BERBAGI
Nasi Rawon Pecel Malang di Rawon Nguling via arumsilviani.blogspot.com
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Depot Rawon Nguling merupakan kuliner ikonik di Malang karena tak hanya bisa memesan rawon biasa atau rawon yang seperti pada umumnya, namun di sini terdapat menu yang bernama Rawon Dhengkul. Dengan kuah yang bercita rasa unik dan sedap dilengkapi dengan daging yang cukup besar membuat kita ketagihan makan rawon di sini.

Baca juga: Menikmati Cita Rasa Rawon Nguling

Namun tak banyak yang tahu bagaimana suasana Depot Rawon Nguling pada tahun 1928, bagaimana ya kira-kira? Sebelumnya kita lihat terlebih dahulu bangunan Depot Rawon Nguling yang berlokasi di Jalan Zainal Arifin Nomor 62, Kota Malang hingga saat ini:

Depot Rawon Nguling dari depan via boombastis.com
Depot Rawon Nguling dari depan via boombastis.com

Namun bagaimana suasana pada tahun 1920-an? Tepatnya pada tahun 1928, bangunan yang akhirnya ditempati Depot Rawon Nguling ini rupanya kompleks hiburan bernama gedung Flora. Jika sekarang kita hanya bisa melihat pertokoan biasa, dahulu di komplek ini terdapat fasilitas hiburan seperti Biljart Room, barber shop, dan toko-toko makanan.

Gedung Flora merupakan sebuah gedung bioskop, lebih dikenal dengan istilah Fora Cinema. Gedung ini berdiri di saat gedung-gedung bioskop lawas lainnya menjamur di berbagai sudut kota seperti Atrium Theater, Emma Theater,  Globe Theater, Roxy Theater dan masih banyak lagi lainnya.

Begini lah suasana salah satu fasilitas di Gedung Flora, Biljart Room:

photo via boombastis.com
photo via boombastis.com

Namun sejak merdeka bangunan ini menjadi alih fungsi namun masih tetap pada bangunan yang sama. Jika sebelumnya merupakan ‘Gedung Flora’ berubah menjadi Wijaya Kusuma dengan fungsi sebagai gedung kesenian.

Gedung Wijaya Kusuma ini begitu memiliki makna tersendiri bagi warga Malang, khususnya bagi para seniman yang menghabiskan waktunya selalu di sini. Sebuah gedung kesenian yang menjadi awal mula dari kelahiran bibit seni budaya, seni tradisi maupun modern. Dahulu di sinilah tempat mementaskan ludruk atau ketoprak. Tempat awal karir grup kesenian seperti Srimulat, Lokaria, dan Ketoprak Siswobudoyo. Bahkan gedung ini tetap kokoh hingga tahun 1970-an.

Namun akhirnya kawasan tersebut berubah menjadi kawasan pertokoan, Gedung Wijaya Kusuma akhirnya berubah menjadi Depot Rawon Nguling pada tahun 1982. Sejak kehilangan gedung kesenian yang bersejarah akhirnya para seniman memperjuangkan untuk adanya tempat pementasan kesenian lainnya hingga berdirilah Taman Krida Budaya di kawasan Soekarno-Hatta.

sumber foto: arumsilviani.blogspot.com

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.