BERBAGI
Ilustrasi Pemakaman Umum
Ilustrasi Pemakaman Umum
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Semakin bertambahnya penduduk memaksa lahan pemakaman di kota Malang semakin menyempit. Tak heran jika pemerintah Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang menerapkan aturan yang agak berbeda dengan tempat lainnya terkait pemakaman umum setempat.

Banyaknya kompleks perumahan yang dibangun menjadi salah satu masalah yang berimbas pada menyempitnya lahan kosong yang bisa digunakan untuk pemakaman umum. Karena tak ada langkah serius dari pemerintah Kota Malang menyikapi hal ini, Kelurahan Sumbersari pun mengambil tindakan serius. Pasalnya, jika dibiarkan, pertumbuhan pembangunan kompleks perumahan dewasa ini yang kian pesat bakal mengancam warga kehilangan lahan untuk lokasi pemakaman.

Pemerintah Kelurahan Sumbersari memberlakukan larangan menguburkan warga perumahan setempat di makam milik kelurahan. Jadi, jika ada warga perumahan yang meninggal harus dimakamkan di pemakaman milik pemerintah Kota Malang, yang tarifnya tergolong lebih mahal.

“Di sini ada tiga perumahan, dan kita melarang warga perumahan yang meninggal dimakamkan di sini,” ucap Sugeng Santoso, Ketua Lembaga Perberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Sumbersari, seperti yang dikutip dari Malangraya.web.id.

Masih menurut Sugeng, sebenarnya di wilayah Sumbersari ada tiga area makam. Namun, saat ini kondisinya sudah overload alias semakin menyempit. Tak heran jika pemerintah setempat memprioritaskan warga kampung ketimbang warga perumahan yang kebanyakan para pendatang.

Sugeng yakin, kebijakan pihaknya tersebut tidak melanggar aturan. Pria 51 tahun itu menyarankan agar setiap pengembang perumahan juga menyiapkan lahan pemakaman untuk warga perumahan yang meninggal.

Peraturan Daerah (Perda) Kota Malang menyebutkan, bahwa setiap pengembang diwajibkan untuk membangun makam seluas dua persen dari luas tanah yang mereka bangun untuk perumahan. Namun, mayoritas perumahan di Kota Malang tidak memiliki lahan pemakaman, sehingga ketika ada warganya yang meninggal harus ‘menumpang’ di pemakaman kampung.

Terkait masalah makam ini, pemerintah Kelurahan Sumbersari sebenarnya sudah beberapa kali mencoba melakukan diskusi dengan pihak pengembang perumahan. Tawaran untuk membayar 3 juta rupiah per keluarga jika ingin ‘menumpang’ makam milik kampung pun tidak digubris oleh para pengembang perumahan. Padahal, dana tersebut rencananya digunakan sebagai biaya perawatan makam.

Dengan adanya kebijakan ini, warga perumahan mau tak mau harus rela membayar mahal agar bisa mendapatkan kavling tanah di pemakaman umum milik Pemkot Malang jika meninggal. Konon, untuk satu liang lahat, keluarga ahli waris dikenakan biaya hingga 1,7 juta rupiah. Tarif ini dipatok oleh para penggali kubur. Bahkan uniknya, mereka siap membuatkan makam palsu untuk mereka yang telah memesan tanah agar tak ditempati oleh orang lain. Ada-ada saja ya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.