BERBAGI
Iwan Setyawan penulis novel 9 Summer 10 Autumn yang difilmkan pada 2013 - Lafatah
Iwan Setyawan penulis novel 9 Summer 10 Autumn yang difilmkan pada 2013 - Lafatah
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Iwan Setyawan sukses menulis novel berjudul 9 Summer 10 Autumn, yang kemudian difilmkan pada 2013 lalu. Kisah dalam novel dan film itu tak lain dan tak bukan, diambil dari perjalanan hidup si penulis.

Iwan terlahir dan hidup dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang sopir angkot yang hanya mencicipi pendidikan hingga kelas 2 SMP. Sementara ibunya bahkan tidak tamat SD. Hal tersebut yang memotivasi Iwan untuk sekolah setinggi mungkin.

Sang ayah sempat tidak mendukung keinginan Iwan, dan “memaksanya” untuk lebih mengutamakan kerja daripada sekolah. Sebab, menurutnya lebih baik jika Iwan membantu sang ayah mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Sementara itu ibunya yang tidak taman SD, digambarkan Iwan sebagai sosok yang mengajarinya bagaimana hidup sederhana yang sempurna. Iwan memiliki empat saudara perempuan yang disebutnya 4 pilar kokoh, dua orang kakak dan dua orang adik. Itulah salah satu alasan mengapa sang ayah sempat lebih setuju jika Iwan turut mencari nafkah. Sebab, dialah satu-satunya lelaki penerus tugas sang ayah jika kelak ia meninggal.

Satu-satunya mimpi sederhana yang tak muluk-muluk yang dimiliki oleh Iwan adalah memiliki kamar tidur sendiri, karena sang ayah tak punya cukup uang untuk membuatkan kamar yang layak untuk anak-anaknya. Rumahnya saja hanya berukuran enam kali tujuh meter, di mana ketujuh orang tersebut harus saling berbagi tempat untuk sekedar tidur.

“Saya selalu menginginkan sebuah kamar, bisa menutup pintunya dan mengarungi malam sendiri. Namun meminta kamar sendiri pada saat itu bukan hanya permintaan yang sangat bodoh, tapi juga pertanyaan yang tak berhati,” kata Iwan.

Lantaran sering batuk-batuk pada malam hari, ayahnya membuatkan Iwan ranjang sederhana dari bambu. Ranjang bambu ini ditempatkan di sudut ruang tamu, di dekat pintu dapur, di depan kamar orangtuanya. Ranjang bambu itu berukuran kira-kira 0,5 x 1,5 meter. Meski demikian, Iwan sudah sedikit terhibur oleh upaya dari sang ayah tersebut.

“Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran dan mencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar sayur,” imbuhnya.

Dengan keterbatasan biaya, Iwan akhirnya lulus SMA Negeri 1 Batu. Prestasi di sekolahnya membuat Iwan mendapatkan undangan khusus untuk melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Kabar itu disambut gembira oleh keluarganya, terutama sang ibu. Namun di sisi lain, Iwan galau memikirkan biaya kuliah yang harus ditanggung kedua orang tuanya. Tak ingin anak lelakinya kehilangan kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi, ayah dan ibu Iwan berdiskusi. Hasilnya, sang ayah rela menjual satu-satunya angkot yang selama puluhan tahun telah menghidupi keluarga ini dan akhirnya berganti profesi menjadi sopir truk.

Iwan diterima di Jurusan Statistika, Fakultas MIPA, salah satu jurusan favorit di IPB. Mereka yang berhasil menembus jurusan ini hanyalah mahasiswa yang memiliki nilai tinggi di ujian masuknya. Karena itu, menurut Iwan, tingkat persaingan di jurusan itu pun sangat ketat. Awalnya ia sempat grogi dan merasa tak yakin dengan kemampuannya sendiri.

“Setelah tingkat dua, persaingan menjadi semakin tajam dan tak sedikit mahasiswa yang harus mengulang atau drop-out. Aku mungkin salah satu siswa terbaik di Batu, tapi di sini aku menjadi sangat ‘kecil’ di tengah siswa berprestasi lainnya: siswa teladan nasional, finalis olimpiade matematika internasional, juara karya ilmiah nasional, dan sederet prestasi panjang lainnya,” ujar Iwan.

Dalam kegalauan hatinya itu sang ibu datang menenangkan. Sang ibu meminta Iwan untuk mencoba dulu, belajar yang rajin, dan jangan takut bersaing. Nasihat itu meyakinkannya menjalani proses dengan kerja keras dan melepaskan ketakutan tentang hasil yang didapat. Kegagalan atau pun keberhasilan sebuah proses adalah dimensi lain yang akan melahirkan pelajaran baru untuk menjalani proses selanjutnya. Alhasil, Iwan menyelesaikan kuliahnya dalam kurun waktu normal empat tahun. Bahkan ia menjadi lulusan terbaik di angkatan tahun 1997 tersebut.

Kisah Iwan menuju tangga kesuksesan dimulai setelah lulus dari kampus IPB. Begitu diwisuda, Iwan diterima bekerja di AC Nielsen Jakarta, sebagai data analyst selama dua tahun, lalu bekerja di Danareksa Research Institute (DRI). Berkarier di DRI lah yang membawa Iwan go internasional. Tawaran yang sulit dia tolak pun datang, ketika Nielsen International Research di New York, AS memintanya menjadi data processing executive.

Iwan sama sekali tak pernah bermimpi datang ke New York, terlebih mendapat kesempatan merajut karier di perusahaan multinasional di negara Paman Sam tersebut. Namun, berkat kerja keras dan ketekunannya, Iwan berhasil melampaui mimpinya sendiri.

Delapan tahun berkarier di Amerika, Iwan berhasil mencapai kedudukan tinggi sebagai Director Internal Client Management di Nielsen Consumer Research, New York. Hasil kerja keras dan doa kedua orang tua dan saudara-saudara perempuannya pun terbayar lunas.

Karena kerinduannya yang teramat dalam pada kampung halamannya, Batu, di tahun ke-10 (2010) Iwan memutuskan untuk berhenti dari perusahaan yang membesarkan namanya. Ia pun memilih kembali ke Indonesia. Saat ditanya orang mengenai alasannya meninggalkan kemapanan di New York, ternyata Iwan menjawab bahwa ia hanya ingin mewujudkan mimpi di masa kecilnya, yakni membangun sebuah kamar tidur kecil di rumahnya.

“Di sini, saya¬† ingin berterima kasih pada semua orang yang mendukung saya, dan saya ingin melakukan sesuatu yang touch people. Tak selamanya gemerlap lampu-lampu New York dapat mengobati kerinduan akan rumah kecil dan Tanah Airnya. Dan pada akhirnya, cinta keluargalah yang menyelamatkan semuanya,” pungkasnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.