BERBAGI
SMA Negeri 8 Malang
SMA Negeri 8 Malang
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Belajar selama tiga tahun di SMA Negeri 8 Malang sudah cukup membekas di hati dan pikiran penulis. Dari Sekolah Menengah Atas yang terletak di Jl. Veteran No. 37, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu, penulis tak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, namun juga kenangan yang hingga sekarang masih melekat manis di sudut ingatan.

Datang dari wilayah Kabupatan Malang, penulis bertekad merantau ke kota untuk mengenyam pendidikan tingkat atas di SMA Negeri 8 Malang pada tahun 2002. Sejak awal masuk, di hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa), penulis sudah didongengi betapa panjang perjalanan sekolah dengan nama keren Smarihasta tersebut oleh dewan guru dan kakak-kakak kelas. Betapa bangganya penulis saat mengetahui bahwa sekolah ini dulunya bernama PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan), yang pertama dan satu-satunya di Malang kala itu.

Hampir setiap hari melintas di depan pintu gerbang Smarihasta yang kondang sebagai sekolahnya pada artis dan model lokal itu, kenangan-kenangan tersebut muncul satu persatu dari alam bawah sadar penulis. Selain kemeriahan KSSH (Kiprah Seni SmariHasta) yang digeber setiap tahunnya, setidaknya ada tujuh hal yang hingga kini masih melekat kuat di ingatan tentang almamater tercinta yang ditinggalkan penulis di tahun 2005 silam tersebut.

1. Petugas Tatib

Saat baru masuk di kelas 1 (tadinya 1.2 dipindah ke 1.3 dengan tanpa alasan yang jelas), penulis masih ‘menangi’ masa dinas Ketua Petugas Tatib (Tata Tertib) yang dijabat oleh Bapak Suhardjito (almarhum). Di usia senjanya, pria paruh baya yang akrab disapa Mbah Djito itu masih tampak ‘bengis’ di mata para siswa SMA Negeri 8 Malang. Mbah Djito sering melakukan razia ke kelas-kelas di jam pelajaran. Setiap hari ada saja yang kena ‘ciduk’, karena tidak pakai dasi lah, sabuknya ketinggalan lah, bahkan hanya karena kukunya panjang (sudah mirip seperti razia anak SD). Apalagi ketika marak-maraknya peredaran CD blue film alias film porno di kalangan pelajar kala itu.

Begitu Mbah Djito pensiun, hampir semua penghuni kampus Smarihasta merasa lega dan bersyukur. Namun rasa suka cita mereka tak bertahan lama ketika sosok Bapak Nuriman diangkat menjadi Ketua Tatib baru, menggantikan Mbah Djito. Oleh para siswa, pria yang agak lebih muda dan enerjik dari Mbah Djito itu dijuluki Onizuka-nya Smarihasta. Sekedar catatan, Onizuka adalah karakter guru killer dalam sebuah manga Jepang yang tenar di tahun 2000-an. Sepak terjangnya lebih ‘ganas’ dari seniornya yang sudah pensiun. Salah satu aksinya yang legendaris bagi penulis dan para alumni lainnya, mungkin adalah sweeping di depan gerbang sekolah untuk menyegat para siswa yang telat maupun sengaja nelat. Mereka yang datang dengan atribut yang tak lengkap pun langsung ‘diseret’ menuju ruang Tatib di ujung doorlop (ruang terbuka yang menghubungkan pintu masuk utama gedung SMA Negeri 8 ke ruang guru hingga halaman belakang).

2. Sepatu Hitam

Di penghujung penulis menutup masa kelas 1-nya, tepatnya di semester akhir tahun pelajaran 2002-2003, ada fenomena aturan baru bagi para siswa Smarihasta. Para siswa SMA Negeri 8 Malang diwajibkan memakai sepatu hitam polos. Aturan anyar yang tanpa sosialisasi ini mendapat reaksi keras dari para penghuni kampus Smarihasta. Mereka, termasuk penulis secara pribadi, tidak setuju dengan aturan main dari petugas Tatib sekolah. Mayoritas siswa berpendapat, warna sepatu tidak berpengaruh terhadap encernya otak siswa Smarihasta.

