BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Bambang Nurdiansyah, pemain legendaris Indonesia yang saat ini berkarir sebagai pelatih di klub Indonesia Super League. Dirinya memang bukan kelahiran Malang, namun jangan pernah anggap dia bukan Arek Malang.

Kepada Ngalam.co Bambang bercerita jika dirinya memang lahir di Banjarmasin pada 28 Desember 1958. Tetapi kelahiran itu terjadi karena orang tuanya yang merupakan anggota Polisi yang kebetulan sedang bertugas di sana. Sehingga dirinya mengistilahkan numpang lahir.

“Aku iki Arema rek, Arek Malang yang numpang lahir di Banjarmasin. Saat itu, orang tua sedang tugas disana dan saya lahir. Kemudian saya dibesarkan di Malang,” kata Bambang di sela-sela kedatangannya di Malang untuk membawa Persija Jakarta menghadapi pertandingan Piala Jenderal Sudirman di Malang, Oktober 2015 lalu.

Dimulai Dari Lapangan Taman Gayam

Bambang membeberkan jika dirinya dulu bermain bola di Lapangan Taman Gayam. Karena kebetulan sangat dekat dengan rumahnya di kawasan Bareng. Dulu remaja di Malang punya kelompok-kelompok untuk pergaulan tersendiri yang biasa disebut dengan geng. Selain digunakan sebagai alat berkelahi, geng juga terlibat dengan berbagai kegiatan olahraga. Salah satunya adalah turnamen sepakbola di Taman Gayam.

“Saat SMP ada turnamen di Taman Gayam, dan saya katanya tampil beda ketika anak-anak lain bermain dengan sepakbola keras menjurus kasar. saya bermain dengan teknik,” kenang Bambang.

Di Taman Gayam dirinya juga kerap bermain melawan anak-anak yang lebih dewasa, pengalaman itu menjadikan dirinya termasuk striker yang tahan pukul saat dihajar bek lawan. Ketekunannya kepada sepakbola tidak berhenti dan terus dia tingkatkan saat sekolah di STM (Sekolah Teknik Mesin).

Lapangan Taman Gayam punya jasa besar karena dari situ dirinya berkenalan dengan beberapa pelatih untuk kemudian bermain di klub amatir Indonesia Muda [IM] yang sering melakukan pertandingan di Stadion Gajayana. Kemudian pindah ke PSAD Surabaya dan juga tim junior Persebaya Surabaya. Bambang kemudian bergabung dengan Arseto pada awal tahun 1979. Pemain sayap legendaris timnas, Alm. Abdul Kadir, yang mengajak Bambang hijrah dari Surabaya ke Jakarta dan bergabung dengan Arseto.

Bambang menjadi mesin gol yang ganas bagi klubnya saat itu, Pelita Jaya (Foto: Tabloid Bola)
Bambang menjadi mesin gol yang ganas bagi klubnya saat itu, Pelita Jaya (Foto: Tabloid Bola)

Dikutip dari Tabloid Bola, baru sekitar dua pekan bergabung dengan klub milik putra Presiden RI Soeharto, Sigit Haryojudanto,  Bambang sudah dibawa mengikuti tur Arseto ke Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Dalam tur itulah nama Bambang meroket. Pria kelahiran Banjarmasin itu mencetak tujuh gol dalam delapan pertandingan tur Arseto. Ia bikin hattrick kala melawan Indonesia Muda Yogyakarta, mencetak satu gol ke gawang PSIM, satu gol ke gawang Tidar Sakti di Magelang, dan dua gol ke gawang klub PPP di Solo.

Bambang muda pun banjir pujian. Pemain paling senior di Arseto, Abdul Kadir, berkata, “Dia Gerd Mueller kita”. Harian Kompas pun sampai menayangkan profil tentang Bambang. Pada Kompas edisi Minggu 25 Februari 1979, wartawan Sumohadi Marsis membuat judul: “Mengenal Bambang Nurdiansyah, “Gerd Mueller”nya Arseto”.

Di masa jayanya, Bambang adalah striker yang ganas. Atas kepiawaiannya itu dia oleh tabloid Bola dijuluki Gerd Müller dari Indonesia. Prestasi yang ditorehkannya juga tidak main-main karena dia mampu membawa Pelita Jaya menjadi juara Galatama sebanyak dua kali (1989/90, 1990), Yanita Utama dua kali (1983/84, 1984), dan Kramayudha Tiga Berlian sekali (1985).

