Mitos Lesehan Ringin Jodoh di Rumah Makan Ringin Asri

Rumah Makan Ringin Asri memiliki area khusus yang dinamakan Lesehan Ringin Jodoh. Tempat ini mempunyai mitos yang dipercaya dapat ‘menyatukan’ dua hati yang ingin berjodoh.

Cerita mitos di Rumah Makan Ringin Asri ini tak lepas dari keberadaan sepasang pohon beringin (atau dalam bahasa Jawa disebut ringin). Sepasang pohon beringin ini tumbuh di depan tempat berkuliner ini. Usianya bisa dibilang sangat tua, kira-kira pohon ini sudah berdiri tegak sejak lebih dari 300 tahun silam.

Pohon beringin di depan area Lesehan Ringin Jodoh ini tak hanya memberikan suasana yang sejuk saat menikmati hidangan yang disajikan di rumah makan ini. Nuansa yang alami bakal Anda rasakan saat memandangi pohon beringin tersebut. Selain itu, rumah makan satu ini memang direkomendasikan menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga.

Asal tahu saja, pohon beringin ini mitosnya dapat memperlancar proses ‘perjodohan’. Jika Anda ingin menjalin komitmen yang lebih serius dengan pasangan, silakan datang ke Lesehan Ringin Jodoh ini untuk sekadar makan malam dengan suasana nan romantis. Konon, banyak pasangan kekasih yang pernah bertemu di bawah pohon beringin Rumah Makan Ringin Asri ini hubungan mereka berakhir di jenjang pernikahan.

Rumah Makan Ringin Asri sendiri menyajikan beberapa menu spesial yang cuma ada di tempat ini saja. Tentunya menu-menu yang disajikan memiliki cita rasa yang lezat dan menggugah selera. Selain itu, harga tiap menu yang ditawarkan juga lumayan terjangkau.

Rumah makan ini dapat dicapai dalam 20 menit dari pusat Kota Malang menggunakan kendaraan bermotor. Tepatnya, lokasinya berada di Jalan Soekarno-Hatta No. 45 Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru. Rumah makan ini buka setiap hari mulai pukul 08.00-22.00 WIB.

Serasa di Eropa Saat Berdiri di Jembatan Araya

Jembatan Araya jadi spot menarik untuk berfoto saat Anda ke Malang (C) ENJOYNUSANTARA
Jembatan Araya jadi spot menarik untuk berfoto saat Anda ke Malang (C) ENJOYNUSANTARA

Anda tak perlu jauh-jauh ke Eropa kalau mau berfoto ria dengan latar belakang sebuah jembatan eksotis khas arsitektur Eropa. Datang saja ke Jembatan Araya yang ada di wilayah Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Jembatan ini berdiri megah di atas Sungai Bango yang mengalir dari utara ke selatan. Jembatan ini juga menghubungkan dua area perumahan yang berbeda, yakni Perumahan Blimbing Indah (PBI) di sisi barat jembatan dan Kota Araya di sebelah timurnya.

Gaya klasik khas Eropa menyelimuti Jembatan Araya ini. Anda akan dibuat takjub oleh dua pilar gapura yang menyerupai gerbang masuk di sisi barat dan timur. Salah satu gerbang itu bertuliskan Kota Araya sebagai identitas sekaligus pintu masuk menuju ke perumahan elit tersebut. Di antara kedua gerbang tersebut berdiri berjajar jeruji-jeruji besi yang masing-masing ujung atasnya terhubung dengan besi melengkung membentang dari timur ke barat menghubungkan puncak masing-masing kedua gerbang. Terdapat bangunan kecil menyerupai pos jaga, masing-masing dua di ujung jembatan sebelah timur dan dua di ujung barat.

Selain sebagai gerbang masuk menuju Perumahan Araya, jembatan ini terkadang menjadi tempat anak-anak muda bersantai, di ujung atau tepian jembatan. Memang, area ini cukup tenang dan jarang sekali dilewati lalu lalang kendaraan bermotor. Tak jarang dari mereka yang sengaja datang ke jembatan ini mengabadikan momen dengan lensa kamera. Mulai dari selfie, sampai wefie mereka lakukan dengan latar belakang kemegahan Jembatan Araya tentunya.

