BERBAGI
Sebuah pagi di Desa Kaumrejo Ngantan | Foto: caderabdul.wordpress.com
Sebuah pagi di Desa Kaumrejo Ngantan | Foto: caderabdul.wordpress.com
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Jika mendengar kata Ngantang, barangkali yang teringat adalah sebuah Waduk Selorejo yang tersohor. Atau mungkin teringat dengan jalan berkelok-kelok yang melewati bukit-bukit di Pujon yang cukup memacu adrenalin.

Ngantang sendiri memiliki mitos yang sangat unik, yaitu larangan menikah bagi masyarakat di tiga desa. Ada 13 desa yang ada di Kecamatan tersebut, namun mitos ini berlaku di tiga desa saja yaitu Desa Kaumrejo, Desa Sumberagung, dan Desa Tulungrejo.

Dikutip dari kecngantang.blogspot.co.id ketiga desa ini bisa di bilang titik fokusnya warga Ngantang, karena letak Kantor Camat, PLN, Kantor Pos, Kantor Polisi dan Pasar Ngantang berada di Desa Kaumrejo, Lapangan resmi Karaeng Galesong Ngantang, Taman Makam Pahlawan Moestadjab Ngantang dan SMP Negeri 01 Ngantang berada di Sumberagung, sedangkan Tulungrejo adalah desa terdekat yang berbatasan langsung dengan ke dua desa penting di Ngantang itu tanpa melalui hamparan sawah yang luas karena cuma berbatasan dengan +100m perkebunan kopi.

Gapura Desa Tulungrejo
Gapura Desa Tulungrejo

Mitos yang berlaku di desa ini adalah jika ada yang menikah antar desa karena akan terjadi musibah. Menurut tetua desa, menikah antar tiga desa itu sama saja dengan ‘nyebrang segoro getih’ atau ‘menyebrang lautan darah’ sebuah kalimat yang cukup horor di telinga.

Ada api pasti ada asap, ada mitos itu tentu saja ada sejarahnya. Untuk menelusuri tentang mitos itu tentu saja bukan perkara mudah, karena mayoritas penduduk lokal dahulu tidak mau membahas detail asal usul mitos tersebut. Jadi, menurut “orang tua”, dahulunya ketiga desa ini di huni oleh satu keluarga.

Saudara tertua tinggal di Desa Tulungrejo, kemudian adiknya tinggal di Desa Kaumrejo dan yang terakhir tinggal di Sumberagung. Karena Islam sudah lama sekali masuk wilayah Ngantang, sudah jelas bahwa tidak boleh menikahkan anak cucunya jika masih terikat tali persaudaraan. Ada juga yang mengatakan karena ketiga saudara itu telah terikat suatu perjanjian. Perjanjian dengan siapa dan isi dari perjanjian itu tidak ada yang tahu kebenarannya.

Kisah ini memang belum sepenuhnya benar karena belum ada bukti, bahkan saat ini banyak yang tetap menikahkan anaknya yang berasal dari tiga desa ini, namun pernikahan itu dilalui dengan ritual khusus.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.