidak mengubah keberadaan panganan ini. Untuk agama islam, makna penyerahan diri juga tertuang dalam doa Laa haula wa laa quwata illa billah yang artinya tiada pertolongan dan kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan dan kekuatan Allah semata.

Upaya doa yang dibarengi atau bahkan diwujudkan dalam bentuk lambang selamatan tersebut bisa diterima dan dilestarikan oleh kalangan sebagian masyarakat muslim hingga sekarang. Bahkan hal tersebut diterima sebagai doa bil isyaroh, yaitu upaya doa yang direalisasikan dalam bentuk perlambang untuk meneguhkan dan menguatkan ‘pengharapan’ akan keyakinan terhadap dikabulkannya doa tersebut.