Tak sulit untuk menemukan jalan menuju Jembatan Araya ini. Kalau Anda datang dari arah utara (luar Kota Malang), dari flyover Arjosari, belok saja ke kiri menuju Jalan Raden Intan atau mengarah ke Terminal Arjosari. Sampai di pertigaan Taspen, belok kanan ke Jalan Panji Suroso. Setelah sampai di pertigaan PBI, belok kiri, lalu lurus saja ke arah timur sampai melihat penampakan jembatan tersebut.

Profil SMA Cokroaminoto Malang

Papan nama SMA Cokroaminoto Malang (C) IKELAS.COM
Papan nama SMA Cokroaminoto Malang (C) IKELAS.COM

SMA Cokroaminoto merupakan salah satu Sekolah Menengah Atas yang ada di Kota Malang. Sekolah ini berada di bawah pengelolaan Yayasan Pendidikan Soetrash.

Sekolah ini berada di Jalan Serayu No. 2C, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Sekolah yang lebih dikenal dengan sebutan SMA Cokro ini berstatus sekolah swasta. Sekolah ini memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) 20540213.

Dalam kegiatan belajar mengajarnya, SMA Cokroaminoto jadi satu dengan bangunan sekolah lainnya, yakni SMK Pradnja Paramita. Kedua sekolah ini memang berada di bawah pengelolaan yayasan yang sama, yakni Yayasan Pendidikan Soetrash. Kebetulan, SMA Cokroaminoto sendiri memakai tiga ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajarnya di antara belasan ruangan yang ada di lokasi tersebut.

Lokasi sekolah ini cenderung tidak strategis dari sisi angkuta umum. Tercatat, hanya ada satu angkutan kota (angkot) yang melintas di dekat SMA Cokroaminoto, yakni Angkot PBB (Polowijen Borobudur Bunul). Itu pun angkot tersebut tidak melintas di jalan depan sekolah persis. Angkot jalur itu berhenti di terminal APK Bunul.

Seperti yang dilansir dari Okezone, SMA Cokroaminoto ini pernah masuk pemberitaan pada Juni 2012 silam. Kala itu, sekolah ini disebut-sebut menjadi lokasi perkuliahan ilegal yang dilakukan Sucipto, seorang dosen yang diduga sebagai pembuat ijazah palsu tingkatan S1, S2, hingga S3. Hal itu diketahui usai ditemukannya foto si pelaku yang terpampang di rumahnya. Dalam foto itu si pelaku tampak berpose di depan tangga sekolah yang disinyalir merupakan SMA Cokro.

Jalan Letjend Sutoyo, Ruang Tamu-nya Kota Malang

Banyak pilihan tempat menginap di sepanjang Jalan Letjend Sutoyo Malang (C) JALANJALANDIKOTAMALANG
Banyak pilihan tempat menginap di sepanjang Jalan Letjend Sutoyo Malang (C) JALANJALANDIKOTAMALANG

Kalau Jalan Letjend S Parman merupakan terasnya, maka beda lagi sebutan untuk Jalan Letjend Sutoyo. Jalan yang merupakan kelanjutan dari Jalan Letjend S Parman dari arah utara tersebut bisa disebut sebagai ruang tamu-nya Kota Malang.

Layak disebut sebagai ruang tamu-nya Kota Malang karena jika Anda datang dari arah Surabaya, Pasuruan, dan sekitarnya, untuk menuju ke pusat kota, maka harus melewati Jalan Letjend Sutoyo ini. Faktanya, memang jalan ini masih termasuk salah satu jalan utama di Kota Malang. Sebagaimana jalan protokol lainnya di kota ini, di sepanjang jalan tersebut didominasi oleh tempat usaha dan pertokoan. Ada deretan usaha hotel, seperti Hotel Pajajaran, Hotel Santika dan Hotel Savana. Menariknya, dulu terdapat Plaza Mitra 2 yang berubah menjadi Hotel Savana sekarang. Selain itu, terdapat jenis usaha lainnya seperti minimarket, bank, jual-beli kendaraan bekas, rumah makan, dan lain-lain.

Selain sebagai tempat usaha, Jalan Letjend Sutoyo juga menjadi area pemukiman penduduk Kota Malang. Pemukiman itu tersebar di gang-gang sempit di sepanjang jalan, baik di sisi timur maupun barat.

