BERBAGI
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Pada tahun 1910-1914 dan masih terasa hingga tahun 1919, di Jawa Timur pernah terserang wabah pes, wabah yang membunuh puluhan ribu penduduk itu paling parah menyerang daerah Kabupaten Malang.

Pes adalah sebuah penyakit yang diawali dari hewan pengerat. Penyakit ini berasal dari enterobakteria YerseniaPestis yang utamanya berasal dari Tikus. Bakteri yang mematikan ini ditemukan oleh Alexander Yersin dan dokter Kitarso dari Jepang saat mereka menemukan basil di seekor tikus yang mati. Penyakit yang sebenarnya adalah penyakit hewan pengerat ini menyerang manusia dengan sebuah gigitan.

Wabah Pes pernah menyerang eropa pada abad 13, wabah yang menyerang melalui jalur perdagangan dengan tikus yang berada di kapal-kapal ini mampu membunuh seperempat penduduk eropa.

Awal Permulaan Wabah Pes

Pada tahun 1910, kondisi pangan di Jawa Timur memburuk seiring dengan kegagalan panen di sejumlah daerah. Pemerintah Kolonial Belanda kemudian mengambil keputusan untuk mengimpor beras dari Rangoon, Burma, dsb. Di awal November 1920, beras itu datang di pelabuhan Surabaya dan sialnya kapal-kapal dari negara lain itu juga berisi tikus yang kemudian menggigit salah satu pekerja pelabuhan. Gigitan itu menyebabkan sakit panas dengan kalenjar di pangkal paha membengkak. Namun, di saat itu tidak ada yang peduli karena ada urusan yang dianggap lebih penting dibandingkan menyelamatkan pekerja kapal.

Siapa sangka, sikap meremehkan itu berakibat fatal karena beras yang kemudian diangkut dengan menggunakan kereta api ke seluruh wilayah Jawa Timur dengan suplai terbesar di Malang. Jalur kereta apilah yang ditengarai menjadi penyebab utama wabah pes menyerang dengan mudah ke daerah pedalaman.

Pada November 1910, Turen menjadi daerah yang diketahui pertama. Sebanyak lima orang penderita meninggal dunia dan seminggu berikutnya bertambah tiga. Seperti viral di internet di masa sekarang, pes kemudian menyebar ke Singosari, Dampit, Kraksaan, Blimbing dan tentu saja kota Malang sendiri.

Tercatat 15 orang meninggal pada minggu pertama November 1910 di Singosari, 11 orang meninggal di Blimbing, 15 meninggal di Karangploso. Penduduk Kota Malang yang waktu itu berjumlah 28.573 juga diserang dalam waktu hampir bersamaan tewas dalam minggu pertama November sebanyak 22 orang meninggal. Serangan ini makin menjadi-jadi pada tahun berikutnya. Pada Februari 1911 sebanyak 35 orang tewas di Kota Malang.

Data yang dimuat di Weekblad Voor Indie 14 Mei 1911 memperlihatkan bahwa masa itu penderita demam tinggi pun dicurigai sebagai kasus pes. Dalam artikel itu tertera pada 5 April 1911 terdapat 80 penderita demam, 6 penderita pes dan 3 penderita pes meninggal. Dicatat juga angka kematian tikus sampai 1070 ekor. Hampir setiap hari ada yang meninggal. Yang terbanyak pada 30 April 1911, 47 orang penderita demam, 29 penderita pes, 10 pasien pes meninggal dan angka kematian tikus mencapai 43 ribu ekor. Tikus-tikus yang mati dibakar.

Wabah yang semakin ganas dari hari ke hari pun membuat pemerintah mengirim dr. de Vogel, inspektur kepala Burgerlijken Geneeskundige Dienst (BGD), ke Malang untuk mengumpulkan bukti dan menanggulangi penyakit ini. Ia mulai memeriksa daerah Batu dan Karangploso. Pada 3 April 1911 dikirim dr. de Haan, direktur Geneeskundige Laboratorium di Weltevreden, ke Malang untuk pemeriksaan darah pasien pes.

Beberapa koran pun juga mengkritik kebijakan pemerintah kolonial yang menganggap remeh akan hal itu dan menganggap sebagai penyakit malaria. Tetapi akhirnya pada September-Oktober 1910 akhirnya karena banyak perkampungan yang dilaporkan penduduknya tewas karena gejala penyakit pes, maka akhirnya ada kebijakan tidak boleh ada warga Malang yang keluar daerah baik itu Pribumi, Cina, Arab maupun Eropa.

Lalu pemerintah Belanda mengirim dr. van Loghem yang berpengalaman mengatasi wabah pes di India, menggantikan dr. de Haan ke Malang pada 23 Mei 1911. Atas permintaan dr. de Vogel, pemerintah kolonial menerjunkan calon dokter Jawa dari Stovia untuk menanggulangi penyakit pes di Malang ini. Bahkan seorang tokoh terkenal, dr. Cipto Mangunkusumo menawarkan diri untuk ikut membantu menanggulangi pes di Malang. Banyak dokter-dokter Eropa tidak berani turun langsung ke lapangan karena ketakutan tertular penyakit pes ini. Ia bersama para dokter pribumi seperti dr. Sutomo dan dr. Sudirman bekerja keras sebagai sukarelawan kemanusiaan yang ikut berjasa mengatasi wabah ini. Mereka turun langsung ke pelosok desa yang tak terjangkau dokter Eropa yang takut tertular.

Bersambung

Sumber:

  • Sebuah Catatan Wabah Pes di Kabupaten Malang
  • Pemberantasan Penyakit Pes di Malang, Syefri Luwis

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.