BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Salah satu ajang seni dan budaya yang ada di Kota Malang yang kini ramai dibicarakan adalah kegiatan pada bulan Purnama di Candi Badut. Acara seni budaya itu bernama mBulan nDadari ri mBadut.

Acara yang dilakukan pada Jumat 22 April 2016 lalu adalah acara kedua setelah sebelumnya diadakan di bulan purnama pada Kamis 23 Maret lalu.

Seni di bulan purnama di mBulan nDadari ri Candi Badut
Seni di bulan purnama di mBulan nDadari ri Candi Badut

Acara yang digagas oleh Komunitas Malang Kultur tersebut bertujuan mempertemukan komunitas yang di di Malang yang berbasis seni, tradisi, dan ritual budaya dalam sebuah ruang apresiasi bersama untuk refleksi. Sehingga diharapkan menimbulkan dialog transformatif yang memperdayakan semua pihak berdasarkan nilai kesetaraan dan penghormatan.

Kegiatan kedua ini lebih ramai pengunjung, Adanya bulan, dan lampu yang samar di kegiatan itu membuat suasana begitu tenang dan khidmat. Di sebuah candi yang dijadikan panggung pertunjukkan terlihat jelas bulan purnama.

Acara yang dimulai jam 19.30 tersebut dibuka dengan tari Ngremo, kemudian dancer dan seni Bantengan. Setelah itu ada kidungan yang memberikan kritik sosial dari Cak Marsyam dengan perpaduan monolog, dilanjutkan dengan geguritan, gerak puisi, sendratari.

Ojo sambat, riko ojo ngawur cek gak nyusahno sanak saudara. Ojo dumeh dunyo, hukum dienggak-enggokno,” kata Cak Marsyam dalam monolognya.

Kemudian di akhir acara ada orasi budaya dari Prof. Djoko Saryono yang menerangkan tentang identitas sebuah seni. Dirinya juga menerangkan jika di bulan purnama pada masyarakat zaman dulu menjadi tempat berkumpul di malam hari untuk melampiaskan seni dan budaya. Sayang, kini bulan purnaman sudah dilupakan oleh banyak orang ketika listrik sudah mulai masuk.

Adanya kegiatan ini menurut ketua pelaksana mBulan nDadari, Joko Umbar Warno karena perhatian masyarakat umum yang kurang terhadap kondisi candi. Karena itu, sebagai warga Karang Besuki dirinya mengajak rekan-rekannya untuk menghidupkan kembali kebudayaan yang menggunakan candi sebagai latar.

“Hasil pertemuan rutin dengan sekelompok masyarakat akhirnya terwujud kegiatan ini pada Maret lalu, dan kini bisa dilaksanakan lagi,” tegasnya.

Kelak, Joko berharap jika ajang ini bisa menjadi ajang apresiasi seni yang juga memberikan edukasi para pecinta seni di Malang Raya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.