BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Perjalanan sejarah Arema, sebagai klub dan ikon kebanggaan Malang Raya, tak lepas dari peran suporter bernama Aremania yang senantiasa memberikan dukungan, apapun dan bagaimanapun kondisi tim yang diidolakan. Maka, sebutan pahlawan Arema layak disematkan pada mereka, Aremania.

Dalam perkembangan sejarahnya, Aremania tak hanya didominasi oleh kaum pria, namun juga terdapat suporter wanita, yang kemudian dikenal dengan sebutan Aremanita. Bahkan ada klaim yang menyatakan Aremanita ini sebagai pelopor adanya kelompok suporter dari kaum hawa. Saat ini, tak hanya orang dewasa saja yang membaptis dirinya sebagai Aremania dan Aremanita. Mulai dari remaja, hingga anak-anak pun tak melewatkan euforia dalam mendukung skuat berjuluk Singo Edan, hingga akhirnya dikenal lah istilah Aremania Licek dan Aremanula bagi Aremania usia lanjut.

Kita mengenal almarhum Acub Zainal, bapak sekaligus orang yang membidani lahirnya Arema pada 11 Agustus 1987 yang hingga kini kita banggakan. Bersama sang jenderal, hadir pula nama almarhum Lucky Acub Zainal, sang putra yang bersama Ovan Tobing turut berjasa dalam perkembangan sejarah Arema dan terbentuknya Aremania. Pemain, pengurus, hingga offisial tim yang keluar masuk selama klub ini eksis di kancah persepakbolaan Indonesia, meski sempat didera masalah dualisme, semuanya layak disebut pahlawan Arema.

Sebagai dirijen, sosok Yuli Sumpil, serta rekannya Kepet, yang saat ini sudah pensiun dari ‘profesi’ tertinggi di kalangan Aremania itu, juga layak mendapatkan predikat pahlawan Arema. Termasuk pula sang penabuh bass drum legendaris, Soekarno yang lebih kita kenal dengan nama Cak No. Pentolan-pentolan Korwil di Malang Raya dan luar Malang, serta sosok Harie Pandiono Paimin yang dalam perjalanan kerjanya keliling dunia masih menyempatkan diri mengibarkan bendera Arema sekaligus menyebarkan virus Salam Satu Jiwa ke semua benua. Semua pasti setuju jika mereka semua mendapatkan gelar terhormat sebagai pahlawan Arema.

Selain mereka, siapa Aremania yang tak kenal dengan sosok almarhum Ponidi alias Tembel. Ketua Korwil Aremania Stasiun ini meninggal dalam sebuah kecelakaan 24 Desember 2012 lalu. Almarhum yang dikenal militan dalam mengkoordinir tur-tur Aremania ini meregang nyawa setelah motor yang ditumpanginya menabrak truk jenis colt diesel yang diduga mogok di tengah Jalan Kuncoro, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, sekitar pukul 21.30 WIB. Ironisnya, peristiwa itu terjadi usai Tembel berziarah ke tempat kerabatnya di Desa Jatigui.

Ada pula sosok Fajar Widya Nugraha, Aremania dari Perum Dirgantara Permai yang tercatat meregang nyawa di Stadion Kanjuruhan 13 Juli 2005, kala mendukung Arema yang melakoni laga kandang Divisi Utama Liga Indonesia 2005 menjamu Persija Jakarta. Kemenangan 1-0 yang dipersembahkan oleh gol Emaleu Serge tak cukup menghapus duka meninggalnya Fajar yang terjatuh ke parit sedalam dua meter setelah pagar tribun ekonomi sebelah selatan VIP roboh. Pagar besi yang notabene baru selesai dibangun setahun sebelum kejadian itu tak mampu menahan beban Aremania yang membludak hingga mencapai 70 ribu hingga 80 ribu. Aremania yang yang melebihi kapasitas stadion yang hanya 45 ribu berusaha masuk ke sentelban dengan melompat pagar tribun, hingga peristiwa itu terjadi.

Nama Abdul Rochiem dan Mat Togel akan selalu terkenang di benak dan kenangan Aremania. Terlebih mereka yang kala itu menjadi saksi hidup Madiun Disaster. Sebuah tragedi maut yang merenggut nyawa keduanya terjadi di Stadion Wilis, venue yang semula akan menggelar laga Arema vs Persekabpas Pasuruan, pada 10 April 2005, yang akhirnya ditunda. Kala itu, kedua korban meninggal dalam perjalanan menuju stadion untuk mendukung Arema karena diserang oleh Sakera Mania, kelompok suporter Persekabpas. Selain keduanya, puluhan Aremania terluka parah akibat tragedi tersebut.

Kisah pilu berujung maut juga dialami Kosim, 21, warga Desa Tamansari, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, pada 2 Desember 2014. Karyawan sebuah minimarket di Desa Kepulungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan ini tewas dikeroyok oknum suporter yang mengenakan atribut serba hijau. Kosim meninggal di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), Malang dalam kondisi yang mengenaskan karena mendapat serangan di wajah.

Rupanya nyawa-nyawa yang gugur di ‘medan laga’ kala mendukung lima huruf, A, R, E, M, A, belum cukup. Yang terbaru, dua korban atas nama Slamet dan Eko Prasetyo yang meninggal di dua tempat berbeda lantaran dikeroyok suporter Surabaya United, saat hendak mendukung Arema di gelaran turnamen Piala Jenderal Sudirman, 19 Desember 2015 lalu. Eko, warga Pujon, meregang nyawa setelah bus bernopol BG 7935 RF yang ia tumpangi diserang puluhan oknum suporter di SPBU Jatisumo Ngampal Sragen sekitar pukul 04.45 WIB. Sementara korban kedua yang meninggal adalah Slamet, warga Pohgajih, Blitar yang diserang di batas kota Sragen, Dukuh Ngrandu, Nglorog, Sragen.

Dalam mendukung klub kesayangannya, Aremania datang dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Fakta ini membuat mereka memiliki perbedaan pandangan dalam memberikan dukungannya, termasuk soal pengorbanan bagi Arema. Sebagai pendukung setia, Aremania yang bisa berkorban harta ya mengorbankan hartanya, sementara yang bisa menyumbang doa ya silakan berdoa. Namun tak jarang, dalam beberapa kasus dan peristiwa, mereka sampai mengorbankan nyawa demi tegaknya bendera biru sebagai panji-panji kebesaran Arema. Ini bukan soal fanatisme sempit, melainkan sebuah konsekuensi untuk mempertahankan harga diri.

Selayaknya, gelar sebagai pahlawan Arema juga dilekatkan pada Aremania yang telah mengorbankan segalanya demi apa yang mereka sebut sebagai kebanggaan. Layaknya yang tersurat dalam sebuah lirik lagu berikut ini yang senantiasa berkumandang di stadion. “Jiwa kami, Nyawa kami, harta kami untuk Arema. Panas dan hujan tak kurasakan. Inilah kami, untukmu Arema.”

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.