Jika lewat di Jalan Letjend Sutoyo dari arah utara, Anda akan bertemu pertigaan pertama. Kalau ke kiri, maka Anda akan menuju ke Jalan Indragiri di mana akan mengarah ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lowokwaru. Jalan tersebut bisa menjadi jalan pintas pula menuju ke RS Lavallete di selatan LP Lowokwaru.

Terus ke selatan, Anda akan sampai di pertigaan kedua. Jika belok kanan atau ke arah barat, Anda akan menuju ke Jalan Sarangan, di mana akan melewati Pemakaman Sanan. Jalan Letjend Sutoyo ini akan berakhir di sebuah perempatan di mana di salah satu pojokannya terdapat Restoran Sederhana Lintau 88 yang cukup terkenal. Perempatan itu merupakan persimpangan jalan antara Jalan WR Soepratman di sisi timur dengan Jalan Kaliurang di sisi barat. Sementara jika terus ke selatan, Anda akan memasuki Jalan Jaksa Agung Soeprapto di mana merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Malang.

Jalan Letjend Sutoyo pun dilewati beberapa jalur angkutan kota (angkot). Beberapa trayek angkot di Kota Malang yang melewati jalan yang secara administratif berada di Kelurahan Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru ini antara lain angkot TST, angkot CKL, angkot AJG, angkot ASD, angkot ADL, dan angkot GA.

Cerita Achmad Hudan Dardiri, Arek Malang yang Jadi Wali Kota Pasuruan

Achmad Hudan Dardiri saat menjadi Wali Kota Pasuruan (C) WIKIPEDIA
Achmad Hudan Dardiri saat menjadi Wali Kota Pasuruan (C) WIKIPEDIA

Achmad Hudan Dardiri merupakan Arek Malang asli Jagalan yang lahir 7 April 1924 silam. Sebelum meninggal dunia (juga di Malang) pada 26 Juni 2007, pada usia 83 tahun, ia sempat menjadi pejabat di luar kota. Sebelum menjadi Bupati Jombang (1979-1983), Hudan pernah menjadi Wali Kota Pasuruan (1969-1975).

Menjabat sebagai Wali Kota Pasuruan, Hudan mengembangkan semangat toleransi dan demokrasi, baik di kalangan pemerintahan, maupun kepada warga Pasuruan. Seperti diketahui, saat itu Pasuruan merupakan daerah yang memiliki potensi budaya dan sumber alam yang luar biasa. Kerukunan yang terjalin dengan baik tercermin melalui keberagaman masyarakatnya. Ada etnis Tionghoa dan Arab yang mendominasi masyarakat Pasuruan. Tak heran jika selain pengembangan dan pembangunan dalam sektor pemerintahan dan kebutuhan publik secara luas, toleransi antar etnis dan antar agama menjadi hal yang diprioritaskannya sejak menjabat.

Banyak bukti nyata penerapan toleransi yang dikembangkan sebagai bentuk kesadaran bagaimana memahami dan menghayati nilai-nilai agama Islam. Salah satunya, diterapkannya di Masjid Agung Pasuruan. Kebetulan, masjid tersbesar di Pasuruan tersebut sudah lama memiliki tradisi khutbah Jumat dengan menggunakan bahasa Arab, karena memang pemangku dan takmirnya kebanyakan dari keturunan etnis Arab.

Pada suatu ketika, tepatnya pada tahun 1969, Hudan yang kesehariannya berdinas di kompleks Balaikota Pasuruan di Jalan Balaikota No. 12, Pasuruan, memilih Sholat Jumat di Masjid Agung Pasuruan. Wali kota yang masa mudanya pernah nyantri itu datang ke masjid pada saat persiapan shalat Jumat sedang dilaksanakan oleh pemangku dan takmir masjid. Datang lebih awal sebelum jamaah lain, ia langsung menuju dan duduk di shaf terdepan. Tiba-tiba muncul seoarang takmir (keturunan etnis Arab) menemuinya dan memintanya untuk bergeser ke shaf belakang, karena shaf depan hanya untuk syaikh-syaikh Arab saja. Sempat kaget dan tertegun, Hudan kemudian tersenyum santun, menganggukkan kepala dan berbalik badan menuju shaf paling belakang.

