BERBAGI
Prasasti Dinoyo - www42.tok2com
Prasasti Dinoyo - www42.tok2com
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Sebagai salah satu kota tua di Indonesia, di Malang banyak ditemukan bukti-bukti peninggalan zaman kerajaan kuno. Selain artefak berupa candi atau gerabah, ditemukan pula prasasti. Seperti halnya dengan Prasasti Dinoyo yang saat ini tersimpan rapi di Museum Nasional Jakarta.

Prasasti Dinoyo berupa lempengan batu yang berisi ukiran beberapa baris tulisan. Prasasti ini ditemukan 5 kilometer di sebelah barat Kota Malang, tepatnya di kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Prasasti Dinoyo ditemukan pada zaman penjajahan Belanda dalam keadaan terpecah menjadi tiga bagian. Bagian tengahnya ditemukan di Kelurahan Dinoyo, sedang bagian atas dan bawah ditemukan di Desa Merjosari yang letaknya di antara Kelurahan Kejuron dan Kelurahan Dinoyo. Sebuah dugaan diungkapkan oleh De Casparis bahwa batu prasasti itu berasal dari Kejuron yang kemudian dibawa ke Dinoyo. Namun belum ada keterangan tahun pasti ditemukannya prasasti ini.

Prasasti Dinoyo bisa dibilang prasasti yang unik. Warga Malang Raya patut berbangga karena prasasti Dinoyo ini menjadi prasasti pertama yang mengandung perpaduan huruf Jawa Kuno (Kawi) dengan menggunakan bahasa Sansekerta.

Berdasarkan sejarahnya, wilayah Kelurahan Dinoyo dan sekitarnya yang berada di tepian Sungai Metro diketahui merupakan kawasan pemukiman yang memiliki nilai sejarah. Berbagai bangunan percandian, arca-arca, bekas-bekas pondasi batu bata, bekas saluran drainase, beraneka bentuk gerabah, dan prasasti-prasasti dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9) ditemukan di tempat yang berdekatan, termasuk Prasasti Dinoyo ini.

Secara kasat mata, prasasti ini merupakan bukti adanya pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan, salah satu kerajaan tertua di Jawa Timur, jauh sebelum Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit berdiri. Prasasti Dinoyo ini menceritakan tentang masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan di bawah pimpinan Raja Dewa Simha. Salah satu yang membuktikannya adalah cara penulisan tahun berbentuk candrasangkala berbunyi Nayana Vasurasa atau 286. Untuk membacanya harus dibalik menjadi 682, sehingga Prasasti Dinoyo berangka tahun 682 Saka. Jika diubah ke dalam tahun Masehi, maka prasasti ini berangka tahun 760 Masehi. Itu artinya, Prasasti Dinoyo dibuat 13-an abad silam atau lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu.

Menurut penelitian L. Damais dalam Stude d’Epigraphy d’Indonesia IV (1952) disebutkan bahwa prasasti tersebut tidak saja menyebutkan candrasengkala, melainkan juga menyebutkan beberapa rasi bintang yang bertepatan dengan hari Jum’at Legi, 28 November 760 M. Hal tersebut yang akhirnya mendasari ditetapkannya 28 November 760 M sebagai hari jadi Kabupaten Malang.

Huruf Kawi yang ada pada Prasasti Dinoyo yang diketemukan ini menceritakan bahwa pada abad VIII ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (sekarang Desa Kejuron). Kerajaan ini diperintah oleh raja bernama Dewa Simha yang memiliki putra bernama Limwa (saat menjadi raja menggantikan sang ayah, dia dijuluki Gajayana). Pada masa pemerintahanya, disebutkan Dewa Simha mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk penghormatan terhadap Dewa Siwa, berupa arca Maharsi Agastya yang terdapat di Candi Badut dekat Kota Malang. Di dalam candi tersebut berisikan sebuah lingga dan arca bernama Putikeswara yang merupakan lambang Agastya yang selalu digambarkan seperti Siwa sebagai Mahaguru. Tempat pemujaan ini diresmikan tahun 760 Masehi. Upacara peresmiannya dilakukan oleh para pendeta ahli Weda (agama Siwa).

Isi Prasasti Dinoyo ini juga sempat diklaim sebagai salah satu jalan untuk menguak sejarah masa lalu dan asal usul Malang. Kurang lebih, isi prasasti ini menerangkan bahwa di Malang pernah berdiri sebuah kerajaan yang disebuat Kanjuruhan yang dipimpin oleh raja nan bijaksana bernama Dewa Singha. Raja ini memiliki putera bernama Liswa yang kelak menjadi penerus kekuasaannya. Setelah menjadi raja, Liswa memiliki gelar Gajayana. Putra Dewa Singha ini disebutkan sangat memuliakan sang Resi Agastya. Gajayana memiliki seorang putri bernama Uttejana, yang kelak menikah dengan Raja Pradaputra yang merupakan klan dari kerajaan di kawasan Barat.

Bagian tengah Prasasti Dinoyo di Perpustakaan Universitas Leiden, OD-743
Bagian tengah Prasasti Dinoyo di Perpustakaan Universitas Leiden, OD-743

Berikut ini adalah transkripsi lengkap Prasasti Dinoyo.