Gelombang protes dari penghuni sekolah dari kelas 1 hingga kelas 3 tak digubris petugas Tatib. Mereka malah lebih gencar melakukan razia ke kelas-kelas. Apalagi ketika Bapak Nuriman diangkat menggantikan Bapak Suhardjito sebagai Ketua Petugas Tatib, mimpi buruk para siswa Smarihasta makin menjadi. Setiap hari selalu ada siswa yang kucing-kucingan dengan para petugas Tatib gara-gara memakai sepatu tidak hitam polos. Penulis sendiri yang kala itu memakai sepatu hitam dengan sol putih terpaksa menutup bagian terlarang itu dengan lakban hitam ketika sepatu tersebut tersandera di ruang Tatib.

3. Marwan Sang Legenda

Siswa SMA Negeri 8 Malang angkatan 2000-an pasti mengenal sosok Marwan. Hampir setiap hari, dia selalu datang ke kampus Smarihasta dengan berpakaian rapi, hem putih dilapisi rompi polos yang tiap harinya berganti warna, dipadukan dengan celana panjang kain berwarna gelap. Sebelum bel sekolah dibunyikan pada pukul 06.30 WIB, Marwan sudah berdiri di depan pintu masuk utama gedung sekolah.

Konon, dari cerita yang berkembang dari mulut ke mulut siswa seangkatan dan para senior, Marwan adalah alumni Smarihasta (ketika masih bernama PPSP dulu). Ada kisah yang menyebutkan bahwa dulunya dia merupakan siswa terbaik di Sekolah PPSP, hingga dikirim dalam pertukaran pelajar ke Jerman. Sepulang dari negeri tersebut, konon Marwan mengalami masalah kejiwaan. Kata orang awam, dia terlalu pintar, sampai-sampai kepintaran otaknya melebihi ambang normal. Marwan merasa masih sebagai siswa PPSP, meski sekolahnya itu dulu sudah bertahun-tahun berubah nama menjadi SMA Negeri 8. Uniknya, setiap anak-anak Smarihasta mengajaknya mengobrol perihal pelajaran, Marwan masih nyambung.

4. Lantai Dua

SMA Negeri 8 Malang baru membangun kelas di lantai dua sekitar semester genap kala penulis berada di kelas 1.3, tepatnya di pertengahan tahun ajaran 2002-2003. Mereka yang kelasnya berada di deretan depan, dekat taman sekolah terpaksa mengungsi lantaran atap kelasnya tengah ditingkat. Selain kelas 1.3, ada dua kelas lain yang tergusur sementara ke ruang Laboratorium IPA. Kebetulan kala itu penulis dan siswa kelas 1.3 lainnya mengungsi ke ruang Laboratorium Kimia di ujung doorlop dekat parkiran sepeda motor. Apesnya, ruangan Lab Kimia itu letaknya berada persis di seberang ruang petugas Tatib, yang hanya terpisahkan oleh doorlop.

Pembangunan lantai dua itu memakan waktu sekitar satu semester sehingga ketika kenaikan kelas memasuki tahun ajaran 2003-2004, ruang kelas anyar bisa difungsikan. Saat kenaikan kelas, penulis masuk ke kelas 2.5 (kala itu berlaku pengacakan siswa, sehingga siswa kelas 1.3 tidak selalu naik ke kelas 2.3). Sayangnya, kelas 2.5 sampai kelas 2.8 tidak ditempatkan di kelas baru seperti kelas 2.1 sampai 2.4. Satu ruangan di lantai dua yang baru saja dibangun itu rencana awalnya akan dijadikan sebuah ruangan khusus untuk Studio Musik. Namun kenyataannya, ruang tersebut oleh pihak sekolah difungsikan sebagai ruang karawitan. Hal ini akhirnya kontan membuat kecewa siswa Smarihasta, terutama yang sudah lama bermimpi sekolahnya memiliki ruang studio musik sendiri.

