BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Malang Film Festival (MAFI Fest) telah berkiprah selama dua belas tahun di dunia apresiasi film pendek dengan tema yang berbeda setiap tahunnya. Kali ini, MAFI Fest mengusung tema ‘keluarga’ dengan ikon toples. Mulai dari poster maupun video publikasinya, MAFI Fest konsisten menampilkan ikonnya yang unik ini.

Tema ‘keluarga’ dan ikon toples menjadi harapan agar bisa mempertemukan komunitas-komunitas se-Indonesia untuk berada dalam satu wadah dan saling menceritakan tentang perkembangan komunitas dan juga film daerah di Malang Film Festival. Sehingga MAFI Fest menjadi wadah juga bagi anak bangsa untuk terus berkarya dan berkompetisi dalam film pendek baik fiksi pendek maupun dokumenter pendek.

Jangkauan yang luas, yakni se-Indonesia, MAFI Fest memperkenalkan diri ke berbagai kota di Indonesia melalui roadshow luar kota, seperti Bali, Jakarta, Solo, Surabaya, Kediri, Blitar dan Malang. Antusiasme MAFI Fest rupanya begitu positif, sejak 1 November- 14 Februari MAFI Fest 2016 menyelenggarakan open entry karya dan menerima sebanyak 69 film fiksi pelajar, 148 film fiksi mahasiswa, 28 film dokumenter mahasiswa, 33 film dokumenter pelajar dengan total 278 film pendek dari seluruh Indonesia. Tahun ini jumlah karya yang masuk mengalami peningkatan sebanyak 40%.

Dari 278 film pendek yang masuk, akan ada empat nominasi film terbaik. Maka dari itu MAFI Fest menghadirkan enam juri untuk menyeleksi karya film dan mencari yang terbaik. Keenam juri yang dihadirkan yakni Jason Iskandar, Taufan Agustian, Akbar Yumni, Adrian Jonathan, Budi Irawan dan Astu Prasidya.

Adrian Jonathan, salah satu juri di MAFI Fest 2016, kritikus film yang menjadi bagian dari Cinema Poetica.
Adrian Jonathan, salah satu juri di MAFI Fest 2016, kritikus film yang menjadi bagian dari Cinema Poetica. Credit: sophiamega

“Kalau mau lihat film Indonesia, lihat film pendeknya, jangan lihat film panjangnya. Semoga penonton bisa menikmati wajah Indonesia yang sebenarnya di sini (MAFI Fest), yang tidak akan ditemukan di bioskop,” ujar Adrian Jonathan saat konferensi pers, Rabu (06/04).

Dari begitu banyaknya film yang masuk, Adrian Jonathan mengungkapkan bahwa masih menemukan cerita yang cenderung foto copy. Ia masih menemukan film Korea atau Amerika Serikat yang dibuat menjadi Indonesia, filmmaker menggunakan pakem-pakem di Amerika yang ‘di-Indonesia-kan’.

“Sekarang untuk masalah teknis anak muda sudah selesai. Tapi yang menjadi masalah sekarang, teknis udah kelar, tapi bagaimana yang lain? Kan film tidak sekadar kamera, suara dan editing yang bagus. Kita bicara cerita, sikap politik yang memang tidak bisa dipelajari dalam jangka waktu dekat. Indonesia kan spesifik, unik, memiliki cara pandang yang berbeda. Ya semoga anak muda Indonesia lebih berani berekspresi,” tambah Adrian Jonathan mengenai tantangan anak muda dalam membuat film saat ini.

Selain program kompetisi, MAFI Fest juga menyelenggarakan program non-kompetisi yakni Film Pembuka “Ilalang, Ingin Hilang Waktu Siang”, distribusi film pendek “Raketti Films”, Eagle Institue Films “Ksatria Penakluk Ombak”, special screening “Wasis”, public lecture, sesi malangan, Gala Premiere Sinau Dokumenter, Gala Premuere “Produksi Bersama KINE Klub UMM Ke-13”, klinik kritik, publisis film dan emu komunitas, film penutup “Semalam Anak Kita Pulang”.

Begitu banyak agenda yang ada di MAFI Fest, agenda lebih lengkapnya bisa Anda dapatkan di malangfilmfestival.com atau agenda di bawah ini:

Agenda Malang Film Festival 2016.
Agenda Malang Film Festival 2016.

Majunya bangsa tak hanya dilihat dari ekonomi atau politiknya saja, namun karya dan kreativitas anak mudanya yang juga mampu menjadi tolak ukur. Dengan adanya MAFI Fest 2016 ini semoga antusiasme anak muda Indonesia menjadi lebih positif dan karyanya semakin berkualitas, berkarakter dan diapresiasi baik oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.