BERBAGI
Mantan Arema di Final Piala Jenderal Sudirman
Mitra Kukar Juara Piala Jenderal Sudirman - Bola.com
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Arema, klub kebanggaan Malang Raya, memang terhenti di babak semifinal Piala Jenderal Sudirman. Namun tak lolos ke partai final yang digeber Minggu (24/1) malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, bukan berarti mereka tidak memiliki kebanggaan. Selain suporternya, Aremania merengkuh gelar kehormatan sebagai Suporter Terbaik Piala Jenderal Sudirman, empat orang mantan pemain Arema menghiasi pentas pamungkas gelaran turnamen yang mempertemukan Mitra Kukar dengan Semen Padang tersebut.

Tiga orang di antaranya bahkan membawa Mitra Kukar mengangkat trofi juara turnamen yang diselenggarakan oleh TNI dan Mahaka Sport dan Entertainment ini. Dari tiga pemain itu, dua orang bermain sebagai starter dan seorang lagi masuk dari bangku pemain cadangan. Sementara itu, di tim finalis lainnya, Semen Padang, terdapat seorang lagi pemain yang pernah mengenakan jersey biru kebanggaan Arema. Berikut ini daftar mantan pemain Arema di final Piala Jenderal Sudirman yang dimenangkan secara dramatis oleh Mitra Kukar dengan skor 2-1 itu.

1. Zulkifli Syukur (Mitra Kukar)

Zulkifli Syukur merupakan kekuatan utama Mitra Kukar di posisi bek sayap kanan. Pemain kelahiran Makassar ini dimainkan pelatih Jafri Sastra sejak menit awal sebagai pemain starter. Mengenakan jersey nomor 3, Zulkifli tak hanya bertahan, namun sesekali membantu serangan dari sisi sayap kanan dengan umpan-umpan silang mautnya ke arah kotak penalti Semen Padang.

Zulkifly Syukur - Ongisnade
Zulkifly Syukur – Ongisnade

Namun atraktifnya pemain kelahiran 3 Mei 1984 ini kemudian sering dimanfaatkan oleh barisan sayap Semen Padang. Zulkifli pun menjadi titik lemah tim berjuluk Naga Mekes ketika Semen Padang mampu unggul 1-0 di menit 33′. Sebuah serbuan Semen Padang di rusuk kanan pertahanan Mitra Kukar dibiarkannya sehingga Irsyad Maulana dengan leluasa mengirim umpan cungkil manis yang langsung disundul Adi Nugroho. Malang bagi Zulkifli yang harus ditarik keluar digantikan Michael Orah sebelum laga berakhir lantaran cederanya kambuh di menit 75.

Pemain 32 tahun ini pernah lama membela Arema. Datang dari Persmin Minahasa, Zulkifli bergabung dengan skuat Singo Edan di musim 2008-2009. Pemain yang mengawali karir junior di PSM Makassar itu menjadi bagian kesuksesan Arema merengkuh gelar juara Indonesia Super League (ISL) 2009-2010 dan runner-up pada musim berikutnya.

2. Hendra Ridwan (Mitra Kukar)

Sama halnya dengan Zulkifli, Hendra Ridwan juga diturunkan di partai final Piala Jenderal Sudirman melawan Semen Padang sebagai pemain inti. Pemain yang juga berasal dari Makassar ini menjadi tandem bagi Rizky Pellu di lapangan tengah Mitra Kukar.

Hendra Ridwan - Ongisnade
Hendra Ridwan – Ongisnade

Hendra yang sejatinya bukan pilihan utama pelatih Jafri Sastra dimainkan menggantikan gelandang andalan Bayu Pradana yang berhalangan bermain. Sejak menit awal ketika wasit Thoriq Alkatiri membunyikan peluitnya, duet Hendra-Pellu kesulitan menembus pertahanan Semen Padang yang digalang sejak lapangan tengah oleh Yu Hyun-Ko. Namun setelah gelandang asal Korea itu diganjar kartu merah, permainan klub asal Kalimantan Timur itu mulai berkembang.

Hendra datang ke Arema dari Persmin Minahasa di musim 2008-2009 bersama Zulkifli Syukur. Namun gelandang kelahiran 1 Desember 1985 ini sempat hengkang ke Persipura Jayapura saat Arema menjadi juara ISL 2009-2010. Setelah di putaran pertama musim 2010-2011 bermain untuk tim kampung halamannya, PSM Makassar, Hendra kamudian kembali berseragam Arema di paruh musim kedua.

3. Muhammad Bachtiar (Mitra Kukar)

Muhammad Bachtiar bermain di partai final dari bangku cadangan. Pemain asli Kutai Kartanegara ini baru masuk di babak kedua kala timnya tengah mengejar ketertinggalan dari Semen Padang. Sebagai gelandang, masuknya Bachtiar diharapkan bisa menambah ancaman di lini tengah sepeninggal gelandang Semen Padang Yu Hyun-Ko yang diusir wasit dengan kartu merah.

Muhammad Bahtiar - Ongisnade
Muhammad Bahtiar – Ongisnade

Strategi pelatih Jafri Sastra ini berhasil, karena sejak keluarnya Hyun-Ko, Mitra Kukar mendominasi lini tengah. Masuknya pemain kelahiran 26 November 1987 ini dinilai efektif dan menjadi kunci kemenangan Mitra Kukar 2-1 di partai final tersebut.

Sama halnya dengan Zulkifli Syukur dan Hendra Ridwan, Bachtiar juga datang ke Arema di musim 2008-2009. Hanya saja, pemain 29 tahun ini didatangkan manajemen Singo Edan dari Persipura Jayapura. Hanya semusim, Bactiar kemudian hengkang ke Bontang FC di musim di mana Arema menjadi kampiun ISL 2009-2010.

4. Irsyad Maulana (Semen Padang)

Di partai final, Irsyad Maulana bermain untuk Semen Padang dari bangku pemain cadangan. Winger enerjik asli Padang itu menggantikan Alwi Slamat di menit ketujuh. Masuknya Irsyad diharapkan bisa makin menghidupkan serangan-serangan tim berjuluk Kabau Sirah itu ke jantung pertahanan Mitra Kukar.

Irsyad Maulana - Wearemania
Irsyad Maulana – Wearemania

Alhasil, di menit 33′, pemain yang identik dengan nomor punggung 88 ini berhasil memukau dengan kiriman umpan terukurnya yang langsung ditanduk dengan kepala oleh Adi Nugroho yang membawa Semen Padang unggul sementara 1-0. Beberapa set piece yang diambil Irsyad juga nyaris menggandakan keunggulan bagi tim pujaan Spartacks itu sepanjang babak pertama.

Pemain kelahiran 27 September 1993 itu datang ke Arema di musim 2012-2013 bersama gerbong pemain eks Pelita Jaya di bawah arahan pelatih Rahmad Darmawan. Sepanjang dua musim berkostum Arema, Irsyad sama sekali belum pernah mempersembahkan gelar juara liga, hingga akhirnya pulang kampung dan bermain di Semen Padang di awal musim 2015 lalu demi dekat dengan keluarganya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.