Singkat cerita, khutbah Jumat pun disampaikan oleh khotib orang keturunan Arab dengan bahasa Arap pula selama tak lebih dari 20 menit. Setelah pelaksanaan sholat Jumat, salah satu takmir masjid mengumumkan bahwa Wali kota Pasuruan yang baru sedang shalat Jumat di masjid tersebut dan memmintanya maju ke mimbar podium untuk memberikan semacam pidato kecil. Hudan yang sejak awal datang memilih duduk di shaf paling belakang lantaran “diusir” salah seorang takmir, lantas maju ke depan. Mengenakan baju dan celana panjang yang sederhana, dan berkopyah hitam, sang wali kota membelah shaf para jamaah dengan merunduk permisi, penuh hati-hati dan kesopanan.

Di hadapan jamaah sholat Jumat, Hudan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh masyarakat Pasuruan yang telah menerima dirinya sebagai wali kota. Dalam forum tersebut, ia pun mengharapkan dukungan warganya untuk membantu dalam proses pembangunan di segala bidang yang diprogramkannya. Ia juga menghimbau kepada segenap masyarakat untuk tetap menjalin kebersamaan antar pemeluk agama dan etnis. Walikota yang pernah ikut perang kemerdekaan itu turun menyinggung sedikit soal khutbah yang disampaikan khotib, sebelum mengucapkan wassalam dan pamit mundur dari mimbar itu.

“Apakah sedoyo jamaah Jumat mangertos nopo ingkang dipun sampaikan khotib kolo wau?” (apakah jamaah sekalian mengerti apa yang disampaikan khotib tadi?), tanyanya kepada seluruh jamaah. Semua jamaah terdiam. Para syaikh dan takmir keturunan Arab pun tak menjawab.

“Jika semua jamaah mengerti khutbah dengan menggunakan bahasa Arab, ya monggo saja. Tetapi jika tidak paham, untuk apa khutbah bahasa Arab itu dijadikan khutbah rutin setiap Jumat? Maka, alangkah baiknya jika khutbah yang rutin tersebut juga diselingi dengan bahasa Jawa atau dengan bahasa Indonesia. Ini sekadar saran saya, sebagai warga Pasuruan sebagaimana panjenengan sedoyo. Semoga ada kebaikan dan manfaatnya di kemudian hari,” begitulah Ahmad Hudan Dardiri menutup pidato pendeknya.

Makan Sambil Nge-game di Logo Board Games and Cafe

Anda bisa main game tetris di Logo Board Games and Cafe (C) @bellaakharisma
Anda bisa main game tetris di Logo Board Games and Cafe (C) @bellaakharisma

Seperti namanya, Logo Board Games and Cafe tak cuma menyajikan makanan dan minuman seperti kafe-kafe lainnya di Malang. Di sini, Anda tidak cuma bisa ngafe, tapi juga nge-game bersama pasangan, keluarga atau teman-teman.

Game yang disediakan di kafe ini bukanlah game digital dari gadget atau smartphone, melainkan permainan populer zaman dulu sebelum era game digital. Ada UNO, kartu remi, monopoli, halma, steco, scrabble, ular tangga, dakon, hingga tetris yang bisa Anda mainkan di tempat makan satu ini. Anda bisa memainkannya bebas sesuai dengan stok permainan yang ada tanpa dipungut biaya.

Kafe ini sudah buka sejak tahun 2013 lalu. Logo Board Gemes and Cafe ini menyediakan tempat yang nyaman dan terdiri dari dua lantai. Khusus di lantai dua terdapat teras yang menjorok ke luar, tepat di atas tempat parkir yang ada di bawahnya. Banyak meja dan kursi yang bisa Anda pilih di kedua lantai ini. Selain itu, terdapat fasilitas free wifi dan colokan listrik bagi Anda yang ingin men-charge hp atau laptop.

