BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Alun-alun kota Malang sejak dahulu memang sangat ramai.  Pada periode 1960-an, ada penjual obat keliling yang sangat diingat dan dikenal berjualan di alun-alun.

Ebes sendiri sebenarnya kurang tahu namanya itu, tetapi dari sumber yang didapatkan dari Dukut Widodo, seorang penulis sejarah kota Malang menyatakan jika nama penjual obat keliling itu adalah Mukri – ejaan lama Moekri. Dukut juga punya pengalaman yang sama dengan penjual obat tersebut. Bahkan dirinya juga mengaku pernah menjadi model atraksinya sehingga ingat betul dengan nama penjualnya.

Kembali ke cerita tentang Mukri, dia terkenal di masa itu karena punya teknik khusus untuk menjual dagangannya. Di tahun tahun 60-an sosok seperti ini dianggap seperti mantri yang bisa menyembuhkan segala penyakit.

Mukri berjualan dengan cara mempertontonkan atraksi akrobat saat jualan, ebes yang di masa itu masih anak-anak sudah ikut bergerombol manakala suara Mukri melengking keras memanggil pelanggan. Biasanya atraksi pertama yang dia lakukan adalah mengendarai sepeda roda satu sembari berteriak.

Dari sebuah kotak yang dia bawa, Mukri mengeluarkan berbagai macam bahan yang dia bawa untuk melakukan atraksi. Kegiatan tersebut benar-benar dimulai saat penonton sudah menyemut dan membentuk semacam lingkaran yang mengelilinginya.

Kurang lebih seperti ini atraksi dari Mukri. Namun, orang ini bukan Mukri karena di masa itu belum ada smartphone yang bisa mengabadikan dengan mudah. (Foto: Malang Tempo Dulu)
Kurang lebih seperti ini atraksi dari Mukri. Namun, orang ini bukan Mukri karena di masa itu belum ada smartphone yang bisa mengabadikan dengan mudah. (Foto: Malang Tempo Dulu)

Ketika penonton sudah berkumpul, Mukri melakukan atraksi lain seperti memasukkan paku kedalam hidung tanpa berdarah, hingga aksi sulap yang ringan-ringan. Sulap yang paling diingat ebes adalah sulap menghilangkan uang dan ketika dipanggil uang itu kembali ke saku penonton lagi. Di akhir sesi, Mukri mempertunjukkan kemampuan obat yang dijual kepada orang yang dia pilih secara acak. Selama berjualan, Mukri benar-benar mampu menguasai panggung karena dia kerap mendapatkan tepuk tangan meriah dari penonton di setiap atraksinya.

Mukri diceritakan sebagai pria yang banyak bicara. Tetapi hal itu memang dimaklumi karena memang dirinya ingin membuat obatnya laku. “Mohon maaf, ini bukan ajang pamer, ini hanya menguji saya, yang punya ilmu jangan mengganggu,” kata ebes menirukan ucapan Mukri yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Sementara itu, obat yang dijual Mukri sebenarnya terlihat sederhana. Namun, sangat diperlukan dalam keseharian di masa 60-an. Seperti obat sakit gigi, obat panas, obat panu, obat caplak, obat gosok, obat kuat dan ramuan pemikat lawan jenis.

Terkadang orang membeli obat tersebut bukan karena sedang membutuhkan, melainkan memberikan uang atas jerih payah Mukri yang sudah memberi hiburan dengan aksi sulap. Kadang juga, banyak orang langsung pulang begitu sulap selesai, tetapi Mukri tetap tersenyum dengan kondisi ini.

Bagi penulis yang hidup di masa anak-anak tahun 1980-1990-an atraksi dan pertunjukan sulap dari penjual jamu ini memang masih terlihat ada di alun-alun Kota Malang. Namun ebes menceritakan jika sulap yang dilakukan oleh penjual obat keliling di alun-alun bukan dilakukan oleh Mukri, entah siapa yang jelas orangnya juga berbeda, terutama tekniknya yang sudah modern.

“Kalau sekarang banyak dilakukan dengan hewan seperti ular, atau sulap debus. Di zaman dahulu atraksi menggunakan hewan masih sedikit karena kami terbiasa menangkap hewan liar di sawah sehingga hal itu sudah biasa,” terang ebes.

Kini menginjak tahun 2000an, penjual obat keliling sudah jarang sekali tampak. Seiring ilmu pengetahuan yang kini dimiliki oleh manusia, Eksistensinya kalah dengan keberadaan Apotek yang menyemut di setiap jalanan kota. Sementara sosok seperti Mukri ini harus berjalan dari kota ke kota dengan jalan kaki.

Ada yang masih ingat Mukri?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.