BERBAGI
Kartu iuran televisi dari Kampung Tanjung | Foto: Agus - Malang Djaman Lawas
Kartu iuran televisi dari Kampung Tanjung | Foto: Agus Akbar - Malang Djaman Lawas
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Televisi adalah barang mewah di tahun 90-an ke bawah, tidak semua orang bisa memilikinya. Karena barang mewah itulah dulu ada yang namanya iuran/pajak televisi.

Dulu di sebuah kampung penulis di kawasan Malang, sangat jarang sekali warga yang memiliki televisi. Piranti tersebut seperti menjadi sebuah simbol kemapanan keluarga di kampung karena hanya warga berada saja yang memilikinya dan terkadang digunakan ramai-ramai oleh tetangganya.

Pajak televisi sendiri adalah sebuah bentuk pajak yang dibebankan kepada masyarakat yang memiliki televisi. Karena saluran televisi swasta sudah bisa mencari iklan sendiri ada maka disebutkan jika iuran itu adalah untuk saluran TVRI. Dimana saat itu televisi milik pemerintah tersebut tidak memasang iklan.

Setiap satu bulan sekali petugas pajak yang menggunakan baju putih coklat mendatangi warga yang memiliki televisi. Caranya mendeteksinya cukup gampang karena di tahun tersebut stasiun transmisi atau relay dari pusat jauh maka digunakanlah antena UHF yang dijulurkan dengan bambu yang panjang. Siapa saja yang memiliki piranti tersebut dipastikan memiliki televisi.

Tidak gampang bagi petugas pajak untuk menarik uang dari warga, maklum tarikan 500 rupiah di zaman itu cukup memberatkan dengan perbandingan nilai tukar dolar sekitar 1500-an rupiah per-dollar (nilai tarikan iuran terlevisi semakin naik tiap tahun, hingga kemudian menyentuh angka 6000-an di tahun 1997 yang disesuaikan dengan ukuran televisi).

Cerita-cerita lucu pun terkadang ikut mengiringi bagaimana mengelabuhi petugas pajak yang datang. Ada yang menyembunyikan, ada yang menyatakan tidak pernah menonton TVRI, ada anak yang menyatakan ortunya tidak ada di rumah, dan lebih ekstrim lagi menyatakan televisi sudah dijual.

Bagi warga yang taat pajak, setiap kali sudah membayar akan diberikan sebuah tanda berupa materei yang ditanda tangani. Materei tersebut ada di sebuah kartu khusus yang masa edarnya selama satu tahun.

Seiring waktu, pajak televisi itupun sudah tidak ada. Para petugas penarik pajak yang biasanya seliweran di kampung juga tidak ada. Seolah mengikuti, kini pamor stasiun TVRI juga mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Di tahun 2004, pemerintah sempat mengusulkan adanya penarikan pajak lagi. Tetapi, karena banyaknya resistensi akhirnya kegiatan itu urung dilakukan dan kini televisi sudah tidak ada pajaknya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.