Soal menu, Logo Board Gemes and Cafe menyediakan makanan berat, minuman, hingga camilan untuk menemani Anda bermain game. Aneka steak, pasta dan nasi dengan porsi besar menjadi andalan tempat nongkrong satu ini untuk memikat pembeli. Ada pula paket hemat dengan harga terjangkau, seperti Nasi Ayam Katsu BBQ, atau Nasi Ayam Teriyaki bisa dinikmati sepaket bersama segelas es teh atau teh leci. Sedangkan menu pencuci mulutnya ada puding, gula kapas, dan es krim dengan berbagai macam toping yang disediakan. Untuk minumannya, tersedia pilihan menu minuman jenis teh, frappe, dan lain-lain.

Harga menu makanan dan minuman di sini pun masih cukup terjangkau. Dengan merogoh kocek mulai dari 10 ribu hingga 30 ribu, Anda sudah bisa menikmati makanan dan minuman di Logo Board Gemes and Cafe.

Kafe ini buka setiap hari mulai pukul 11.00 sampai 23.00 WIB. Silakan datang ke Logo Board Gemes and Cafe yang terletak di Ruko Gajayana No. 20 A-B, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Bersantai di Taman Kodok Ngorek Kepanjen

Kepanjen punya Taman Kodok Ngorek (C) AKAIBARA
Kepanjen punya Taman Kodok Ngorek (C) AKAIBARA

Warga Kepanjen, Kabupaten Malang yang ingin bersantai menikmati Ruang Terbuka Hijau, sekarang tak perlu lagi jauh-jauh ke Kota Malang. Kecamatan yang jadi ibu kota Kabupaten Malang itu sudah punya Taman Kodok Ngorek yang berlokasi di tepi jalan.

Taman ini memang menempati lahan yang cukup strategis di tepian jalan utama Malang-Blitar, tepatnya di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen. Taman Kodok Ngorek berada di sebelah SPBU dengan nama yang sama. Menariknya, di seberang taman ini juga terdapat Perumahan Kepanjen 2 yang juga disebut Perumahan Kodok Ngorek. Tak jauh dari taman ini juga ada tugu perbatasan antara Kecamatan Kepanjen dengan Kecamatan Kromengan. Dulunya tempat ini hanya lahan kosong yang ditanami bunga hias khas tepian jalan. Namun, seiring perkembangan zaman, Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang menyulap lahan kosong itu menjadi sebuah taman.

Meski areanya tak terlalu luas dan cenderung memanjang di tepian jalan, namun kenyamanan akan Anda dapatkan jika berkunjung ke Taman Kodok Ngorek ini. Selain pepohonan rimbun, rerumputan hijau, bebatuan kecil, taman ini memiliki fasilitas bak taman bermain. Anda bisa menemui beberapa buah ayunan, sepeda-sepedaan kayuh, serta alat fitnes sederhana yang semuanya terbuat dari besi.

Selain bersantai, di Taman Kodok Ngorek ini Anda bisa berkuliner ria memanjakan perut. Biasanya, di tepian jalan terdapat beberapa penjual makanan, mulai dari bakso, es degan, aneka minuman segar, dan lain-lain. Anda bisa menyantapnya di dalam taman dengan leluasa, karena taman ini tidak berpagar. Anda bisa lesehan di atas rumput atau duduk di kursi yang berbentuk unik menyerupai drum besar yang muat untuk dua orang.

Taman Kodok Ngorek ini benar-benar gratis, tak dipungut biaya untuk tiket masuk. Parkirnya pun gratis, meski Anda harus mengawasi sendiri kendaraan yang diparkirkan, karena tidak ada tukang parkirnya.

Untuk mencapai taman ini, dari pusat Kota Malang butuh waktu tidak sampai satu jam. Dari kota, ambil arah ke Kecamatan Kepanjen melalui Kelurahan Kebonsari, lalu ke Kebonagung, Kecamatan Pakisaji. Sampai di perempatan setelah Pasar Kepanjen, ambil arah ke barat atau belok kanan. Tak jauh setelah melewati Jembatan Kali Metro, Anda akan menemui SPBU di kiri jalan (SPBU Kodok Ngorek). Ke barat sedikit Anda sudah sampai di Taman Kodok Ngorek di kiri jalan, tepatnya di depan gerbang Perumahan Kepanjen 2.

