BERBAGI
Lambang Kota Malang pertama
Lambang Kota Malang pertama
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui -bahkan mungkin warga Malang Raya sendiri-, jika pada lambang Kota Malang pernah ada gambar singa. Bisa jadi, hal ini yang menginspirasi Jenderal Acub Zainal dan para pendiri Arema lainnya memilih gambar singa sebagai logo dan maskot klub yang mereka lahirkan 11 Agustus 1987 silam.

Namun, pemakaian gambar “raja hutan” ini pada lambang Kota Malang terjadi berpuluh-puluh tahun sebelum lahirnya klub yang berjuluk Singo Edan tersebut. Tepatnya pada 7 Juni 1937, 23 tahun setelah Malang ditetapkan menjadi Kotapraja pada masa pendudukan Kolonial Belanda.

Zaman dahulu, Malang memang merupakan bagian dari Kerajaan Belanda, sekalipun sudah memiliki status Kotapraja sejak 1 April 1914. Ketika pertama kali lambang Kota Malang ditetapkan, kota apel ini sedang dipimpin oleh J.H. Boerstra, yang merupakan walikota terakhir di masa pendudukan Kolonial Belanda.

Bentuk dasar lambang ini berupa perisai yang berwarna biru dengan mahkota berwarna kuning emas di atasnya dan berpadu dengan dasaran warna merah di bawahnya. Di dalam perisai itu ada gambar bunga teratai berwarna putih di pojok kiri atas. Perisai ini sendiri memiliki warna dasar biru. Sementara gambar singa yang dimaksud dalam artikel ini berada di sisi kanan dan kiri, tampak sedang memegang perisai tersebut. Selain dua ekor singa itu, ada pula seekor singa yang berada di dalam perisai. Ada pula pita berwarna putih tulang yang menjuntai bertuliskan “Nominor Sursum Moveor. Itu adalah semboyan lawas Kota Malang yang artinya “Malang Namaku, Maju Tujuanku”.

Secara umum, lambang pertama Kota Malang ini bermakna sebagai bagian dari Kerajaan Belanda. Gambar singa yang ada di dalamnya merupakan simbol kepahlawanan. Sementara itu, bunga teratai putih berarti kesucian.

Pada 30 Oktober 1951, lambang Kota Malang berganti lagi, tepatnya di masa kepemimpinan Walikota M. Sardjono Wiryohardjono. Sesuai semangat kemerdekaan, lambang Kota Malang mengadopsi bentuk burung Garudayang membentangkan sayap. Seperti diketahui, burung ini merupakan lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lambang ini memakai warna dasar kuning emas yang membentangkan sayapnya. Sebuah perisai berwarna hijau tergantung di dadanya. Di dalam perisai tersebut, selain dilengkapi gambar Tugu Kemerdekaan dengan untaian padi dan kapas,  bunga teratai putih yang terkembang, juga masih menyertakan gambar singa. Di bawah telapak kaki singa tersebut ada pita yang berjuntai dengan semboyan “Malang Namaku, Maju Tujuanku”.

Perubahan semboyan “Malang Namaku, Maju Tujuanku” pada lambang Kota Malang terjadi pada 1 April 1964, ketika kota ini merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-50. Kalimat tersebut diubah menjadi “Malangkucecwara”, yang artinya Tuhan menghancurkan yang bathil, dan menegakkan yang benar. Semboyan anyar ini dimasukkan dalam lambang Kota Malang atas usulan dari almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka di masa pemerintahan Walikota Koesno Soeroatmodjo. Semboyan ini dinilai sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang kira-kira 7 abad silam, tepatnya pada masa kejayaan Ken Arok. Sebab, kalimat “Malangkucecwara” ini telah dijadikan sebagai nama tempat di sekitar candi-candi peninggalan kerajaannya.

Selang enam tahun kemudian, lambang Garuda yang merentangkan kedua sayapnya dengan semboyan “Malangkucecwara” ini pun kembali berganti lagi. Perubahan yang dilakukan pada 14 Juli 1970 ini bisa dibilang paling drastis dari pergantian lambang sebelumnya. Lambang baru ini berupa perisai segi lima dengan warna merah putih mengelilingi bentuk segi lima tersebut. Dasar perisai segi lima ini berwarna hijau. Bintang bersudut lima berwarna kuning menjadi latar belakang gambar Tugu kemerdekaan yang letaknya di tengah. Selain itu, semboyan “Malangkucecwara” masih dipertahankan dan terpahat di sebuah pita berwarna keemasan. Lambang baru Kota Malang yang menanggalkan gambar singa ini disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah – Gotong Royong (DPRD-GR) dengan Perda No. 4/1970.

Dengan menanggalkan gambar singa dari lambang Kota Malang, bukan berarti menanggalkan pula sifat kejantanan dari Kera-kera Ngalam. Terbukti, hingga kini klub sepakbola kebanggaan warga Malang Raya dan Indonesia, Arema FC masih menggunakan sosok penguasa rimba itu di dalam logo dan sebagai maskot.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.