Maret 27, 2023
?>
Peninggalan Belanda di Kawasan Jalan Semarang (C) Academia.edu

Gerbang Universitas Negeri Malang di Jalan Semarang (C) Jalandikotamalang

Siapa yang menyangka, Jalan Semarang yang terletak Kecamatan Sumbersari pun menyimpan cuplikan sejarah Kota Malang. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa bangunan berarsitektur kolonial yang berdiri di jalan yang berada di kawasan Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Jalan Semarang membentang dari arah timur ke barat menghubungkan Jalan Jakarta dengan Jalan Surabaya. Meski bukan jalan besar, kawasan ini cukup ramai karena di ujung yang berpotongan langsung dengan Jalan Jakarta menjadi pintu gerbang utama UM mulai tahun 2009 silam. Sebagai akses masuk kampus, tentu jalan ini cukup ramai oleh lalu-lalang kendaraan bermotor para mahasiswa, terlebih di jam masuk dan pulang kampus.

Sebelum menjadi area kampus UM, kawasan Jalan Semarang yang awalnya lahan kosong disulap oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda menjadi kawasan pemukiman bagi para kaum menengah ke atas yang kebanyakan adalah para pemilik dan pengelola perkebunan. Meski bukan jalanan utama, kawasan ini hampir tak jauh berbeda dengan daerah Jalan Ijen, yang memang sengaja didisain oleh arsitek Ir. Herman Thomas Karsten sebagai salah satu kawasan elit di Kota Malang.

Perencanaan pembangunan pemukiman di kawasan Ijen dan sekitarnya, termasuk di Jalan Semarang didasari oleh tuntutan dan kebutuhan akan daerah hunian. Hal ini merupakan sebuah konsekuensi dari peningkatan jumlah penduduk Kota Malang yang berkembang pesat seiring dengan dibangunnya beberapa infrastruktur perkotaan maju, seperti jalan dan rel kereta api yang menghubungkan kota ini dengan kota-kota di sekitarnya.

Kota Malang sendiri mulai dikembangkan pemerintah Hindia-Belanda setelah Surabaya, sehingga terdapat perbedaan tipologi arsitektur antara kedua kota tersebut. Kebetulan, pada saat yang bersamaan, sekitar akhir tahun 1870-an hingga awal 1900-an, terdapat banyak arsitek muda dari Belanda dengan pemahaman dan konsep arsitektur yang berbeda dengan pendahulunya. Aliran ereka berkiblat pada Karsten yang pada abad 19 menggabungkan arsitektur Eropa dengan Arsitektur berbau Indisch, didasari oleh ideologi sosialis-demokrat yang sangat antikolonial. Aliran ini lebih banyak menggali potensi dan sumber-sumber budaya lokal. Beberapa rancangan lebih mengadapatasi keadaan alam sekitar, atau yang biasa disebut ‘Indische Empire’.

Peninggalan Belanda di Kawasan Jalan Semarang (C) Academia.edu
Peninggalan Belanda di Kawasan Jalan Semarang (C) Academia.edu

Perlu diketahui, adanya bangunan berbau kolonial dianggap sebagai bentuk hegemoni terhadap daerah jajahannya. Awalnya, orang Eropa yang bermukim di Kota Malang ingin menciptakan pemukiman seperti daerah asal mereka. Tak terlalu mengherankan jika di wilayah-wilayah strategis sebagai alur pengembangan kota, pada masa kolonial dibangun rumah-rumah dengan arsitektur Eropa, termasuk di Jalan Semarang.

Berbeda dengan Jalan Ijen yang termasuk jalan utama, rumah-rumah peninggalan Belanda di Jalan Semarang tidak terlalu banyak. Namun demikian, masih terlihat cukup mentereng, walaupun sudah mengalami beberapa penambahan di sana-sini. Sama halnya hunian di Jalan Ijen, Karsten pula lah yang turut merancang arsitektur rumah-rumah di daerah Jalan Semarang.

Dikutip dari laman academia.edu, Karsten menerapkan pembagian status sosial dalam rancangannya. Semakin besar rumah serta semakin tinggi suatu atap, maka semakin tinggi status sosialnya. Dari pengamatan, rumah-rumah peninggalan kolonial selalu menjorok ke dalam beberapa meter dari jalan. Di sekeliling rumah selalu terdapat pepohonan yang fungsinya untuk menghindari polusi. Halaman yang luas biasa difungsikan untuk tempat penyerapan air agar tidak terjadi banjir. Pohon asam dan trembesi mendominasi, karena pohon jenis tersebut memang sejak dahulu banyak dipakai Belanda, seperti yang ditanam di sepanjang Jalan Anyer – Panarukan, atas perintah Jend. Herman William Deandles. Di Jalan Semarang sendiri banyak dijumpai pohon asem dan trembesi yang usianya diperkirakan sudah puluhan tahun. Bangunan kolonial biasanya juga memiliki ciri khas banyak lubang-lubang serta atap yang tinggi sebagai sirkulasi udara di iklim tropis.

Awalnya, rumah-rumah tersebut dijadikan hunian para penguasa dari kaum Eropa, namun sejak kedatangan Jepang sekitar tahun 1942, rumah-rumah itu jatuh ke tangan penjajah Jepang yang memasuki Kota Malang dari arah Surabaya. Tentara Jepang yang jauh lebih kejam dari orang Belanda, memaksa warga Eropa yang tinggal di Malang segera meninggalkan kota agar terhindar dari pembunuhan tentara Jepang. Kemudian, pada tahun 1945, ketika Indonesia merdeka, maka berbagai aset perkebunan diambil alih rakyat Malang tanpa ganti rugi, termasuk rumah-rumah peninggalan Belanda tersebut. Tak sedikit dari rumah-rumah itu sekarang telah menjadi hak milik warga etnis Thionghoa yang tinggal di Malang. Pasalnya, mereka lah yang mampu membeli dengan harga mahal dari tangan pemilik sebelumnya.

Malang merupakan daerah dengan hawa yang sejuk karena terletak di ketinggian 450 m di atas permukaan laut. Letaknya yang dikelilingi Gunung Kawi, Gunung Arjuna, Gunung Semeru, dan Gunung Tengger membuat Malang menjadi daerah yang dirasa sangat nyaman untuk dijadikan hunian para kaum kolonial Belanda. Kota Malang mengalami perkembangan pesat ketika kekuatan kolonial Belanda menjadikan daerah ini sebagai pusat administrasi dan pengendalian sistem tanam paksa untuk kawasan Jawa Timur bagian selatan. Hal itu lah yang membuat Belanda memutuskan untuk membangun Malang sebagai kota hunian dan peristirahatan bagi warga Eropa. Tak heran jika di Jalan Semarang, dan beberapa kawasan lainnya di kota ini terdapat peninggalan kolonial Belanda berupa rumah kuno yang saat ini berpotensi menjadi wisata sejarah bagi turis asing.

?>