BERBAGI
Buku 'Ini Budi' kelas 1 dan kelas 3 SD
Buku 'Ini Budi' kelas 2 dan kelas 3 SD
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Jika Anda bersekolah SD di era 80-an hingga 90-an, pasti sangat familier dengan sampul buku Bahasa Indonesia diatas. Buku yang terdiri dari tiga macam setiap jenjang kelas ini sangat populer karena melatih siswa membaca.

‘Ini Ibu Budi, ini Ayah Budi, Wati kakak Budi, Iwan adik Budi’, Ketiga toko yang menjadi sampul buku diatas adalah Budi, Iwan, dan Wati yang diceritakan di dalam buku tersebut, sementara sang ayah bernama Pak Madi. Penulis sendiri sampai saat ini masih mengingat kata-kata legendaris tersebut. Ingatan yang sangat melekat terutama ketokah Budi.

Metode pembelajaran bahasa yang sekaligus menggunakan alat peraga, yang disebut Struktur Analitik Sintesis (SAS) Bahasa Indonesia tersebut dianggap menyenangkan bagi siswa SD pada masa itu sehingga membantu para murid menjadi lebih cepat bisa membaca.

Adanya buku dengan sistem SAS tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang gambaran guru kelas 1 Sekolah Dasar, dimana guru kelas 1 hingga 3 haruslah sabar karena mengajarkan cara membaca yang mengeja.

Di buku yang edisinya sampai kelas 3 tersebut bercerita tetang kehidupan sehari-hari, misalnya berkebun, berlibur, memetik jambu, menangkap anai-nai dan lain sebagainya. Toko Budi, Iwan, dan Wati pada kelas 4,5 dan 6 diganti menjadi Arman, Ima, dan Andi. Ketiganya juga bersaudara satu sama lain.

Buku-Ini-Budi4
Tokoh tersebut berganti di kelas 4,5, dan 6.

Dikutip dari laman Kompasiana, dikatakan jika pencipta buku tersebut bernama Rahmani Rauf, dirinya lahir di Padang, 5 Juni 1919. Siti Rahmani yang telah mengajar sebagai guru sejak tahun 1937 itu mengerjakan buku tersebut pada awal tahun 1980-an setelah ditawarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ketika ia sudah pensiun sebagai Kepala Sekolah SDN Tanah Abang 5,Jakarta Pusat, pada tahun 1976. Tawaran tersebut ia terima tanpa meminta bayaran, semata-mata karena kecintaannya pada dunia pendidikan.

Di tahun 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh menghapus sosok nama ‘Budi’ dan ungkapan yang mengikutinya seperti ‘ini Budi’, ‘ini ibu Budi’ atau ‘ini bapak Budi’ yang selama ini sudah melekat.

Cerita mengenai Budi juga bapak dan ibunya akan diganti dengan tokoh baru. Nuh mengatakan dalam Kurikulum 2013 akan diperkenalkan tokoh baru dalam buku SD. Tokoh baru ini wujud semangat menciptakan bahan ajar yang lebih dekat dan memuat pesan nasionalisme.

“Ada si Edo yang keriting, itu cerminan Papua. Ada si Siti yang berjilbab, ada si Dayu dari Bali, ada si Lani yang sipit, dia Chinese, ada juga si Beni orang Batak,” kata Nuh

Tokoh-tokoh tersebut akan hadir mulai dari buku kelas 1 sampai 6 SD secara berturut-turut. Untuk SD pada Kurikulum 2013 menggunakan metode tematik integratif. Perubahan kurikulum baru ini yang hampir merombak seluruh sistem pembelajaran dan buku SD.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.