BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Publik dunia maya heboh dengan Jembatan Magdeburg di Jerman, yaitu sebuah jembatan untuk mengalirkan air sungai. Namun, tahukah Anda di Malang, ada jembatan serupa yang yaitu Jembatan Air Bululawang. Bahkan Jembatan Air Bululawang ini ada lebih dulu dibandingkan di Magdeburg.

Dulu, wilayah Bululawang adalah daerah yang cukup vital buat Pemerintah Kolonial Belanda, disana terdapat Pabrik Gula Krebet yang punya jalur lori di wilayah kabupaten. Selain itu, wilayah yang berada di sisi tenggara Kota Malang ini juga dilewati jalur trem Malang Stoomtram Maatschappij yang membawa hasil bumi ataupun gula ke kota.

Jembatan Magdeburg di Jerman | amusingplanet.com
Jembatan Magdeburg di Jerman, sekilas memang mirip dengan Jembatan Air Bululawang | amusingplanet.com

Air yang merupakan kebutuhan vital bagi daerah pertanian dan ladang di Bululawang harus tetap dialirkan meskipun ada jurang. Sehingga salah satu tujuan dari jembatan air ini adalah untuk mengalirkan air sungai yang deras. Karena bisa jadi eman apabila jatuh ke jurang yang juga ada sungainya. Sehinggga agar air tidak hilang maka Pemerintah Kolonial Belanda membangun jembatan penghubung.

Tak banyak yang tahu lokasi jembatan ini bahkan beberapa warga Bululawang pun juga tidak banyak yang tahu. Padahal untuk menuju ke lokasinya sangat mudah, yaitu berada di 500 meter sebelah timur Pasar Bululawang, lebih tepatnya jika Anda dari jalur provinsi (jalur bis) maka di pertigaan Masjid Sabilit Taqba langsung belok ke kiri. Dan dari sana perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki.

Masjid Sabilit Taqwa belok ke arah kiri | Foto: Faris Montis
Masjid Sabilit Taqwa belok ke arah kiri | Foto: Faris Montis

Jembatan ini membentang dengan panjang sekitar 100 meter dan lebar kurang lebih tiga meter, jembatan yang kerap disebut talang air oleh warga sekitar ini berdiri kokoh. Konon, adanya talang air ini adalah yang pertama dari dua buah tempat di Indonesia. Jembatan air selain di Bululawang ada di Brebes Jawa Tengah. (Edit: Seorang kawan kemudian mengingatkan jika di Malang juga ada jembatan air serupa, jumlahnya ada dua lagi yaitu di Talang Jabon dan Talang Bandulan)

Keunikan lain adalah bangunan ini disusun tidak menggunakan batu kali, namun jika dilihat dengan seksama maka susunan tiang penyangganya yang berjumlah tiga buah adalah menggunakan batu bata, dan tetap kokoh hingga saat ini. Usia jembatan ini kurang lebih sudah sekitar 100 tahun.

Jembatan Air Bululawang tiang penyangganya dari batu bata
Jembatan Air Bululawang tiang penyangganya dari batu bata | Foto: danubudi.web.

Warga sekitar banyak memanfaatkan sungai yang alirnya lumayan bersih ini. Selain untuk saluran irigasi di sawah-sawah, juga digunakan melakukan bersih-bersih dan mandi. Saat siang hari, banyak ditemui anak-anak sekolah yang mandi di sana.

Aliran sungainya termasuk deras dengan tinggi se-pinggang orang dewasa. Di sisi kiri dan kanan sungai buatan itu dibangun jalan setapak yang cukup dilewati satu orang saja. Namun, terkadang di tepi jembatan itu digunakan untuk bersepeda, tentunya banyak dilakukan oleh warga lokal yang biasanya melewatinya.

Warga lokal biasa melewati Jembatan Air Bululawan ini dengan menggunakan sepeda | Foto: danubudi.web
Warga lokal biasa melewati Jembatan Air Bululawang ini dengan menggunakan sepeda | Foto: danubudi.web

Untuk pemanfaatan sebagai lokasi wisata, sejauh ini belum dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Malang. Sehingga Jembatan Air Bululawang ini hanya menjadi sebuah tempat peninggalan belanda yang pemanfaatannya untuk keperluan warga sekitar.  Namun, jika Anda punya waktu luang, tiada salahnya untuk berkunjung kesana.

(Foto Header: danubudi.web)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.