BERBAGI
Andhika Pratama di Punk In Love
Andhika Pratama di Punk In Love
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Masih ingat dengan film fenomenal Punk In Love? Film yang menceritakan kisah seorang anak punk Malang yang berencana ke Jakarta bersama ketiga sahabatnya, untuk sekedar menyatakan cintanya pada sang kekasih yang akan dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tuanya itu cukup fenomenal. Terlebih salah satu pemerannya adalah sang putra daerah asli Malang, Andhika Pratama.

Dalam proses syuting film yang diproduseri oleh Raam Punjabi ini, total 28 hari Andhika berubah menjadi anak punk. Penampilan lulusan SMA Negeri 8 Malang itu benar-benar berubah total. Aktingnya cukup meyakinkan saat memerankan tokoh Yoji, anak punk teman Arok sang tokoh utama yang diperankan Vino G Bastian. Menariknya, sebuah fakta terkuak bahwa film yang diangkat dari kisah nyata ini, sejatinya tokoh Yoji awalnya tidak diperankan oleh Andhika.

“Sebenarnya tokoh Yoji itu ada dalam dunia nyata, dan seharusnya ia yang memerankan, tapi sayang ia telah meninggal lebih dulu,” terang suami Ussy Sulistyawati itu.

Andhika menjelaskan, Yoji adalah anak punk yang sekaligus menjadi talent kordinator yang bekerjasama dengan sang sutradara, Ody C Harahap dalam film Punk in Love. Sejatinya, film ini memang diangkat dari kisah nyata dirinya. Saat ditawari memerankan Yoji, Andhika mengaku sangat tertarik, karena perannya yang menantang.

“Saya ingin out of the box dari image yang udah menempel di diri saya sebagai pemain drama, dan saya ingin main di film yang perannya tidak biasa,” ujar Andhika.

Menurutnya, beberapa hal diakuinya cukup berat untuk dlakoni saat bermain dalam film ini. Dari awal sebelum syuting, untuk lebih mendalami karakter, Andhika bersama ketiga pemeran lainnya Vino G. Bastian (Arok), Yogi Finanda (Mojo), dan Aulia Sarah (Almira) sempat dites. Hal itu terlihat seperti saat mereka diturunkan di derah Tangerang dengan hanya dibekali 5.000 rupiah dan harus kembali ke daerah Gandaria, Jakarta Selatan. Pada saat reading pun, malamnya mereka wajib tidur di luar tanpa beralaskan apa pun. “Kesadisan” sang sutradara tak sampai di situ, karena siang harinya mereka harus mandi sinar matahari yang terik agar kulit menjadi lebih hitam. Menurut Ody, anak punk itu kulitnya tidak ada yang putih atau bersih, makanya mereka dijemur agar terlihat hitam dan dekil.

“Film ini memang sangat berat untuk mendalaminya, tapi justru ini tantangannya, dan berkat itu semua kita jadi lebih menyatu dan mengenal sesama pemain,” papar lelaki kelahiran Malang, 11 November 1986 tersebut.

Proses syuting pun tak kalah beratnya, karena mereka harus berpindah-pindah lokasi dari Jakarta ke Malang. Karena ini termasuk film petualangan, mereka harus berpindah ke beberapa daerah seperti Bromo, Blitar, Rembang, Lasem, Semarang, Solo, Cirebon, dan Cianjur dan kembali ke Jakarta lagi dengan menggunakan bus.

Berperan sebagai anak punk, otomatis Andhika harus rela rambutnya di-mohawk dan diwarnai pink, agar lebih menghayati. Ia juga harus berpikir lama untuk memutuskan ini. Awalnya, Andhika sempat merasa ragu, karena pada saat itu dirinya lebih suka punya rambut panjang. Tapi, lagi-lagi, menurutnya itu adalah sebuah tantangan yang harus dijalanin. Untungnya pula, presenter acara musik Inbox di SCTV ini tidak terikat kontrak dengan suatu produk apa pun yang berhubungan dengan rambut.

Berpenampilan dengan gaya rambut yang khas ini membuatnya menjadi lebih spesial dari pemain lainnya. Bukan berati dianakemaskan, namun karena ia butuh waktu khusus yang lebih lama untuk make-up rambutnya.

“Buat make-up rambut sendiri saja butuh beberapa jam, makanya saya kalao tidur miring biar rambutnya tidak rusak dan besok tidak perlu lama-lama buat make-up rambut doang,” kisahnya.

Selama ini, sepengetahuan Andhika, kriminal, brutal, tidak teratur, dan dipandang sebelah mata menjadi image yang melekat dalam sebuah komunitas maupun individu bernama punk. Sejatinya, lelaki berdarah Indonesia-Belanda ini setuju dengan hal tersebut. Namun, setelah menjalani syuting film Punk In Love, justru ia tidak menemukan segala sisi negatif komunitas atau individu yang dimaksud.

“Saya sempat kaget waktu syuting bareng anak punk asli. Justru, mereka sopan banget, malah melebihi orang biasa, sangat menghargai orang ketika berbicara dan mereka juga update dengan informasi yang sedang berkembang,” ujarnya dengan nada kagum.

“Menurut mereka anti kemapanan itu berarti bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung dengan orang lain.”

Yang membuat Andhika lebih tidak percaya lagi, di antara beberapa anak punk yang ditemuinya tersebut ada yang berprofesi sebagai lawyer, punya usaha tato, dan bahkan ada yang rajin membantu ibu-ibu arisan. Oleh karena itu, Andhika menganjurkan agar film ini banyak ditonton orang, untuk membuka mata penonton bahwa anak punk itu tidak seburuk yang dicapkan oleh kebanyakan orang. Jika anak-anak punk diberikan kesempatan untuk berkarya, karena mereka bukan kriminal atau berandal.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.