BERBAGI
Lokomitif SS1300 yang menjadi penarik kereta Vlugge Vijf
Lokomitif SS1300 yang menjadi penarik kereta Vlugge Vijf
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Jalur kereta api Surabaya-Malang dulu pernah ada kereta ekspress atau cepat. Bahkan jarak tempuhnya mencapai 90 km/jam. Kereta itu bernama Vlugge Vijf.

Pada tahun 1900-an, jalur kereta Surabaya-Malang dan sebaliknya cukup ramai, di tahun itu jarak 96km yang membentang pada kedua kota bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih empat jam.

Lamanya perjalanan ini dikarenakan jalur dari Bangil ke Lawang terbilang sangat menanjak, jalur sepanjang 35km tersebut menanjak dari ketinggian sembilan hingga mencapai 526 meter di atas permukaan laut. Tingkat kemiringan menjadi gradian 21‰ (per-mil). Sehingga lokomotif seri SS200 hingga SS400 tidak cukup untuk membuatnya lebih cepat.

SS (Staatsspoorwegen) atau perusahaan kereta di Hindia Belanda terus mencoba meningkatkan kecepatan tempuh keretanya agar bisa bersaing dengan kebutuhan masyarakat. Bisa dikatakan jika SS ingin menciptakan kereta cepat dari Malang ke Surabaya dan sebaliknya, karena itu mereka mulai memikirkan bagaimana cara menaklukan jalur Bangil-Lawang yang terbilang terjal.

Lokomotif seri C11 (atau bisa juga C12) menarik sebuah kereta sebuah perjalanan inspeksi tahun 1890an, melintas di jembatan Simping di Sentul, Lawang | Foto: https://sepurwagen.wordpress.com/
Lokomotif seri C11 (atau bisa juga C12) menarik sebuah kereta sebuah perjalanan inspeksi tahun 1890an, melintas di jembatan Simping di Sentul, Lawang | Foto: sepurwagen.wordpress.com

Dikutip dari laman sepurwagen, SS mengujicobakan lokomotif cepat nomor SS1300 di lintas Malang-Surabaya. Dari ujicoba itu, lokomotif seberat 75 ton tersebut mampu menarik empat kereta dengan beban sebesar 100 ton di kemiringan 21‰ dengan kecepatan laju 75 km/jam. Sementara di jalur datar kecepatan kereta mencapai 90km/jam.

1 November 1934 kereta cepat yang dinamakan Vlugge Vijf yang berarti Ekspres Lima karena terdapat lima trip perhari. Jika berhenti di Stasiun Lawang, akan ada kendaraan atau bis yang mengantarkan ke Batu yang sejak dulu menjadi lokasi favorit untuk beristirahat.

‘Setelah capek bekerja seminggu dapat beristirahat pada akhir minggu di taman dingin dan kembali esok hari di kantor sebelum jam 8 dengan mudah’, demikian bunyi dari iklan kereta cepat itu.

Kereta cepat itu sangat laris sehingga pada 1 Mei 1935 menambah okupansi penumpangnya menjadi enam trip dengan satu trip facultatief (bisa ada jika dibutuhkan). Pada 1 November 1935 saat KA Nacht Expres Surabaya–Batavia diluncurkan, ditambahkan 1 trip lagi untuk persambungan di Surabaya.

SS terus melakukan inovasi, salah satunya adalah ujicoba lokomotif SS1300 yang hasilnya perjalanan Surabaya Malang bisa ditempuh dengan 1 jam 15 menit saja.

Dari hasil ujicoba itu, jalur kereta menjadi ramai hingga akhirnya SS pada 3 November 1938 memberikan jadwal baru dengan 12 trip dari Surabaya dan 13 trip dari Malang. Kecepatan kereta pun semakin hari juga bertambah karena sebelum tahun 1940-an kecepatan kereta sudah mencapai 90km/jam.

Kereta ekspres jalur Surabaya-Malang sempat vakum lama. Hingga akhirnya pada tahun 1971 kembali dihidupkan dengan nama Patas Tumapel yang mampu menempuh jarak 80 menit. Kemudian nama tersebut berganti menjadi Jatayu, Malang Express, Penataran Express dan terakhir Bima yang diperpanjang hingga Malang. Sayangnya setelah masa kereta api Jatayu, kereta ekspres di rute ini kian memudar dan belum mampu bersaing dengan jalan raya karena banyaknya faktor seperti kurang baiknya jalur Bangil–Malang, frekuensi dan jadwal yang sedikit atau tidak tepat dengan kebutuhan masyarakat.

Melihat kehebatan dan ramainya perjalanan kereta api Surabaya–Malang jaman itu, hanya ada satu pertanyaan: Dapatkah kini kereta api trayek Surabaya–Malang kembali berjaya dan benar-benar cepat seperti masa itu guna mengurangi beban jalan raya Surabaya–Malang yang kian padat?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.