Kasus Suap Di Timnas, Bambang Gabung Arema

Masa jaya Bambang Nurdiansyah sempat terhempas ke bumi. Hal ini tidak lain karena adanya kasus suap yang menerpa dirinya saat membela tim nasional di tahun 1987 di Pra Olimpiade melawan Singapura dan Jepang pada babak penyisihan Pra Olimpiade di Singapura dan Tokyo.

Di dua pertandingan tersebut, pelatih timnas saat itu, Berce Matulapelwa curiga dan marah besar dengan perilaku pemain-pemainnya. Pasalnya, mereka seperti bermain tanpa semangat hingga akhirnya kalah 2-0 atas Singapura dan 3-0 atas Jepang.

Keempat pemain yaitu Noach Maryen, Elly Idris, Bambang Nurdiansyah dan Louis Mahodim kemudian dituding menerima suap, mereka pun di sanksi PSSI hukuman larangan bermain selama 3 tahun.

Akibat kasus ini Bambang seperti bermain tidak maksimal Galatama musim 1988/1989. Salah satunya saat bermain di Stadion Gajayana melawan Arema. Teriakan ‘maling..maling’ memenuhi setiap sudut stadion manakala dirinya menguasai bola. Tidak hanya saat bermain, teror kepada Bambang juga dialamatkan saat Pelita Jaya menjalani latihan.

Bos Arema Malang, Alm. Lucky Acub Zainal merasa iba dengan fenomena ini. Apalagi dirinya juga bersahabat baik dengan Bambang karena di luar sepakbola juga sama-sama penyuka otomotif. Kemudian, dirinya meminta kepada Nirwan Bakrie untuk meminjam Bambang setahun saja di Arema di Galatama IX musim 1989.

Gayung pun bersambut, Nirwan luluh setelah ada jaminan dari Lucky jika makian kepada Bambang yang begitu kencang di Gajayana akan berubah menjadi dukungan. Arema pun di tahun itu juga merasa untung karena untuk meminjam Bambang tidak ada biaya yang dikeluarkan. Bambang yang notabenenya masih menjadi pemain maha karena statusnya sebagai pemain timnas gajinya masih ditanggung Pelita Jaya.

Saat kembali ke Pelita Jaya dirinya membawa Pelita Juara. Pada senja kariernya di lapangan, Bambang ikut memberikan kontribusi untuk membawa tim sepak bola Indonesia meraih medali emas SEA Games 1991 di Filipina di bawah asuhan almarhum pelatih dari Rusia, Anatoly Polosin.

Tahun 1991, sesaat sebelum bermain di SEA Games (Foto: Tabloid Bola)
Tahun 1991, sesaat sebelum bermain di SEA Games (Foto: Tabloid Bola)

Prestasi bersama timnas dari Bambang adalah saat hampir lolos ke Piala Dunia 1986 dengan menjadi juara grup. Namun kesempatan akhir untuk lolos gagal setelah dua kali dikalahkan Korea Selatan dengan skor 2-0 di Seoul dan 4-1 di Jakarta.

Sebelumnya, di masa muda Bambang pernah bermain di Piala Dunia Junior tahun 1979 di Tokyo. Namun, saat itu Indonesia kalah dengan skor 5-0 melawan Argentina yang diperkuat Maradona.

Informasi pribadi
Nama lengkapBambang Nurdiansyah
Tanggal lahir28 Desember 1958 (umur 57)
Tempat lahirBanjarmasin, Indonesia
Posisi bermainPenyerang
Tim nasional
TahunTimTampil(Gol)
1980-1991Indonesia21(2)
Kepelatihan
TahunTim
2005Indonesia (karteker pelatih)
2005PSIS Semarang
2006Pelita Krakatau Steel
2006–2007Indonesia U-23 (asisten pelatih)
2007Pelita Jaya Jawa Barat (direktur teknik)
2008Arema Malang
2008–2009PSIS Semarang
2011 (5 bulan)Jakarta FC 1928
2011–2014Persiram Raja Ampat
2014 – 2015Persita Tangerang
2015 – SekarangPersija Jakarta
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.