BERBAGI
Rute yang dilalui Hayam Wuruk saat kembali ke Keraton Majapahit menurut pupuh 55 (Sidomulyo, 2007 : 120)
Rute yang dilalui Hayam Wuruk saat kembali ke Keraton Majapahit menurut pupuh 55 (Sidomulyo, 2007 : 120)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Lawang adalah salah satu dari 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. Konon, nama Lawang diambil karena merupakan terjemahan bahasa Indonesia yang berarti pintu masuk ke Malang.

Kecamatan ini memiliki luas wilayah 68,23 km2, dengan wilayah administratif yang terbagi dalam 10 Desa dan 2 Kelurahan.

Sejak zaman kuno, Lawang memang merupakan tempat yang sejuk dan nyaman. Topologi wilayahnya yang berupa bukit dan berada di kaki Gunung Arjuno membuat wilayah ini di jaman kuno juga dijadikan destinasi untuk menginap.

Dikutip dari laman prasastishinta, dikatakan jika di kitab kuno kerajaan Majapahit memang tidak menyebutkan nama ‘Lawang’ namun daerah tersebut disebut melalui nama-nama yang dulu pernah berada di Lawang.

Rute Perjalanan Hayam Wuruk tahun 1359 M, yang dilaporkan Mpu Prapanca dalam Nagarakretagama (Sidomulyo, 2007 : xiv)
Rute Perjalanan Hayam Wuruk tahun 1359 M, yang dilaporkan Mpu Prapanca dalam Nagarakretagama (Sidomulyo, 2007 : xiv)

Nagarakretagama, sebuah karya yang punya judul asli Deśawarnana yang artinya Sejarah Desa‐Desa karya Prapañca menyebut sejumlah wilayah yang berdasar hasil identifikasi adalah berada di kecamatan Lawang sekarang. Nagarakretagama pupuh 55 menyebutkan :

Krama šubhakãla mangkat ahawan banu hangêt I banir muwah talijungan, amgil i wêdhwawêdwan irikang dina mahãwan I kûwarahã ri cêlong, mwang i dadamar garantang i pagêr talaga pahanangan têkekha dinunung.

Terjemahannya menurut Sidomulyo adalah :

….ia berangkat melalui Banu Hangêt, Banir, dan Talijungan, bermalam di Wêdhwa-wêdwan. Pada hari berikut melewati Kûwarahã dan Cêlong, serta Dadamar, Garantang, Pagêr Talaga dan pahanangan.

Sementara terjemahan Slamet Muljana:

….tatkala subkala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir, dan Talijungan. Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar. Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai di situ perjalanan beliau

Kitab Nagarakretagama
Kitab Nagarakretagama

Selain penyebutan wilayah di Lawang muncul kembali dalam Pararaton, sebuah kitab yang membahas runtuhnya Singosari karena diserang oleh Raja Jayakatwang dari Gelang-gelang (Daha atau Kediri dalam buku sejarah). Teks Pararaton berbunyi :

Sanjata kang saka loring Tumapěl wong Daha kang alaala, tunggul kalawan tatabuhan pěnuh, rusak deҫa saka loring Tumapěl, akeh atawan kanin kang amaměrangakěn. Sanjata Daha kang amarga lor mandeg ing Měměling.

Terjemahannya dengan penyesuaian sebagai berikut

Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang-orang yang tidak baik, bendera dan bunyi-bunyian penuh, rusaklah daerah sebelah utara Tumapel, mereka yang melawan banyak yang menderita luka. Tentara Daha yang melalui jalan utara itu berhenti di Memeling.

Poin bahwa tentara Daha berhenti di Memeling itu juga ada di dalam Kidung Harsawijaya. Memeling diidentifikasi sebagai dusun Meling di desa Bedali, 6 km di sebelah utara Singosari.

Rute yang dilalui Hayam Wuruk saat kembali ke Keraton Majapahit menurut pupuh 55 (Sidomulyo, 2007 : 120)
Rute yang dilalui Hayam Wuruk saat kembali ke Keraton Majapahit menurut pupuh 55
(Sidomulyo, 2007 : 120)

Dengan demikian, jalur pulang Hayam Wuruk dari Singosari ini ada dua analisis, yang pertama adalah mengikuti jalan Singosari-Lawang sekarang. Jika Banu Hangêt artinya adalah air panas, maka di jalur itu ada pemandian kuno di Dusun Polaman, dusun tetangga Meling. Jadi masih dalam satu desa, yaitu  desa Bedali.

Di Polaman juga masih banyak ditemukan batu-batuan yang diperkirakan membentuk candi di masa lalu. Juga terdapat sebuah gua yang diklaim sebagai tempat bertapa Ken Arok. Sayang Sumber Polaman airnya sudah tidak panas lagi sehingga analisis itu bisa jadi gagal.

Sementara untuk jalur kedua, Hayam Wuruk memilih jalur memutar ke wilayah barat karena memang jalan Singosari-Lawang belum ada. Di sana bakal bertemu dengan Candi Sumberawan, yang diceritakan sebagai tempat singgah Hayam Wuruk oleh penduduk setempat. Dengan asumsi air hangat, Candi Sumberawan memang lebih dekat dengan arti dari Banu Hangêt.

Dengan demikian, Lawang dulu adalah sebuah tempat yang masuk wilayah Kerajaan Singosari. Atau bisa jadi diwaktu Majapahit Singosari masuk wilayah Lawang.

Lawang di masa kuno sudah ada sejumlah peradaban. Hal ini dibuktikan dengan penyebutan nama wilayah oleh sejumlah teks-teks kuno.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.