Rumah Sakit Bersalin Mardi Waloeja Rampal dan Sejarahnya

Penampakan Rumah Sakit Bersalin Mardi Waloeja Rampal dari depan (C) rsiamardiwaloejarampal.com
Penampakan Rumah Sakit Bersalin Mardi Waloeja Rampal dari depan (C) rsiamardiwaloejarampal.com

Rumah Sakit Bersalin Mardi Waloeja Rampal merupakan rumah sakit yang tercatat mulai berdiri pada tahun 1949. Dulunya, RSB ini merupakan cabang dari Rumah Sakit Ibu Anak Mardi Waloeja yang ada di Jalan Kauman No. 23 Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Kegiatan Rumah Sakit Bersalin Mardi Waloeja ini diawali oleh diadakannya kegiatan di Lowokwaru Gang IV, yang sekarang Jalan Letjend Sutoyo Gang IV, pada tahu 1940. Saat itu Rumah Sakit induknya yang dipimpin oleh zuster Belanda bernama Zr. Scuringa menugaskan seseorang bernama Soebijah untuk memimpin kegiatan tersebut. Dia dibantu oleh seorang perawat dan seorang pembantu rumah tangga.

Baru pada awal tahun 1948, Synode Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) membeli rumah di Jalan WR Supratman No. 1. Kemudian mereka memberikan izin kepada Mardi Waloeja untuk menempati rumah petak tersebut, sehingga kegiatan di Lowokwaru dipindahkan ke sini, tepatnya mulai 4 Januari 1949.

Karena kondisi rumah masih kosong, kegiatan persalinan dilakukan di luar rumah sakit. Waktu itu datanglah bantuan dari seorang mantri/bidan bernama Oemijatsih Mestoko yang secara tertulis menyatakan kesediaannya membantu Mardi Waloeja.

Akhirnya, kegiatan di rumah kosong tersebut pun mulai diseriusi dan dirintislah cabang dari RSIA Mardi Waloeja Kauman di sini. Dibantu seorang Perawat bernama Asripadmi yang saat itu masih bertugas di RSIA Mardi Waloeja Kauman. Selain itu, ada pula bantuan tenaga yang bertugas mengurusi urusan rumah tangga, dapur dan cucian. Meski masih sedikit, tenaga di RSB Mardi Waloeja Rampal ini cukup ulet, sehingga pelan-pelan ruangan mulai diisi dengan perabot sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mereka mampu membantu proses persalinan di dalam rumah sakit.

Dinas Kesehatan dan RS dr Soepraoen (RST) pun memberikan bantuan tenaga dokter. Mereka adalah dr. Dradjat, dan dr. Mohammad Imam. Ada pula dokter dari RS Mardi Santoso Surabaya yakni dr. J. Bastiaanzs yang khusus membantu persalinan luar biasa. Synode GKJW pun menerima tawaran tenaga dokter dari NHK (Gereja Belanda) yaitu dr. V.d. Horst sejak awal tahun 1950, yang bekerja hingga akhir tahun 1958.

Sejak saat itu, cabang RSB Mardi Waloeja Rampal ini mulai bisa membuka Poliklinik dua kali dalam seminggu. Tentu saja kesempatan ini banyak dimanfaatkan oleh warga sekitarnya untuk berobat.

Dokter V.d. Horst memberi bantuan berupa satu ruangan yang dapat menampung delapan tempat tidur pasien pada tahun 1957. Ruangan itu kemudian dijadikan untuk merawat pasien dengan kelas terendah, atau sekarang setara kelas IV. Karena waktu itu belum ada tenaga dokter tetap, maka RS Mardi Waloeja meminta bantuan pada RSU Saiful Anwar, yakni dr. Harjono dan dr. Atmodjo yang datang pada bulan Juni 1965. Kemudian, datang lagi dokter wanita bernama dr. Kityawati sejak Mei 1980.

Sejak tahun 1976, rumah sakit ini memiliki laboratorium yang menunjang pelayanan di RSB Mardi Waloeja, sehingga mereka dapat membuka poliklinik setiap hari. Poliklinik melayani pemeriksaan ibu hamil, anak yang sakit, imunisasi dan Keluarga Berencana, kecuali persalinan. Dokter dan Bidan yang dipekerjakan masih didatangkan dari RSIA Mardi Waloeja Kauman.

