BERBAGI
Bus Malang City Tour
Bus Malang City Tour
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Mulai tahun 2015, Kota Malang punya bus unik dan spesial bernama Bus Malang City Tour, atau yang lebih akrab disebut Macito. Dengan berkeliling menggunakan bus milik Pemerintah Kota Malang ini, warga Malang Raya maupun wisatawan luar Kota Malang bisa sekalian belajar sejarah melalui tempat bersejarah melalui rute yang dilewati.

Bus Malang City Tour biasa mangkal di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang. Pada hari Senin hingga Jumat, bus ini biasa mengangkut rombongan wisatawan dari luar Kota Malang, sementara Sabtu dan Minggu warga Malang Raya menjadi prioritasnya. Jadwal keberangkatannya mulai pukul 09.00 WIB, kecuali hari Minggu berangkat pukul 09.30 WIB karena menunggu bubarnya CFD (Car Free Day) di Jalan Ijen.

Bus Macito berwarna hijau ini terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah terdapat 20 kursi, lalu di lantai atas juga ada 20 kursi, namun tanpa atap. Karena bak terbuka, penumpang di lantai atas wajib memperhatikan ranting-ranting pohon yang melintas di atas kepala. Ada baiknya penumpang di lantai tingkat atas ini mengenakan pelindung kepala seperti topi.

Berawal dari Alun-alun Tugu depan gedung DPRD Kota Malang, penumpang bus Macito akan dibawa ke masa Kolonial Belanda dengan mengamati Tugu yang ujungnya terdapat bambu runcing tersebut. Tugu yang menjadi ikon Kota Malang tersebut adalah saksi bisu perjuangan rakyat Malang dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan Belanda dan Jepang. Bambu runcing sendiri adalah senjata yang pertama kali dipakai rakyat Indonesia pada umumnya untuk mengusir penjajah. Di sekeliling Tugu tersebut terdapat kolam yang berisi bunga teratai putih lambang kesucian. Sementara taman bunga pun terhampar melingkar mengintari kolam tersebut.

Dari Alun-alun Tugu, bus Macito biasa bergerak menuju kawasan Kayutangan. Di perempatan tersebut dulunya terdapat sebuah papan penunjuk arah besar berbentuk tangan menunjuk yang terbuat dari kayu. Sayang, papan yang membuat daerah ini dinamai Kayutangan tersebut sudah tidak ada. Di seberang bangunan Bank Central Asia (BCA), dulunya terdapat sebuah showroom mobil (yang diklaim satu-satunya di Malang pada zamannya). Orang-orang biasa menyebutnya Rajabali, meski sebenarnya bernama Rajab Ali. Tepat di depan bangunan tersebut ada sebuah bangunan yang bentuknya serupa alias mengembari. Bangunan kembar ini seolah menjadi pintu gerbang masuk dari Kayutangan ke arah Jalan Ijen, yang terhubung oleh Jalan Semeru. Kawasan Ijen pada masa Kolonial Belanda memang menjadi daerah yang eksklusif sebagai tempat tinggal bagi para pengusaha perkebunan.

Dari Kayutangan, bus Macito bergerak terus ke arah Jalan Semeru, melewati gerbang bangunan kembar yang saat ini sudah tampak tak serupa lagi. Di sebuah bundaran kecil yang terletak di persimpangan dengan Jalan Arjuno terdapat sebuah tugu Adipura. Tugu tersebut dibangun karena Kota Malang telah lima kali menjadi kota terbersih sehingga meraih penghargaan Adipura dari Kementrian Lingkungan Hidup RI.

Masih di Jalan Semeru, bergerak ke barat meninggalkan Tugu Adipura, penumpang bus Macito akan kembali dibawa ke masa perjuangan mempertahankan kedaulatan negara ini. Ya, Monumen TGP (Tentara Genie Pelajar) berdiri kokoh di persimpangan jalan dengan Jalan Tangkuban Perahu. Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa para tentara pelajar Sekolah Teknik yang tergabung dalam kesatuan TGP yang lahir di sekolah mereka yang kala itu terletak di Jalan Semeru.

Di sebelah barat Monumen TGP berdiri dengan gagah Stadion Gajayana Malang. Stadion ini menjadi stadion tertua di Indonesia, bahkan lebih tua dari Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. Konon, di masa kejayaannya dulu, Gajayana menjadi stadion terbesar se-Asia. Di stadion ini lahir dua klub kebanggaan Malang Raya, yakni Persema Malang dan Arema Malang. Dalam perkembangannya, stadion ini sudah mengalami beberapa kali renovasi, mulai peninggian tembok stadion hingga penambahan tribun dan kapasitas.

Bus Macito terus bergerak ke arah barat, hingga ujung Jalan Semeru yang berpotongan langsung dengan Jalan Ijen. Sebuah perpustakaan umum Kota Malang berdiri di pojokan sebelah utara pertigaan tersebut. Perpus Kota ini memiliki koleksi buku yang diklaim terlengkap di Malang.

Sebuah boulevard alias taman bunga di sepanjang Jalan Ijen bakal menyambut mata para penumpang bus. Di kiri-kanan jalan kembar ini bisa dilihat rumah-rumah kuno berarsitektur khas kolonial yang berjajar rapi. Di depan rumah-rumah ini juga terbentang trotoar lumayan lebar yang dibatasi oleh pohon-pohon palem yang konon belum pernah diganti sejak ditanam pada masa Kolonial Belanda dulu.

Di tengah hamparan taman bunga di Jalan Ijen terdapat sebuah museum perjuangan bernama Museum Brawijaya. Banyak hal yang bisa dipelajari di museum yang juga menyimpan piranti peninggalan zaman perang merebut dan mempertahankan kemerdekaan ini. Di seberang museum juga terdapat Monumen Seroja. Monumen berbentuk kelopak bunga seroja ini dibuat oleh Sekolah Tentara Suropati, dan dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan.

Perjalanan bus Macito berlanjut ke arah utara Jalan Ijen, menuju Jalan Simpang Balapan. Di bundaran jalan ini terdapat Monumen Hamid Roesdi. Pada masa perjuangan, Mayor Hamid Roesdi merupakan seorang komandan pasukan yang paling ditakuti lawan dan disegani kawan dan anak buahnya. Monumen ini dipersembahkan untuk mengenang jasa sang Mayor.

Bus Macito kembali ke arah selatan Jalan Ijen, melewati depan Gereja Katedral Ijen, hingga perempatan Ijen, lalu berbelok ke Jalan Kawi menuju Alun-alun Merdeka alias Alun-alun Kota Malang. Bus ini mengakhiri perjalanannya sekitar pukul 12.00 WIB dan membawa penumpang kembali ke depan gedung DPRD Kota Malang.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.