BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Di Malang ada sebuah tempat yang punya kisah historis yang menggambarkan perkembangan kota. Salah satunya adalah komplek Makam Ki Ageng Gribig.

Makam Ki Ageng Gribing atau yang bernama asli Wasibagno Timur atau ada yang menyebutkan Syekh Wasihatno ini, terdapat di Jalan Ki Ageng Gribing, Madyopuro, Kedung Kadang. Di sana adalah sebuah kompleks pemakaman dimana selain Ki Ageng Gribig juga terdapat Makam Bupati Malang sebelumnya.

Dari cerita masyarakat sekitar, Beliau putra dari Pengeran Kedawung yang juga salah seorang keturunan Lembu Niroto, pemilik panembahan Bromo. Dikutip dari blog waliullahforever, dikatakan jika Lembu Niroto sendiri adalah putra ketiga dari Raja Brawijaya XI yang memerintah Majapahit pada 1466-1478. Jadi Ki Ageng Gribig itu cicit Raja Brawijaya XI. Ki Ageng Gribig dikenal sebagai seorang ulama yang tersohor di Malang pada tahun 1650, yang merupakan salah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga.

Konon, cikal bakal Malang berasal darinya. Di saat itu dia diperintahkan gurunya untuk mengabdikan ilmu agama. Sampailah dia di sebuah kawasan hutan yang kemudian di babat dan ditempatinya. Hutan itu kini dinamai Malang, nama tersebut berasal dari adanya Gunung Buring dan deretan gunung yang melintang di bagian kiri dan kanan. Ki Ageng Gribig ini sangat terkenal karena juga membuat Desar Madyopuro, Sekarpuro dan Lesanpuro yang kebetulan berdekatan. Jalur jalanan di sana yang menghubungkan Pakis hingga Gondanglegi konon adalah sebuah jalur kuno penyebaran agama islam di wilayah Malang.

Sebenarnya banyak versi tentang Malang itu sendiri, namun versi ini dipercaya oleh Bupati Malang R.A.A Notodiningrat. Tidak heran dirinyalah yang membangun tempat peristirahatan terakhir itu untuk Ki Ageng Gribig dan untuk dirinya sendiri dan keluarganya suatu saat nanti. Kini, di kompleks itu ada makam dirinya dan 26 keluarga dekat, dan enam kerabat jauh.

Di sebelah makam Ki Ageng Gribig terdapat musola yang menurut juru kunci di sana adalah musola yang digunakan untuk berdakwah. Selain Musola juga ada Masjid yang kerap digunakan pengunjung.

Kawasan makam Ki Ageng Gribing tidak pernah sepi dari pengunjung. Kebanyakan dari mereka adalah para peziarah yang ingin mendoakan wali dengan harap mendapatkan karomah. Untuk masuk ke sana peziarah harus menemui juru kunci. Di sebelah pintu gerbang makam sudah disiapkan sebuah bel agar peziarah tidak kesulitan menemui juru kunci.

Untuk menuju ke sana tidak sulit karena posisi kompleks pemakaman ini berada di Jalan Ki Ageng Gribig di Kedung Kandang. Ancer-ancernya adalah ada Masjid Ki Ageng Gribig dan di jalan tersebut kompleksnya tidak jauh yaitu masuk di Gang II.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.