Cabang RS Mardi Waloeja ini kemudian berkembang menjadi Rumah Bersalin dan akhirnya sekarang ini statusnya menjadi Rumah Sakit Bersalin Mardi Waloeja Rampal. Managemen rumah sakit ini tadinya menjadi satu dengan RSIA Mardi Waloeja Kauman, dengan Direktur dr. Kityawati, MBA. Barulah pada awal Maret 2013, Rumah Sakit Bersalin Mardi Waloeja Rampal ini berdiri sendiri karena secara resmi telah memisahkan diri dari managemen RSIA Mardi Waloeja Kauman. Dokter Evi Laksana yang pertama diangkat sebagai Direkturnya. Kini, RSB Mardi Waloeja Rampal berada di bawah Yayasan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Sekarang ini, RSB tersebut tengah dalam proses menaikkan statusnya sebagai Rumah Sakit Ibu Anak seperti mantan induknya, RSIA Mardi Waloeja Kauman.

Dari Surabaya ke Pantai Malang Selatan dengan Kendaraan Pribadi

Kebanyakan Pantai Malang Selatan memasang papan peringatan seperti ini (C) AKAIBARA
Kebanyakan Pantai Malang Selatan memasang papan peringatan seperti ini (C) AKAIBARA

Kabupaten Malang memiliki daya tarik dengan gugusan pantai di pesisir selatan. Bagi Anda yang datang dari arah Surabaya membawa kendaraan pribadi, dan ingin ke pantai Malang Selatan, semoga artikel ini membantu.

Ada enam kecamatan di wilayah Kabupaten Malang yang tercatat memiliki pesisir pantai selatan. Membentang dari timur ke barat ada Kecamatan Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kecamatan Gedangan, Kecamatan Bantur dan Kecamatan Donomulyo. Untuk mencapainya, dari Kota Malang, Anda harus lebih dulu melewati kecamatan-kecamatan penghubung, seperti Kecamatan Bululawang, Kecamatan Turen, Kecamatan Gondanglegi, Kecamatan Pagelaran, Kecamatan Pakisaji, Kecamatan Kepanjen, Kecamatan Pagak, atau Kecamatan Kalipare.

Dari jalan utama Surabaya-Malang, Anda akan memasuki area Kabupaten Malang melalui Lawang, lalu ke Singosari. Jika terus ke arah selatan, Anda akan memasuki Kota Malang melalui Kecamatan Blimbing. Dari flyover Arjosari, terus saja ke selatan melalui Jalan Ahmad Yani, lalu ke Jalan Letjend S Parman, Jalan Letjend Sutoyo, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jalan Jendral Basuki Rahmat, hingga menemui Alun-alun Kota Malang.

Bagi Anda yang akan ke pantai di wilayah Kecamatan Donomulyo, silakan lewat Jalan Merdeka Barat di depan Masjid Jami’ Kota Malang, ambil ke kanan ke Jalan Kauman, sampai mentok lalu belok kiri di Jalan Arif Margono. Setelah melewati perempatan Kasin, terus saja ke selatan, sampai menemui Jalan S Supriadi. Anda akan melewati Pasar Sukun, pertigaan Janti, depan kampus Universitas Kanjuruhan dan sampai di pertigaan Kacuk.

Terus ke selatan, Anda akan melewati wilayah Kecamatan Pakisaji, lalu ke Kecamatan Kepanjen, lalu ambil arah ke barat ke Kecamatan Sumberpucung. Dari sini Anda bisa memilih lewat Kecamatan Kalipare atau Kecamatan Pagak untuk sampai ke Kecamatan Donomulyo di mana terdapat pantai tujuan Anda.

Untuk Anda yang akan ke pantai di kawasan Kecamatan Bantur, dari Kecamatan Kepanjen tadi bisa mengambil jalan ke arah timur, melalui depan Stadion Kanjuruhan Malang, dan melewati Kecamatan Pagelaran, sampai menemui pertigaan di depan Puskesmas Gondanglegi, ambil arah ke selatan menuju ke Kecamatan Bantur.

Jika Anda ingin ke pantai yang ada di Kecamatan Gedangan, Kecamatan Sumbermanjing, Kecamatan Tirtoyudo atau Kecamatan Ampelgading, dari Kecamatan Gondanglegi bisa ke selatan juga melalui Kecamatan Bantur dan cari Jalur Lintas Selatan (JLS) di mana Anda bisa menemui deretan pantai di tepian jalur tersebut.

