BERBAGI
Dua rombong sempol, dan dijamin rasanya berbeda | Foto: Instagram
Dua rombong sempol, dan dijamin rasanya berbeda | Foto: Instagram
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Saat ini, warga Malang Raya ketagihan makanan ringan yang bernama sempol. Jajanan baru tapi lama ini mulai melejit akhir-akhir ini dan banyak mangkal di tempat keramaian.

Banyak versi tentang asal muasalnya. Jika di Kota Malang baru marak pada beberapa bulan belakangan, namun penulis dan juga mungkin Aremania yang pernah datang ke Stadion Kanjuruhan sudah mengenal makanan tersebut sejak tahun lalu. Ya, jajanan sederhana ini berasal dari Kabupaten Malang. Saat penulis melakukan telisik pada pedagang di Kanjuruhan, mereka ada yang menjawab jika jajanan ini berasal dari Gondanglegi dan ada pula yang menyatakan berasal dari Pagak karena ada Desa Sempol di sana.

Entah siapa yang benar, namun dari literatur yang kami punyai, ada jajanan sejenis yang berada di kawasan Jawa Tengah. Namanya adalah sempolan dan sejak dulu sudah ada sebelum sempol di Malang melejit.

“Jajanan ini asalnya dari Gondanglegi, tetapi kebanyakan pedagang di sini (Stadion Kanjuruhan) membuat sendiri. Awalnya sih karena terinspirasi dengan pedagang sebelumnya yang dagangannya sangat laris sehingga kita ikut membuatnya, dan alhamdulillah juga laris,” kata pedagang sempol yang mengaku bernama Mahmudi.

Jajanan ini seperti campuran dari daging ayam atau ikan yang dicampur dengan tepung kanji dan tepung terigu dengan tambahan bahan dan bumbu llain. Adonan itu dililitkan ke tusuk yang dibuat dari bambu yang punya panjang kurang lebih 15 hingga 20cm dan ke mudian direbus.

“Saya sendiri menggunakan bahan ikan tenggiri mas, agar rasanya bisa mirip dengan tempura,” lanjut Mahmudi.

Untuk menyajikannya, para pedagang menggorengnya dengan lebih dahulu dilumuri telur. Alat gorengnya juga unik karena menggunakan sebuah panci berukuran tanggung dengan banyak sekali minyak, mirip dengan penggorengan yang dimiliki oleh penjual Tempura. Sajian itu ditambahkan dengan bumbu cilok seperti saos cabe, saos tomat, kecap, dan bumbu kacang.

Sempol digoreng dengan menggunakan panci yang diisi banyak minyak goreng   | Foto: Instagram
Sempol digoreng dengan menggunakan panci yang diisi banyak minyak goreng | Foto: Instagram

Menurut Mahmudi, dulu awalnya penjual banyak yang setor di Gondanglegi, kemudian seiring berjalannya waktu mereka mencoba resepnya sendiri-sendiri. Karena itulah Penulis kerap menemui rasa yang sedikit berbeda dari satu sempol ke sempol lain. Kini, dengan keberadaan Sempol yang semakin membludak, membuat para pembeli punya lokasi favorit yang menurut mereka paling enak rasanya.

Harganya bervariasi, mulai dari Rp500 seperti di Stadion Kanjuruhan ataupun tempat keramaian lain di Malang. Atupun Rp1000 jika Anda berada di wilayah wisata Malang Raya. Sementara di Matos, makanan ini didapatkan dengan harga Rp2000 untuk tiga bijinya.

Maraknya sempol ini membuat pedagang cilok terjepit. Kebanyakan mereka menurut Mahmudi langsung berpindah haluan mengikuti jejaknya. Apalagi rombong dari cilok dan sempol ini seperti tidak ada bedanya dan hanya perlu sedikit modifikasi saja.

“Kalau Arema main bisa lebih dari 500 ribu, tetapi kalau tidak main saya biasa berdagang di sekolahan dengan keuntungan yang tidak sebanyak di Stadion, namun tetap lebih banyak dibandingkan saat berjualan cilok,” tutup Mahmudi.

Sudahkah Anda mencoba sempol?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.