BERBAGI
Es Gandul, via cookpad.com
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Siapa sangka, Malang punya bangunan yang unik peninggalan Belanda. Salah satu bangunan tersebut adalah gedung kembar Kayutangan (sekarang Jalan Basuki Rahmat, Jalan Kahuripan, dan Jalan Semeru). Konon dua gedung kembar tersebut terinspirasi dari arsitek Belanda Herman Thomas Karsten yang punya anak kembar.

Di masa kolonial, Jalan Kayutangan dinamakan Jalan Pita. Ada dua versi kenapa Jalan di daerah tersebut dinamakan Kayutangan. Versi yang pertama adalah di tahun 1914 di kawasan tersebut ada papan penunjuk arah yang berbentu tangan besar yang berbahan kayu buatan belanda.

Sementara versi kedua adalah berkembangnya daerah alun-alun. Konon, disana terdapat sebuah pohon besar yang bentuknya menyerupai tangan. Entah siapa yang benar, karena dalam sejarah yang ditulis belanda, nama Kayutangan [Kajoetangan] sudah ada di buku Belanda tahun 1890.

Gedung kembar tersebut berhadapan dan dibelah oleh jalan poros yang menghubungkan Jalan Ijen melalu Semeroestraat (sekarang Jalan Semeru) dengan Stasiun Kota Baru atau tepatnya di perempatan yang dulu disebut Rajabaly. Di masa Belanda, perumahan Ijen adalah kawasan elit bagi pengusaha perkebunan Belanda. Adanya dua bangunan kembar tersebut seolah seperti gerbang sebelum memasuki jalan Ijen.

Bangunan kembar tersebut di sisi utara dulu ada Toko Buku Boekhandel Slutter-C.C.T van Dorp Co. Sekitar tahun 1950-an, bangunan ini berganti menjadi Toko Radjabali, dan perkembangannya sempat digunakan sebagai Dunkin’ Donuts hingga akhirnya pada tahun 2006 menjadi Pitstop Pool & Cafe, yang sekarang ditempati oleh sebuah pertokoan modern dan kafe.

Sedangkan, bangunan kembar di sisi selatan adalah Toko Emas Juwelier Tan yang kemudian pernah berganti menjadi bangunan Bank Artha Niaga Kencana. Tapi, kini bangunan tersebut beralih menjadi bangunan Bank Commonwealth Cabang Malang.

2015_12_03_Kayutangan3
Gedung kembar tahun 90an yang di depannya sudah berdiri sebuah Bank. (via: arsitek.in)

Dikutip dari arsitek.in, dikatakan jika kedua bangunan di Kayutangan tersebut menggunakan gaya Art Deco yang populer dimasa itu. Ada paduan unsur vertikal dan horisontal. Vertikal sebagai gerbang selamat datang dari Stasiun Kota Baru, karena dulu kereta api adalah moda transportasi penting, sedangkan sisi vertikal lain adalah adalah lukisan Gunung Putri Tidur sebagai background.

Gaya arsitektur sendiri beraliran Nieuwe Bouwen mengutamakan aspek fungsional yaitu mengadaptasi iklim setempat, ketersediaan bahan dan teknologi yang ada. Bangunan kembar ini memiliki menara di atas bangunan yang berfungsi sebagai pengamatan sekitar.

Perkembangan Bangunan Kembar Kayutangan.

Sebagai kota nomor dua terbesar di Jawa Timur, Malang terus berkembang secara pesat. Perkembangan ini juga berpengaruh kepada perubahan bangunan bersejarah ini.

Sayang perkembangan yang dimaksudkan adalah perkembangan yang tidak memperhatikan nilai sejarah, maklum adanya dua kepemilikan yang berbeda di dua bangunan itu tentu saja membuat perbedaan yang sangat signifikan terutama di tahun 90an ke atas. Tetapi perubahan tersebut dirasa masih lebih baik ketimbang bangunan yang berada didepannya yang dibongkar menjadi sebuah Bank Swasta.

Dulu, saat bangunan ini dibuat. Kepemilikan juga sudah berbeda satu sama lain. Namun, adanya kesadaran tata keindahan kota membuat bangunan terpelihara dengan sangat baik.

Gedung kembar Kayutangan sekarang
Gedung kembar Kayutangan sekarang (Foto: Abi Yazid)

Apresiasi layak diberikan kepada Bank Commonwealth yang tetap membiarkan cagar ini tertata seperti semula, agak berbeda dengan kembarannya di samping yang sedikit lebih menor. Sayang, modernisasi juga menghilangkan siluet pegunungan putri tidur karena tertutup oleh papan reklame yang membentang di jalan itu.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.