BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Salah satu fasilitas publik yang kini sudah tidak lagi terpakai karena ketinggalan jaman adalah telepon umum coin (TUC). Padahal, di Kota Malang telepon umum yang menggunakan koin ini jumlahnya mencapai 3000-an unit.

Seiring perkembangan jaman, komunikasi dengan menggunakan TUC sudah banyak ditinggalkan. Saat ini di Malang hanya tersisa ratusan saja, kebanyakan berlokasi di dekat sekolahan yang kerap digunakan oleh anak-anak sekolah untuk menelpon orang tuanya karena di sekolahannya dilarang membawa alat komunikasi.

Pada periode 1980 hingga 2000-an, telepon koin sangat luar biasa manfaatnya. Saat tidak semua orang punya telepon rumah atau PSTN (public switch telephone network, keberadaan telpon umum koin menjadi senjata untuk untuk menhubunginya. Terkadang, beberapa pemuda di tahun itu juga sering menghubungi pujaan hatinya melalui TUC. Terkadang, saat menggunakan TUC, terjadi antrian yang lumayan lama.

Pendapatan dari TUC juga tak bisa diharapkan. Telkom menyebutkan, jika pada masa kejayaannya di era 1990-an, satu unit TUC bisa menghasilkan minimum Rp 50 ribu per tiga hari dengan koin hanya Rp 100.  Bandingkan dengan saat ini, dimana satu unit TUC mendapatkan penghasilan Rp 5 ribu hingga Rp 15 ribu. Itu pun untuk durasi waktu per 10 hari hingga satu bulan. Minimum koin ynag harus dimasukkan sejumlah Rp 500. | Public Marketing Telkom Wilayah Telekomunikasi (Witel) Jatim Selatan Liesangu Elisabeth

Operasional telepon umum ini sangat mudah. Cukup memasukkan koin rupiah, bisa Rp 100, Rp 500, atau Rp 1.000, maka telepon bisa difungsikan. Telepon umum juga bisa dioperasionalkan dengan voucher elektrik. Anda sudah bisa tersambung ratusan kilometer dengan sanak keluarga hingga relasi.

Bagi pemuda di Malang, ada semacam cara untuk melakukan pengiritan menggunakan telpon ini. Cara yang paling fenomenal adalah melubangi koin dan mengikatnya dengan benang. Triknya adalah saat dimasukkan, gagang telepon diambil dan saat bunyi ‘krek’ segera tarik tali itu. Cara ini dianggap jitu. Untuk yang menggunakan voucher atau kartu, cara yang paling umum adalah mengisolasi lubang di kartu telepon sehingga pulsa yang terbaca di telepon masih penuh.

“Dulu, telepon umum ini digunakan untuk belajar nelpon. Biasanya nomornya acak saja, biasanya latihannya menggunakan nomor plang yang ada di pinggir jalan dan kita telpon dan saat diangkat kita tutup lagi, rasanya puas bisa belajar cara menelpon,” terang Muhammad Haris, warga Bareng yang di pasarnya terdapat telepon.

Saat ini, TUC popularitasnya sudah benar-benar disalip ponsel yang lebih praktis dan bisa dibawa kemana saja, namun keberadaanya yang tetap kokoh di Malang tetap menjadi kenangan yang indah bagi siapa saja pemakainya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.