BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Malang tidak hanya terkenal dengan kota Kuliner, kota Apel dan kota Dinginnya saja, namun terlepas dari itu semua Malang memiliki budaya yang begitu tinggi nilai estetikanya. Salah satu di antaranya adalah tari tradisional yang lahir dari Malang, yakni: Tari Topeng Malangan.

Topeng Malangan lahir sejak abad ke-13 Masehi, seperti yang kita tahu bahwa agama dan kepercayaan yang asli Indonesia adalah Animisme dan Dinamisme. Topeng Malangan ini adalah salah satu wujud kepercayaan Anismisme mereka. Kepercayaannya mengungkapkan bahwa mereka percaya jika nenek moyang datang untuk memberi berkat kepada anak cucunya dan menerima pemujaan mereka.

Kisah Panji Asmorobangun, yakni putera mahkota dari kerajaan Daha atau Doho (salah satu kerajaan besar di Jawa) adalah cerita yang disampaikan lewat Tari Topeng Malangan. Karakter pada cerita ini adalah: Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmarabangun), Galuh Candrakirana, Dewi Ragil Kuning atau Raden Gunungsari. Beragam karakter yang dibawakan penari, mulai dengan karakter ningrat yang elegan sampai yang keras dan agresif.

Detail topeng Malang, photo by Ilham Brahmantya
Detail topeng Malang, photo by Ilham Brahmantya

Pementasan tari topeng ini, biasanya membawa cerita kisah Panji Asmorobangun. Yakni putera mahkota dari kerajaan Daha, atau Doho, yang merupakan salah satu kerajaan besar di Jawa. Karakter-karakter pada cerita ini adalah, Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmarabangun), Galuh Candrakirana, Dewi Ragil Kuning atau Raden Gunungsari. Karakter-karakter yang dibawakan oleh para penarinya sangatlah beragam. Seperti kalangan ningrat yang bergerak dengan elegan, anggun, berwibawa, atau karakter yang membuat penarinya memainkan gerakan keras, agresif, dan tergesa-gesa.

Kisah dari Panji Asmorobangun ini singkatnya seperti ini:

“Alkisah Raden Panji Asmarabangun adalah putera mahkota dan akan menggantikan kedudukan Ayahandanya sebagai raja. Sedangkan Galuh Candrakirana adalah puteri raja kerajaan Jenggala. Kedua putera dan puteri mahkota itu dijodohkan dalam rangka mempererat hubungan diplomatik kedua kerajaan. Sayangnya kedua anak raja tersebut menolak perjodohan ini, karena Raden Panji telah mempunya kekasih yang bernama Dewi Anggraini, puteri patih kerajaan Panjalu. Singkat cerita, sang Raja, ayah dari Raden Panji Asmarabangun memerintahkan untuk membunuh Dewi Anggraini karena dianggap menjadi penghalang bersatunya kedua putera puteri Raja. Setelah kematian Dewi Anggraini, Raden Panji Asmarabangun mencari Dewi Galuh Candrakirana untuk dinikahinya. Cerita berakhir dengan perkawinan Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Galuh Candrakirana.”

Topeng Malangan ini biasanya setiap Senin Legi (kalender penanggalan Jawa) di sanggar tari Asmoro Bangun yang terletak di daerah Dusun Kedungmonggo Kecamatan Pakisaji Malang. Geding Giro menjadi iringan pembuka dan sekaligus penanda bahwa pementasan telah dimulai. Kemudian dilanjutkan juga dengan sinden yang ikut mengiringi jalannya pementasan tari Topeng Malangan.

Tari Topeng Malangan
Tari Topeng Malangan via batikimono.com

Pementasan tari yang biasanya dimulai sejak jam 20.00 WIB, sebelumnya mempunyai ritual khusus. Ritual tersebut adalah ketika dalang membaca mantra dan membawa persembahan ke panggung yang ditujukan kepada roh nenek moyang. Persembahan atau sesajen itu biasanya berupa kemenyan, sesisir pisang, air sari tape, bunga-bungaan, daun sirih segar, uang, nasi tumpeng, dan telur.

Seiring berkembangnya zaman, tarian ini mulai punah dan jarang bisa ditemukan. Hanya ada sedikit sekali yang masih membudayakan Tari Topeng Malangan, salah satunya sanggar Seni Asmoro Bangun pimpinan Bapak Handoyo, cucu dari Alm Mbah Karimun, seniman tari sekaligus perintis sanggar seni tersebut. Dan karena waktu juga, dulu yang pementasan tari mulai dari pukul 20.00 WIB hingga subuh, namun saat ini disederhanakan karena masyarakat lebih menyukai jalan cerita yang tidak terlalu panjang dan membosankan.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.