5. Andihka Pratama

Siapa orang Malang yang tak mengenal sosok Andhika Pratama? Artis multi talenta yang sudah merambah dunia entertainment Indonesia sebagai penyanyi, aktor, bintang iklan, dan presenter ini memang salah satu alumni SMA Negeri 8 Malang. Ketika wajahnya pertama kali muncul di layar kaca, sempat ada rasa tak menyangka jika itu Andhika yang pernah menjadi kakak kelas satu tingkat di atas penulis.

Dulu, Andhika dikenal dengan panggilan akrab Londo. Panggilan dari rekan-rekan satu angkatannya itu rasanya cocok disandang oleh Andhika. Pasalnya, saat masih menjadi siswa Smarihasta, presenter andalan SCTV dan Indosiar itu berpenampilan seperti bule dengan rambutnya yang pirang panjang belah tengah. Belum lagi kulitnya yang putih pucat menambah yakin penghuni sekolah yang berpapasan dengannya menyangka Andhika adalah seorang blasteran.

6. BK dan La Pilank

Ketika kuping kita mendengar nama BK, selalu saja pikiran kita, alumni SMA Negeri 8 Malang langsung tertuju pada ruangan kecil di sebelah ruang Tatib. Tapi kali ini penulis tidak ingin membahas para penghuni ruang Bimbingan Konseling tersebut. BK yang dimaksud di sini adalah Warung Bu Komari, sebuah warung punya ibu teman penulis yang terletak di belakang parkiran area sekolah, dekat dengan gedung SMP Negeri 4 Malang. Warung BK bukan sekedar warung makan biasa, karena di situlah tempat nongkrong penulis dan rekan-rekan seangkatan, dari kelas 2.5 hingga naik ke kelas 3 Bahasa. Menu karedok (kare+ndok) dan es vanila latte setia menemani membunuh waktu siang hingga sore hari sambil main poker (pakai kartu beneran, bukan lewat media online seperti sekarang).

Sementara itu, La Pilank adalah tempat ngumpul untuk makan siang atau sekedar minum es yang terletak di gang kecil di antara bangunan kampus Smarihasta dan SMK Negeri 2 Malang di sebelah baratnya. Sebelum ada Warung BK, tepatnya ketika penulis masih kelas 1.3, La Pilank-lah tempat nongkrong yang paling tenar. Satu yang istimewa di sini, dindingnya disediakan khusus untuk dicoret-coret oleh para siswa untuk meninggalkan kenangan, berupa gambar, tandatangan atau pun ucapan kesan dan pesan.

7. Balapan Liar

Selain terkenal sebagai sekolahnya artis dan model lokal, SMA Negeri 8 Malang dulu terkenal juga akan pebalap liarnya. Hampir setiap hari sepulang sekolah, senior-senior (kala itu penulis masih di kelas 2.5) selalu menggeber motor modivikasi masing-masing di seberang jalan depan sekolah. Para junior kelas 1 dan 2 pun ada yang terlibat, namun bisa dihitung dengan jari.

Dulu, persis di depan pintu gerbang Smarihasta ada U-turn alias belokan yang lumayan luas. Setiap ada yang balapan, para senior memblokir Jalan Veteran, mulai jalan depan gerbang Universitas Brawijaya sebelah timur (Bank BNI) hingga U-turn tersebut dijadikan arena kebut-kebutan ilegal. Kepopuleran motor ceper, modif dan balapan liar ini berlangsung hingga penulis lulus dari kelas 3 Bahasa pada akhir tahun ajaran 2004-2005 dengan NEM yang lumayan lah.

Sekarang, apa kabar kampus Smarihasta? Apakah kenangan-kenangan di atas masih tersimpan rapi di sana? Meski hampir tiap hari lewat di depan pintu gerbangnya, penulis hanya bisa menitipkan rindu pada plakat nama yang mengukir nama SMA Negeri 8 Malang di samping gerbang, tanpa ada waktu kesempatan luang untuk menjenguknya ke dalam area kampus Smarihasta tercinta.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.