BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Apakah Anda penasaran dengan kehidupan petinju yang tak lagi bergulat di ring tinju? Apakah mereka mendapat jaminan oleh Negara karena menjadi atlit yang dibanggakan? Mungkin seorang mantan petinju yang pernah meraih kejuaran nasional yang saat ini tinggal di Malang bisa menjadi jawaban dari rasa penasaran Anda.

Bila melalui Jalan Mayjend Sungkono Gang 2 Nomor 62 Kedungkandang, Kota Malang, Anda akan melihat papan nama berwarna hijau tua cukup mencolok degan tulisan Klinik Pijat Puspita. Siapa sangka, rumah yang bercat oranye, di dalam gang sempit dan tidak ada halamannya ini merupakan pemberian dari Menpora Andi Mallarangeng pada tahun 2010 kepada mantan pemain tinju yang hampir saja mampu menjadi juara OPBF (Oriental and Pacific Boxing Federation).

Siapakah dia? Ya Minto Hadi, yang sejak SMA telah menggeluti dunia tinju hingga ada di puncak sampai akhirnya sekarang ada di sebuah rumah sederhana untuk memijat. Ada apa dengan Minto Hadi?

Bermula saat SMA Minto Hadi begitu menyukai pertandingan tinju, bahkan ia memilliki idolanya sendiri, yaitu Elyas Pical, petinju legendaris Indonesia. Saat kelas 2 SMA, ia bergabung dengan Sasana Kumintir, Jember dan mau tidak mau harus tidak menyelesaikan pendidikan SMA-nya karena padatnya latihan yang dijalani.

Minto Hadi langsung memulai pertandingan profesional tanpa ikut di level amatir, pertandingan pertamanya pada Agustus 1986, ia melawan petinju loka Jember, dalam enam ronde, ia yang masih berusia 18 tahun mampu memenangkan angka mutlak. Sejak saat itu karirnya kian naik perlahan-lahan.

Berlanjut pada Oktober 1991, Minto telah berada di bawah naungan sasana legendaris Akas Boxing Camp, Probolinggo. Saat itu ia telah menjadi juara kelas terbang 50,8 kg versi KTI (Komisi Tinju Indonesia). Akhirnya ia pun memperoleh sabung bergengsi dari petinju Sasana Manggala Jakarta, Ringgo Hasan Lalubun. Kemenangan TKO pada ronde 11 tersebut sekaligus menghabiskan kehidupannya sebagai petinju Akas pertama yang menjadi juara nasional.

Ia pun mampu mempertahankan sabuk tersebut, namun malang nasibnya, badan yang kuat itu tak bernasib sama dengan matanya. Kemampuan melihatnya semakin kabur, namun ia tetap memaksakan kehendak dalam melawan Jack Jawa (sasana Tronsco Jakarta) di Ambon pada Desemer 1993. Bukannya mendapatkan jutaan rupiah, ia harus menggunakan uang hasil pertandingan yang lalu-lalu untuk mengobati matanya. Tak kunjung sembuh, tahun 1995 Minto kehilangan kemampuan melihat seutuhnya.

Minto sempat merasa Tuhan tidak adil, bahkan ia menceraikan kedua istrinya pada 1995, selain itu ia juga sempat berencana untuk mengakhiri hidupnya lebih cepat. Namun, berkat pengajian da’i sejuta umat Zainuddin MZ di radio, ia mendapatkan banyak pencerahan hingga ia memutuskan berhijrah di Malang dengan bisikan untuk mulai memijat saat ia telah mempasrahkan semuanya kepada Allah. Ia pun berhijrah ke Malang dan mengikuti kursus memijat di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra, Janti, kota Malang sejak 2003 hingga 2006.

Sejak saat itu lah Minto tak peduli lagi dengan materi, ia memijat karena ibadah, ia tak mematok harga. Ada yang membayarnya Rp20.000, bahkan ada juga yang membayar Rp300.000. Jika sedang sepi ia hanya mendapatkan satu pelanggan, namun tak jarang ia juga mendapatkan pelanggan lima dalam sehari.

Sejak 2007 kehidupannya berubah, ia membuka klinik piat pertamanya di Arjowinangun. Lalu pindah ke Lesanpuro selama dua tahun dan akhirnya menetap di rumahnya saat ini yang merupakan bantuan dari Menpora pada Februari 2010.

Terlepas dari kehidupan yang telah didapatkan Minto Hadi dan sempat merasa terpuruk, saat ini Minto telah menghadapi kehidupannya yang lebih membahagiakan saat ini. Namun hal tersebut tak akan membuat Minto Hadi terus berhenti untuk mendoakan kesehatannya, demi melihat anak-anaknya yang semakin hari semakin dewasa.

sumber foto: indramufarendra.wordpress.com

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.