Ada jalur lain dari arah Kota Malang untuk ke pantai di wilayah Kecamatan Sumbermanjing, Kecamatan Tirtoyudo, dan Kecamatan Ampelgading. Dari Alun-alun Kota Malang tadi, ambil arah kiri dari Jalan Basuki Rahmat (pojokan depan Sarinah Plaza) ke Jalan Merdeka Utara, belok kanan ke Jalan Merdeka Timur, lalu lurus ke Jalan SW Pranoto, hingga perempatan Jagalan, belok ke kiri ke Jalan Kyai Thamin. Lurus saja ke arah timur sampai menemui pertigaan lalu belok kanan ke Jalan RE Martadinata. Terus saja ke selatan melintasi flyover Kota Lama, lalu ke Jalan Kolonel Sugiono, sampai perempatan Gadang.

Terus ke selatan menuju Kecamatan Bululawang, sampai pertigaan Pabrik Gula Krebet, ambil arah ke kiri. Kalau bertemu pertigaan Wajak, ambil ke kanan menuju ke Kecamatan Turen, lalu ke Kecamatan Sumbermanjing, Kecamatan Tirtoyudo atau Kecamatan Ampelgading, tergantung di mana letak pantai yang ingin Anda kunjungi.

Sumber Ngembul, Potensi Malang Timur yang Terabaikan

Kecamatan Tajinan punya wisata air bernama Sumber Ngembul (C) JELAJAHMALANGKU
Kecamatan Tajinan punya wisata air bernama Sumber Ngembul (C) JELAJAHMALANGKU

Sumber Ngembul merupakan salah satu tempat di Malang Timur yang sebenarnya memiliki potensi dijadikan wisata andalan Kabupaten Malang. Sayang, potensi itu tak dikembangkan dan kini cenderung terabaikan.

Sumber air ini konon dibangun oleh PDAM Kabupaten Malang sejak tahun 1982. Namun, baru tahun 2016 lalu Sumber Ngembul diresmikan oleh Bupati Malang sebagai tempat wisata untuk umum. Menghasilkan debit air mencapai 1300 kubik per detik, sumber air ini dijadikan sebagai sumber kehidupan bagi warga masyarakat sekitar. Tak heran jika pipa-pipa menjadi pemandangan unik tersendiri di atas sumber air ini. Bahkan, airnya dialirkan hingga ke Kecamatan Gondanglegi, Kecamatan Bululawang dan Kecamatan Tajinan sendiri. Meski sudah menjadi tempat wisata, sumber air ini masih saja menjadi tempat warga sekitar mandi dan mencuci pakaian.

Terdapat tujuh kolam di Sumber Ngembul yang rata-rata berukuran 60 x 40 meter persegi. Masing-masing kolam air ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk budidaya ikan. Sejatinya, tempat ini memang digadang-gadang sebagai lokasi wisata pemandian sekaligus pemancingan. Bahkan, BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) setempat siap mengelola.

Berada di antara hamparan pepohonan rindang dan rerumputan hijau, membuat Sumber Ngembul sebenarnya memiliki pemandangan yang indah dan asri. Kesejukan khas suasana pedesaan pun dapat diandalkan untuk memikat pengunjung jika tempat ini benar-benar dikelola sebagai objek wisata alam. Apalagi di tempat ini terdapat spot-spot dengan latar belakang pemandangan yang menakjubkan yang dapat diabadikan lewat lensa kamera.

Sumber air ini berada di Desa Randugading, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Tadinya, keberadaan Sumber Ngembul sebagai lokasi wisata ingin dimaksimalkan oleh Permerintah Desa setempat. Sayang, keterbatasan dana membuat tempat ini seolah terbengkalai.

Untuk sampai di Sumber Ngembul tak butuh membuang waktu lama, karena letaknya yang tak terlalu jauh dari Kota Malang. Akses jalan yang cukup bagus menuju sumber ini membuatnya bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Yang paling menarik, untuk menikmati kesejukannya, Anda tak perlu mengeluarkan biaya, karena tidak ada tiket masuknya, alias gratis.

STAY CONNECTED

958FansSuka
196PengikutMengikuti
57PengikutMengikuti

POPULER