  1. (svasti śaka varṣātīta 682)
  2. || āsīt (nārāpatiḥ dhīman devasiṁhaḥ)
  3. tāpavān yena gupta (parībhāti pūtikeśvā)
  4. rapāvitā || limvaḥ api tana(-yaḥ tasyagajayānaḥ)
  5. iti smṛtaḥ rarakṣa svarggage tate (sutañ puruṣan maha)
  6. || limvasya duhitā jajñe prada(patrasya bhupateḥ utteja)
  7. nā iti mahiṣī jananī yasya dhīmataḥ || a(nanaḥ (?) kalaśa)
  8. je bhagavati agastyebhaktaḥ dvijātihitakṛdgaja(-yānanā[mā])
  9. maulaiḥ saṇayakagaṇaiḥ samakārbaittad taramyan maha
  10. rṣibhavanam valahājiyamyaḥ || pūrvvaiḥ kṛtam tu suradā rumayī[ṁ] [ || ]
  11. samīkṣya kīrttipriyaḥ tala galapratimāṁ manasvī ājñā
  12. pya śilpinam aram saḥ ca dīrghadarśśī kṛṣṇādbhutopalama
  13. yīm nṛpatiḥ cakāra || rājñāgastaḥ śakabde nayana vasu
  14.  rase mārggaśirṣe ca māse addrartthe śukra vāre pratipa
  15. da divase pakṣasandhau dhruve {cha} ṛtvigbhiḥ vedavidbhiḥ yativara
  16. sahitaiḥ sthāpakadyaiḥ samaumaiḥ karmajñaiḥ kumbhayagne sudda ḍha
  17. matimata sthāpitaḥ kumbhayoniḥ || kṣetram gāvaḥ supuṣpāḥ mahiṣa
  18. gaṇayutāḥ dāsadāsī purogāḥ dattā rājñā maharṣi pravaracaruha
  19. vissanānasambardhanādi [ | ] vyāpārātham bhuvanamapi gṛhamu
  20. ttaram ca adbhutam ca viśram bhāya atithīnām yavayavi
  21. kaśayyācchā danai suprayuktam || ye bāndhavāḥ nṛpasutāḥ ca
  22. samantrimukhyāḥ dattau nṛpasya yadi te pradikulācittāḥ [|] nāsti
  23. kyadoṣa kuṭilāḥ narake pateyuḥ na amūtra ca neha ca gatim
  24. (…)āṁ labhante || vaniśyāḥ nṛpasya rucitaḥ yadi dati vṛddhau āstikya
  25. (śuddhamatayaḥ…)pūjāḥ | dānādyapuṇya yasanādhyāyanā
  26. (diśilāḥ rakṣantu rajyam [akhilaṁ]) nṛpatiḥ yathā evam ||

Keterangan:
a. (alih-aksara) = alih aksara yang ada di potongan yang lain.
b. (…) = aksara yang hilang.
c. [ ] = bagian yang seharusnya ada di prasasti.
d. { } = aksara yang belum pasti.

Terjemahan:
Terjemahannya menurut Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, dengan mengganti kata Liswa menjadi Limwa, dan dibagi sesuai bait adalah sebagai berikut.

  1. Kemuliaan di tahun Saka 682 yang telah berlalu.
  2. Ada seorang raja bijaksana dan berkuasa, (namanya) Dewasimha, di bawah lindungannya api Putikeswara yang menyebarkan sinar di sekelilingnya.
  3. Juga Limwa, putranya, yang bernama Gajayana, melindungi manusia bagaikan anaknya, ketika ayahnya marak ke langit.
  4. Limwa melahirkan anak perempuan, namanya Uttejana dan dia adalah permaisuri raja Pradaputra.
  5. Dia juga ibu A-nana yang bijaksana, cucu Gajayana, orang yang selalu berbuat baik terhadap kaum brahma, dan pemuja Agastya, tuan yang dilahirkan dari tempayan.
  6. (A-nanah) (yah) yang menyuruh penduduk dan banyak orang penting untuk membangun kediaman yang indah untuk Agastya yang agung dan suci, untuk menghancurkan kekuatan musuh (atau: wabah penyakit disentri).
  7. Sesudah dia melihat patung Kalasaja dari kayu cendana yang dibuat oleh nenek moyangnya, dan tak boleh dipandangnya lebih lama, diapun dengan segera memerintahkan kepada seorang seniman untuk membuat arca resi yang sama dari batu hitam yang keindahannya sangat menakjubkan.
  8. Pada tahun saka 682, di bulan Margasira, pada hari Jum’at, hari pertama dari pertengahan bulan baru, pada kumpulan bagian-bagian bulan yang gelap dan yang terang, di Ardranaksatra, sementara horoskop menunjukkan Aquarius, maka raja yang bersemangat memerintahkan para pendeta, para ahli Weda, para pertapa, pedanda yang menyiramkan air, pertapa dan ahli-ahli, untuk mendirikan patung Kumbhayoni.
  9. Pada kesempatan itu raja menghadiahkan kepada Ksrtra sapi dan sekumpulan kerbau gemuk, budak-budak lelaki dan perempuan, yang diperuntukkan bagi pemandian suci, upacara pembakaran dan persembahan kurban padi, untuk menghormati tokoh resi yang hebat dan agung. Didirikan juga tempat tinggal kaum Brahmana, serta rumah tinggi dan indah, lengkap dengan pakaian, tempat tidur, gandum, dan padi, untuk peristirahatan bagi para tamu.
  10. Apabila sanak keluarga, para putra raja dan para perdana menteri bermaksud merintangi gagasan raja ini, maka mereka akan cacat karena berada di jalan yang sesat dan penuh dosa, mereka akan terjerumus ke dalam neraka dan baik di sini maupun di akhirat mereka tidak akan menginjakkan kaki di jalan pembebasan. Jika keturunan raja dalam hal meningkatkan gagasan itu dihalang-halangi, semogalah pikiran-pikiran suci bersih, pernyataan-pernyataan hormat, hadiah-hadiah dan perbuatan baik, kurban-kurban, pelajaran Weda dan perbuatan-perbuatan baik lainnya melindungi kerajaan. Demikian bunyi perintah raja.
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.