BERBAGI
Gapura pintu masuk Taman Makam Asri Abadi (C) WIKIMAPIA
Gapura pintu masuk Taman Makam Asri Abadi (C) WIKIMAPIA
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Pemakaman mewah mungkin hanya bisa Anda lihat di kompleks pemakaman bagi warga keturunan Tionghoa saja. Ya, di kawasan Malang Utara terdapat Taman Makam Asri Abadi (TMAA) yang tercatat sebagai kompleks makam mewah dan modern di Jawa Timur.

Taman Makam Asri Abadi terletak di dua desa, yakni Desa Srigading dan Desa Sidodadi, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Taman makam ini diresmikan pada 11 November 2008 oleh Bupati Malang kala itu, Sujud Pribadi. Taman makam Tionghoa ini diprakarsai oleh Kelenteng Eng An Kiong Malang sejak kurun waktu tahun 2003.

Mulai terbatasnya lahan pemakaman etnis Tionghoa di wilayah Malang Raya melatarbelakangi pembangunan TMAA. Dari gagasan itu, selama lima tahun, terhitung sejak tahun 2003, pengurus kelenteng berjuang mati-matian membebaskan lahan di Desa Srigading dan Sidodadi, Kecamatan Lawang.

Perjuangan mereka terwujud, dengan tersedianya 50 hektar lahan yang membentang dari dari dataran rendah hingga perbukitan di dua desa tersebut. Lokasi ini dipilih karena dinilai cukup jauh dari hingar-bingar Kota Malang, sehingga diharapkan menimbulkan kedamaian bagi yang bersemayam dan keluarga duka yang berkunjung.

Konsep awal TMAA dibuat seperti pemakaman serupa di Kerawang bernama San Diego Hills. Nantinya diproyeksikan tumbuh menjadi wahana wisata dan pemakamanTionghoa termodern. Hal ini sesuai dengan arahan Bupati Sujud yang mengharapkan taman makam ini juga mampu mendongkrak ekonomi warga di dua desa, Srigading dan Sidodadi.

Pemakaman Tionghoa ini dilengkapi dengan sebuah gapura naga super klasik nan mewah. Pembangunannya konon menelan dana hingga dua miliar rupiah. Di hamparan 50 hektar lahan pemakaman ini terdapat 11 kelas areal pemakaman membujur dari dataran rendah hingga ke atas perbukitan Srigading. Untuk pembebasan lahannya sendiri membutuhkan dana hingga lebih dari 11 miliar rupiah.

Selain lahan pemakaman, di sini terdapat pula sebuah pagoda sembilan tingkat di puncak bukit tertinggi yang disebut rumah abu. Fungsinya untuk menyimpan sisa abu jenasah yang telah dilarung ke Pasir Putih di Situbondo. Untuk menuju pagoda ini dibuat jalan paving sepanjang tiga km senilai 700 juta rupiah.

Areal pemakaman yang digarap oleh arsitektur asal Semarang, Kwi Tong Hai itu, mampu menampung seribu lebih kapling makam. Kapling pemakaman ini dibandrol 500 ribu rupiah per meter untuk bagian bawah, dan tembus satu miliar per meter untuk lahan di bagian puncak bukit tertinggi.

Di taman makam ini juga tersedia enam tempat kremasi. Krematoriumnya didesain kontemporer, dengan peralatan kremasi mutakhir, proses dijamin lebih sempurna. Ada pula hall indoor dan outdoor lebar untuk pengunjung atau peziarah yang juga ingin beristirahat.

Pengelola juga menyediakan ahli fengsui yang siap melayani keluarga mendiang terkait berbagai bentuk macam bong yang diinginkan. Selain itu, disiapkan juga ahli ukir dan tukang batu yang berpengalaman dalam pembuatan makam.

Pihak pengelola ke depannya akan menyulap lahan TMAA sebagai ruang terbuka hijau yang baru di Malang utara. Konsep penghijauan itu didukung oleh lokasi TMAA yang dikeliling oleh pegunungan dan persawahan serta gemericik aliran sungai. Upaya reboisasi telah dilakukan dengan menanam bibit pepohonan untuk melindungi bong-bong Makam yang ditempatkan dalam desain artistik.

Akses jalan menuju TMAA sendiri sangat mudah dijangkau. Dari Kota Malang hanya butuh waktu sekitar satu jam saja. Lokasinya yang berada di sisi jalan utama Gempol-Malang pun semakin memudahkan keluarga mendiang yang hendak berziarah.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.