BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Tidak banyak yang tahu jika di Malang ada Patung Chairil Anwar. Sosok penyair yang dikenal dengan buku yang berjudul ‘aku’ ini merupakan penyair yang sangat dikenal di era Kemerdekaan.

Patung tersebut berlokasi di jalan Kayutangan [sejak tahun 1969, Jalan Kayutangan diubah menjadi Jalan Letjen Basuki Rachmad], tepatnya di depan Gereja Katolik Hati Kudus dan sangat dekat dengan Toko Oen. Jika anda pergi ke alun-alun lewat Jl Basuki Rahmat atau Jl MGR Sugiono, patung tersebut pasti akan terlihat dengan sangat jelas.

Patung tersebut hanya ada dua di Indonesia.  Selain di Malang, patung Chairil Anwar juga ada di Jakarta, tepatnya di Monas. Tetapi di Malang terbilang istimewa karena jika di Jakarta patung Chairil Anwar digabung dengan tokoh Indonesia lain dan ditempatkan di dalam gedung. Sementara di Malang berada di luar dan bisa dilihat siapa saja yang melintas. Sebuah penghormatan bagi Malang mengingat di tanah kelahirannya yaitu Medan patung Chairil tidak ada.

Patung Chairil Anwar, via: Instagram: yovi_507
Patung Chairil Anwar, via: Instagram: yovi_507

Adanya patung Chairil Anwar tidak lepas dari kenangan yang dia berikan di Malang. Sosok kelahiran Medan 26 Juli 1922 itu berada di Malang pada 25 Februari 1947 hingga 6 Maret 1947. Di saat itu, Malang ditunjuk sebagai Sidang Pleno Kelima Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebuah komite yang nantinya menjadi cikal bakal Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.

Lokasi sidang itu berada di bekas gedung Societiet Concordia zaman Belanda [Sekarang Sarinah]. Gedung tersebut bisa dibilang istimwa karena pernah menjadi tempat tinggal pertama bupati sekaligus menjadi tempat bagi warga belanda untuk berkumpul dari benteng pertahanan di Celaket.

Saat berada di Malang, Chairil menggubah puisi berjudul ‘Sorga’ (bertanggal 25 Februari 1947), ‘Sajak Buat Basuki Resobowo’ (bertanggal 28 Februari 1947) dan ‘Dua Sajak buat Basuki Resobowo’ (bertanggal 28 Februari 1947).

Empat bulan setelah sidang atau setelah menggubah puisi, gedung tersebut hancur porak-poranda karena serangan Agresi Militer Belanda I, kemudian semakin luluh lantak manakala ada agresi kedua bulan Desember 1948. Kondisi Malang semakin hancur setelah adanya taktik perang bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang. Konon, kehancuran beberapa gedung di Malang lebih parah dibandingkan di Bandung.

Di Malang, adanya patung ini tidak lepas dari Achmad Hudan Dardiri. Seorang intelektual dan pejuang yang kagum dengan karya Chairil. Hudan sendiri kemudian pernah menjabat sebagai Walikota Pasuruan (1969-1975), dan Bupati Jombang (1978-1983).

Hudan memimpin pembuatan patung yang detailnya diberikan kepada Widagdo. Kemudian diresmikan oleh Walikota Malang keenam M Sardjono pada 28 April atau sama tanggalnya saat Chairil wafat pada 28 April 1949 di usia 26 tahun.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.