BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Di Peniwen ada sebuah monumen yang cukup langka dan merupakan satu-satunya di Indonesia. Monumen Peniwen Affair dan catatan sejarah Palang Merah di Malang.

Monumen ini terletak di Peniwen, sebuah Desa di Kecamatan Kromengan, Malang. Monumen ini hanya adalah salah satu dari dua monumen Palang Merah di dunia yang sudah diakui oleh dunia Internasional. Monumen ini juga mendapat pengakuan dari PBB. UNESCO mengakui bahwa Peniwen Affair adalah warisan sejarah dunia dari era perang dunia.

Berdirinya monumen ini memang tragis, karena barawal dari serangan membabi-buta tentara Belanda di Agresi Militer Belanda kedua pada Sabtu, 19 Februari 1949 kepada 12 anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan masyarakat.

Simak Juga: Kisah Perawat Dari Jakarta Di Medan Pertempuran Malang Selatan

Kisah ini berawal pada bulan Desember 1948, yaitu saat Belanda dan Tentara Indonesia melakukan kontak senjata di beberapa tempat. Belanda yang mencari tentara Indonesia akhirnya masuk ke Peniwen pada bulan Februari 1949. Peniwen dianggap sebagai basis pertahanan tentara gerilyawan di wilayah Malang Selatan. Apalagi di sana juga terdapat balai pengobatan yang didirikan oleh PMR untuk membantu para pejuang.

Tentu ini membuat mereka melakukan segala cara untuk memberikan teror kepada masyarakat Peniwen, salah satunya adalah dengan melakukan pemerkosaan kepada perempuan desa.

Sekitar pukul 14.00, KNIL (Tentara Kerajaan Belanda) memasuki Rumah Pengobatan Panti Husodho (sekarang digunakan sebagai SD Peniwen). Mereka mengobrak-abrik tempat itu sekaligus memaksa penghuninya untuk keluar ruangan. Anggota PMR yang sebagian besar adalah pelajar disuruh berjongkok dengan posisi tangan ditaruh di belakang dengan ikatan kabel. Satu persatu anggota PMR itu akhirnya dieksekusi bersama dengan masyarakat setempat.

Peristiwa keji itu membuat Pendeta Martodipura geram, dirinya kemudian mengirimkan surat kepada jaringan gereja di Jawa Timur, surat itu kemudian ditembuskan ke gereja Nasional dan Internasional. Kecaman pun datang kepada Belanda akibat kejadian ini. Tentu saja membuat Belanda bertambah geram sehingga mereka kembali menyerbu Peniwen dan kali diarahkan artileri tempurnya kepada gereja-gereja.

Belanda semakin tertekan setelah dianggap melakukan kejahatan perang dengan menyerang anggota Palang Merah dan masyarakat sipil. Hingga akhirnya mereka mundur dari wilayah Peniwen dan semakin menjauh dari Indonesia setelah adanya Perjanjian Roem-Royen pada Mei 1949.

Nama yang gugur diabadikan di Monumen Peniwen, mereka adalah Slamet Ponidjo Inswihardjo, JW Paindong, Suyono Inswihardjo, Wiyarno, Roby Andris, Kodori, Matsaid, Said, Sowan, Sugiyanto, Nakrowi, dan Soedono. (http://seragampmi.com/)
Nama yang gugur diabadikan di Monumen Peniwen, mereka adalah Slamet Ponidjo Inswihardjo, JW Paindong, Suyono Inswihardjo, Wiyarno, Roby Andris, Kodori, Matsaid, Said, Sowan, Sugiyanto, Nakrowi, dan Soedono. (http://seragampmi.com/)

Monumen Peniwen hadir karena usulan dari Bupati Malang, Edy Slamet. Monumen itu dibuat di depan lokasi penguburan anggota PMR dan penduduk setempat yang gugur.

Pendanaan pembuatan berasal dari AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), Bupati sendiri, dan masyarakat Peniwen dengan peletakan batu pertama ada 11 Agustus 1983. Peresmian monumen itu dilakukan pada 10 November 1983 oleh Pengurus Besar PMI, Marsekal Muda Dr. Sutojo Sumadimedja. Kemudian pada 15 Januari 2011, di lokasi tempat terbunuhnya anggota PMR itu, diresmikan Jl. PMR oleh ketua PMI di saat itu, H. Jusuf Kalla.

Setiap tanggal 19 Februari, Monumen ini selalu ramai dengan anggota PMI dari berbagai tempat. Mereka nyekar¬†untuk melakukan do’a mengenang perjuangan PMR di masa itu. Sementara di tanggal 16 Agustus, penduduk setempat juga menggelar do’a serta memperingati Kemerdekaan Indonesia di sana.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.