BERBAGI
Tradisi Manten Kucing di Malang Selatan - Indonesia.org
Tradisi Manten Kucing di Malang Selatan - Indonesia.org
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Masyarakat Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang memiliki sebuah tradisi unik yang dikenal dengan nama Manten Kucing atau Mantu Kucing. Tradisi ini merupakan sebuah ritual kuno masyarakat setempat yang sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka hidup dan turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Sumberejo. Secara harfiyah, Manten Kucing berarti menikahkan dua ekor kucing, jantan dan betina.

Tradisi Manten Kucing dimaksudkan untuk meminta kepada Sang Pencipta agar mau menurunkan hujan. Tradisi ini tidak diadakan setiap tahun, tetapi biasanya hanya diadakan saat terjadi musim kemarau yang panjang. Umumnya tradisi ini dilaksanakan jika hujan tidak kunjung tiba hingga akhir bulan Oktober, sehingga warga kesulitan mendapatkan pasokan air. Selain sudah menjadi sebuah tradisi, manten kucing ini juga menjadi budaya lokal yang ingin tetap dilestarikan oleh warga setempat.

Asal mula kapan dilakukannya tradisi ini belum jelas. Tapi, yang jelas tradisi manten kucing ini sudah menjadi tradisi ratusan tahun silam. Warga pun sangat menjunjung nilai-nilai di dalamnya, meski entah kenapa harus kucing yang diambil sebagai simbol ritual minta hujan ini. Tradisi ini masih dipegang teguh warga Desa Sumberejo hingga kini. Tradisi ini telah beberapa kali diadakan, di antaranya pada tahun 2004, 2007, dan yang terbaru pada 11 November 2014 lalu ketika terjadi paceklik panjang.

Tradisi Manten Kucing ini tidak jauh berbeda dengan upacara pengantin yang dilaksanakan manusia pada umumnya. Uniknya, ada pula prosesi lamaran sekaligus penentuan hari dan prosesi temu pengantinnya juga. Kala itu, prosesi lamaran dilaksanakan oleh sesepuh Dusun Krajan sebagai pihak pengantin kucing jantan. Sedangkan pengantin kucing betina bertempat di Dusun Sumberwangi yang masih termasuk Desa Sumberejo, yang diwakili oleh sesepuh wilayah setempat.

Seperti layaknya temu manten, kucing jantan diarak bersama-sama sejauh 1,5 km menuju tempat kucing betina berada. Arak-arakan pun dimulai dari balai Desa Sumberejo. Kucing jantan yang kebetulan diberi nama Raden Mas Minto Tirto telah bersiap untuk diarak. Si kucing jantan sendiri dimasukkan ke dalam kandang bambu yang lantas diarak warga menuju Dusun Sumberwangi. Aneka hiasan kertas menghiasi kandang si jantan yang digotong menggunakan tandu, dan dinaungi payung. Ubo rampe dipikul para pria menuju Sumber Kaliputih (Sumber Ubalan).

Tabuhan alat musik jidor yang dibunyikan para pengiring pengantin pun mengiringi prosesi arak-arakan ini. Berbagai kesenian lainnya juga turut mengiringi, seperti drumband, warokan, leang-leong, dan jaranan.

Tak kalah dengan prosesi pernikahan manusia, dalam tradisi Manten Kucing ini warga juga membawa seserahan, yang biasanya berupa buah pisang, kelapa, petai, dan yang terpenting membawa beras dan lauknya. Kembang mayang sebagai simbol keperawanan pun dibawa di barisan terdepan warga untuk melengkapi tradisi unik ini.

Perjalanan arak-arakan ini tak hanya menarik warga setempat untuk menonton, tetapi juga warga luar desa. Bahkan, banyak juga dari mereka yang turut terlibat dalam rombongan arak-arakan yang menyemut. Setelah menempuh jarak 1,5 kilometer, iring-iringan manten kucing jantan ini pun tiba di Sumber Kaliputih, Dusun Sumberwangi. Di sana mempelai kucing betina bersama puluhan orang sudah berkumpul menanti kedatangan rombongan kucing jantan. Umbul-umbul warna merah dan putih dikibarkan sebagai tanda penyambutan.

Sang kucing betina yang kebetulan diberi nama Riwayati menanti di seberang Sumber Kaliputih. Dia berada dalam sebuah kandang berhias yang dipikul beberapa orang. Sama dengan rombongan mempelai kucing jantan, rombongan pengantin kucing betina juga membawa penjor dan kembar mayang layaknya pasangan pengantin baru. Warga yang hadir juga membawa kembang dan berbagai pernak-pernik pernikahan.

Proses temu manten pun dilakukan layaknya temu manten manusia. Terlebih dahulu para pengiring melakukan tukar menukar barang yang dibawa. Setelah itu, kedua kucing ini dikeluarkan dari kandang masing-masing. Dipimpin oleh pemuka desa, kucing dibawa ke tengah Sumber Kaliputih yang terlindung oleh pohon beringin. Selanjutnya, dengan mengucapkan kalimat Syahadat dan doa pernikahan, tubuh kedua kucing ini didekatkan. Lalu, tubuh sepasang kucing ini dicelupkan ke air, sebagai akhir akad nikah. Tidak lama kemudian, kedua kucing jantan dan betina ini pun dilepas. Tepuk tangan dan sorak-sorai warga mengiringi kedua kucing yang bingung berenang untuk melarikan diri dari air tersebut.

Prosesi manten kucing ini tidak berhenti sampai di situ. Sebab, tak lama kemudian, warga langsung melakukan kenduri di area sungai tersebut, layaknya hajatan pernikahan. Usai doa dibacakan oleh sesepuh desa, yang intinya warga terutama para petani meminta hujan kepada Tuhan, dilanjutkan makan bersama. Makanan dibagikan kepada siapa pun yang hadir.

Perangkat desa juga tak mau kalah dengan menyediakan hiburan rakyat berupa leang-leong, tari warok dan jaranan. Keberadaan kesenian tradisional ini pun menambah semarak prosesi pernikahan.

Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas begitu tradisi Manten Kucing tersebut selesai digelar di Sumber Kaliputih, Dusun Sumberwangi, hujan deras biasanya langsung mengguyur. Hujan yang turun ini tentu saja disambut suka cita oleh warga yang hadir. Hadirnya hujan tak tentu sesaat setelah dilaksanakannya tradisi Manten Kucing ini, namun biasanya paling lama satu minggu kemudian hujan sudah bisa dinikmati oleh warga setempat yang mayoritas bertani.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.